SidebarKanan
Sejarah

Masa Jaya Kesultanan Malaka

Kuatbaca

30 November 2022 13:52

Test

Sultan Muzaffar Syah wafat di tahun 1459 M. Putera beliau, Raja Abdullah, menggantikan tahta Malaka dengan gelar Sultan Mansur Syah. Semasa hidupnya, Sultan Muzaffar Syah berhasil membersihkan sisa-sisa pendudukan yang pernah dilakukan Siam saat menyerang Malaka.

 

Wakil raja Siam, Dewa Sura, tertangkap dalam pelariannya sewaktu Malaka merebut kembali Pahang. Dan, hubungan dengan Siam pun dibina melalui perkawinan antara Sultan Muzaffar Syah dengan putri Wanang Sasi anak Dewa Sura. Dan, berlangsung pula sempena kepada raja Siam yang dibawa oleh Tun Telani dan Menteri Jana Putera.

 

Sultan Mansur Syah (1459-1477) menikahi seorang putri Majapahit sebagai permaisurinya. Dan, atas pernikahannya itu, Betara Majapahit menghadiahkan jajahannya kepada Malaka, yakni negeri Inderagiri, Palembang, Pulau Jemaja, Tambelan, Siantan, dan Bunguran. Selain itu, terjadi pula perkawinan antara Hang Li Po, putri Maharaja Yung Lo dari dinasti Ming, dengan Sultan Mansur Syah. Dalam prosesi perkawinan ini, Sultan Mansur Syah mengirim Tun Perpateh Puteh dengan serombongan pengiring ke negeri Cina untuk menjemput dan membawa Hang Li Po ke Malaka. Rombongan ini tiba di Malaka pada tahun 1458 dengan 500 orang pengiring.

 

Keberhasilan politik luar negeri Malaka disebut-sebut muncul dari peran besar Laksamana Malaka, Hang Tuah. Laksamana yang kebesaran namanya oleh orang Melayu disamakan dengan Gajah Mada atau Adityawarman ini merupakan tangan kanan Sultan Malaka. Konon, Hang Tuah menguasai bahasa Keling, Siam dan Cina.

 

Pada masa itu Malaka juga banyak memiliki tentara bayaran yang berasal dari Jawa. Selama tinggal di Malaka, para tentara ini akhirnya memeluk Islam. Dan, ketika mereka kembali ke Jawa, secara tidak langsung, para tentara bayaran itu juga membantu proses penyebaran Islam di Jawa. Sehingga, dari Malaka Islam tersebar secara masif di Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu dan Mindanau (Filipina Selatan).

 

Sedangkan dalam perkembangan adat negerinya, Malaka mendapatkan pengaruh besar dari Pasai. Sultan Malaka selalu menanyakan soal-soal yang pelik dalam agama kepada ke Pasai. Dan, selain di Malaka, pengaruh budaya Pasai juga masuk di Kedah, meskipun Kedah berada di bawah kekuasaan Siam. Melalui Kedah, mubalig-mubalig dari Pasai lalu menyebarkan risalah Islam ke daerah-daerah lain di Semenanjung Melayu, yang terletak lebih ke pedalaman hingga sampai ke Trengganu.

 

Di dalam Salatussalihin atau Sejarah Melayu (edisi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi) diceritakan, bahwa di tanah Arab ada seorang alim bernama Maulana Abu Ishak yang sangat paham akan ilmu tasawuf. Ia mengarang kitab Durrul-Manzum dan mengajarkan isi kitab ini kepada muridnya, Abu Bakar. Kemudian muridnya dikirim ke Malaka untuk mengajarkan isi kitab.

 

Sultan Malaka, Mansur Syah, sangat memuliakan Maulana Abu Bakar dan berguru kepadanya. Kitab itupun dikirimkan ke Pasai dan oleh Sultan Pasai diberikan kepada Makhdum Petakan, salah seorang alim di Kerajaan Pasai untuk diartikan. Setelah itu, hasilnya pun diantarkan kembali ke Malaka, sehingga dengan suka cita Sultan Mansur Syah menunjukkan kitab Durrul-Manzum yang dikirim dari Pasai kepada Maulana Abu Bakar dan memuji kedalaman ilmu ulama Pasai.

 

Hampir seabad sebelumnya, beberapa tahun sejak kematian Gajah Mada, di tahun 1377 M, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang sehingga menyebabkan habisnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya. Sementara itu, senopati Majapahit lainnya, Adityawarman, juga melakukan penaklukan di daerah di Minangkabau. Waktu peristiwa penaklukan oleh Majapahit ini hanya terpaut satu generasi dengan masa Sultan Muzaffar Syah.



 

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, melainkan terhubung satu sama lain melalui perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Selain itu, Majapahit juga menjalin hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan dan Vietnam, serta mengirimkan duta-dutanya ke Tiongkok.

 

Menurut Tome Pires (dalam Summa Oriental I) para pedagang Jawa mendapatkan hak istimewa dalam berdagang di bandar Samudra Pasai, yakni dalam bentuk pembebasan bea cukai impor maupun ekspor atas barang dagangan yang mereka bawa. Pada masa itu Kerajaan Majapahit telah menjadi sebuah kerajaan yang lengkap, baik dalam struktur pemerintahan maupun birokrasinya. Majapahit tampil sebagai pengganti Sriwijaya. Perniagaannya tidak terbatas pada perdagangan dan pelayaran pantai saja, tetapi juga perdagangan seberang laut melalui Malaka ke Samudra Hindia.

 

Masa keemasan yang terjadi di Malaka, kemudian juga membuahkan hasil bagi tersebarnya Islam secara lebih strategis. Melalui jalur niaga, kota-kota pelabuhan yang pada akhirnya turut membuka jalan bagi terbentuknya kantong pemukiman-pemukiman muslim, dengan sendirinya membawa pula kehadiran ulama-ulama yang berfungsi sebagai patron sosial. Secara sistematis, peran ulama ini diperlukan untuk menggantikan posisi adat para brahmana di masyarakat guna menghasilkan bentuk-bentuk akulturasi kebudayaan yang baru di Nusantara. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Rahma Monika

Infografis : Rahma Monika


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

SidebarKanan
Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2023 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi