SidebarKanan
Sejarah

Membangun Cirebon dan Banten - [Bagian 01]

Kuatbaca

01 December 2022 11:57

Test

Menurut Sulendraningrat berdasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran). Sebab, di sana telah bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.

 

Sedangkan menurut pendapat lain, dikarenakan pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dan, dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon ini maka berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda: air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.

 

Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon dapat berkembang menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Cirebon juga menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

 

Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug serta sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) atau bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, para pendatang pun berdatangan untuk menetap dan mulai membentuk masyarakat baru di Desa Caruban.

 

Sedangkan kuwu atau kepala Desa Caruban yang pertama diangkat oleh masyarakat baru tersebut adalah Ki Gedeng Alang-alang, dan Raden Walansungsang, yang merupakan putra dari Prabu Siliwangi dengan Nyai Mas Subanglarang atau Subangkranjang, diangkat sebagai Pangraksabumi atau wakil kuwu. Sedangkan Nyai Subanglarang adalah putri dari Ki Gedeng Tapa. Selanjutnya, setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Raden Walasungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi kemudian diangkat menjadi kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

 

Di pelabuhan Muara Jati pula, Syekh Datuk Kahfi, Mubaligh asal Baghdad, mula-mula membangun pesantrennya. Ia bernama asli Idhafi Mahdi. Makamnya ada di satu komplek dengan makam Sunan Gunung Jati. Majelis pengajian beliau menjadi sangat terkenal karena didatangi kakak beradik, Nyai Rara Santang dan Kiyan Santang (Pangeran Walangsungsang --Cakrabuana).

 

Setelah Ki Gedeng Tapa wafat, Walangsungsang, cucunya, tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan sendiri di Cirebon. Tindakan Walangsungsang tidak mendapatkan reaksi keras dari kerajaan Sunda-Galuh karena pemerintahannya dinilai baik (Cirebon berkembang sebagai pelabuhan yang ramai) dan pembayaran upeti masih terus dilakukan. Bahkan, Walangsungsang justru diangkat sebagai Tumenggung dengan gelar Sri Mangana Cakrabuana. Ia tampil sebagai Tumenggung Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.

 

Setelah kedatangan Syekh Datuk Kahfi di Cirebon, menyusul pula seorang mubaligh Parsi yang menurut hikayat tradisional Sunda dan Jawa dikenal dengan nama Syekh Khaliqul Idrus. Namun, berbeda dengan Syekh Datuk Kahfi yang bermukim di Jawa bagian barat, Syekh Khaliqul Idrus mendarat dan bermukim di Jawa bagian tengah, tepatnya di Jepara.




Pada tahun 1463 M. Syarif Hidayatullah tiba di Cirebon. Waktu itu usianya sekitar 17-an tahun, dan menjadi siswa Padepokan Giri Amparan Jati. Ia lahir dari pernikahan Syarif Abdullah Maulana Huda, cucu Syekh Jumadil Kubro, dengan Nyai Rara Santang, anak dari Jayadewata (Sri Baduga Maharaja-Prabu Siliwangi) atau adik dari Tumenggung Cakrabuana (Kiyan Santang atau Walasungsang). Di tahun 1470 M, Syarif Hidayatullah mulai membuka majelis di Gunung Sembung.

 

Ketika pembangunan Masjid Agung Demak, turut terlibat pula Syarif Hidayatullah dari Cirebon. Pada awalnya, Syarif Hidayatullah diutus oleh Tumenggung Cakrabuana untuk pergi ke Demak dengan dua tujuan. Pertama, membantu persiapan Demak menjadi kerajaan; kedua, menjajaki kemungkinan Cirebon menjadi kerajaan yang merdeka, lepas dari Pajajaran.

 

Masjid Agung Demak berdiri di tahun 1479 M. Tahun pendirian ini diperoleh berdasarkan gambar bulus di mihrab Masjid Agung Demak yang memiliki candrasengkala Sariro Sunyi Kiblating Gusti, tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi. Dikisahkan, ketika masjid Demak berdiri, Sunan Bonang didaulat untuk menjadi imam yang pertama. Dalam menjalankan tugasnya itu ia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo serta wali yang lain.

 

Atas musyawarah para wali, Syarif Hidayatullah diminta supaya kembali dari Ampel Denta ke Cirebon guna mendirikan (mempersiapkan) kerajaan di sana. Sesampainya di Cirebon, selaku penguasa Cirebon, Pangeran Cakrabuana lalu menyerahkan tampuk pimpinan kepada Syarif Hidayatullah, yang juga merupakan keponakan sekaligus menantunya.

 

Oleh para wali di Jawa, Syarif Hidayatullah kemudian dianugerahi gelar sebagai panetep dan panata agama Islam di Tatar Sunda. Syarif Hidayatullah juga disebut sebagai "Pandiin Ratu", karena selain sebagai kepala pemerintahan (penguasa), ia juga menjadi ulama penyebar Islam yang menjadi anggota Walisongo. Sedangkan oleh kalangan adat setempat, ia disebut dengan gelar "Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Penata Agama Awaliya Allah Kutubid Zaman Kholipatur Rosulullah SAW". (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Priyana Nur Hasanah

Infografis : Priyana Nur Hasanah


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

SidebarKanan
Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2023 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi