Sejarah

Kejayaan dan Pertarungan Dua Wangsa Hindu dan Buddha [Kisah Sejarah Bag. 08]

Kuatbaca

10 November 2022 18:18

Test

Mengenai bukti sejarah tentang keberadaan tokoh Kertajaya juga dapat dilihat pada Prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), Prasasti Palah (1197), dan Prasasti Wates Kulon (1205). Dari prasasti-prasasti tersebut juga dapat diketahui nama abhiseka Kertajaya adalah Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa. Semasa Kadiri berada dalam pemerintahan Kertajaya, terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana.

 

Pada tahun 1248 Masehi, Wisnuwardhana (Seminingrat) naik memerintah Singhasari (1248-1254). Biarpun begitu, di dalam naskah Pararaton dan Nagarakretagama, disebutkan pula tentang adanya pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti. Pararaton menyebutkan nama asli Narasingamurti adalah Mahisa Campaka.

 

Apabila kisah kudeta berdarah di dalam Pararaton benar-benar terjadi, maka dapat dipahami maksud dari pemerintahan bersama ini sebagai upaya rekonsiliasi antara dua kelompok yang bersaing. Karena, Wisnuwardhana merupakan cucu Tunggul Ametung, dan Narasingamurti adalah cucu Ken Arok.

 

Kisah suksesi raja-raja Tumapel versi Pararaton diwarnai dengan pertumpahan darah yang dilatari balas dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati (anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung). Anusapati mati dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir). Tohjaya mati akibat pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati). Kemudian, hanya suksesi Ranggawuni kepada Kertanagara (putranya) yang dapat dilakukan secara damai.

 

Setelah tewasnya Tohjaya, Ranggawuni diangkat menjadi raja Tumapel dengan nama Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka menjabat Ratu Angabhaya dengan nama Bhatara Narasinghamurti. Keduanya memerintah berdampingan. Pemerintahan bersama itu, di dalam Pararaton diibaratkan seperti dua ular dalam satu liang. Selain itu, nama Narasinghamurti juga terdapat dalam Nagarakretagama, yang ditulis pada tahun 1365. Dan, dikisahkan bahwa Wisnuwardhana dan Narasinghamurti memerintah bersama di Tumapel bagaikan sepasang dewata, Wisnu dan Indra.

 

Akan tetapi, versi Nagarakretagama tidak menyebutkan adanya pembunuhan antara raja pengganti terhadap raja sebelumnya. Agaknya, hal ini dikarenakan Nagarakretagama adalah sebuah kitab pujian (Pujasastra) yang dipersembahkan untuk Hayam Wuruk, raja Majapahit. Sedangkan peristiwa berdarah yang menimpa leluhur Hayam Wuruk bisa jadi dianggap sebagai aib.

 

Di antara para raja Singhasari di atas, hanya Wisnuwardhana dan Kertanagara saja yang didapati menerbitkan prasasti sebagai bukti kesejarahan mereka. Prasasti Mula Malurung (yang dikeluarkan Kertanagara atas perintah Wisnuwardhana) menyebutkan Tohjaya sebagai raja Kadiri, bukan raja Tumapel. Hal ini tentunya memperkuat kebenaran berita di dalam Nagarakretagama.

 

Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Kertanagara pada tahun 1255 selaku raja bawahan di Kadiri. Jadi, pemberitaan kalau Kertanagara naik tahta di tahun 1254 perlu dibetulkan. Yang benar adalah, Kertanagara menjadi raja muda di Kadiri terlebih dulu, dan baru pada tahun 1268 Kertanegara bertahta di Singhasari.

 

Dengan diketemukannya prasasti Mula Malurung maka sejarah Tumapel versi Pararaton nampaknya perlu untuk direvisi. Kerajaan Tumapel didirikan oleh Rajasa alias Bhatara Siwa setelah menaklukkan Kadiri. Kemudian, sepeninggalnya kerajaan terpecah menjadi dua, Tumapel dipimpin Anusapati sedangkan Kadiri dipimpin Bhatara Parameswara (alias Mahisa Wonga Teleng). Selanjutnya Parameswara digantikan oleh Guningbhaya, kemudian Tohjaya. Sementara itu, Anusapati digantikan oleh Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana.

 

Prasasti Mula Malurung menyebutkan bahwa sepeninggal Tohjaya, Kerajaan Tumapel dan Kadiri dipersatukan kembali oleh Seminingrat. Kadiri kemudian menjadi kerajaan bawahan yang dipimpin oleh putra Seminingrat, yaitu Kertanagara.

 

Di tahun 1268 Masehi, Kertanagara naik tahta Singhasari menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana (1248-1268). Ibu Kertanagara bernama Waning Hyun, yang bergelar Jayawardhani, putri dari Mahisa Wunga Teleng (putra Ken Arok pendiri Singhasari). Abhiseka dipakai oleh Kertanagara ialah Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa. Menurut Pararaton, ia adalah satu-satunya raja Singhasari yang naik tahta tanpa pertumpahan darah.

 

Dari perkawinan Kertanagara dengan Sri Bajradewi, lahir beberapa orang putri, yang dinikahkan antara lain dengan Raden Wijaya putra Lembu Tal, dan Ardharaja putra Jayakatwang. Nama empat orang putri Kertanagara yang dinikahi Raden Wijaya menurut Nagarakretagama adalah Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.

 

Berdasarkan prasasti Mula Malurung, sebelum menjadi raja Singhasari, bisa diketehui bahwasannya Kertanagara lebih dulu diangkat sebagai yuwaraja (rajamuda) di Kadiri tahun 1254. Ia merupakan sosok raja Jawa pertama yang berambisi meluaskan kekuasaannya hingga mencakup wilayah Nusantara. Di dalam Pararaton dikisahkan, Kertanagara memecat para pejabat yang berani menentang cita-citanya, antara lain Mpu Raganata yang diturunkan dari jabatan rakryan patih menjadi ramadhyaksa, sebagai penggantinya adalah Kebo Anengah dan Panji Angragani. Arya Wiraraja dimutasi dari jabatan rakryan demung menjadi bupati Sumenep. Menurut Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, perombakan susunan tersebut banyak menimbulkan ketidakpuasan.




Dalam bidang agama, Kertanagara memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Siwa dengan Buddha aliran Tantrayana. Oleh karena itu, di dalam Pararaton, Kertanagara juga sering disebut sebagai Bhatara Siwa Buda. Sedangkan menurut Nagarakretagama, Kertanagara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha, lantaran itu Kertanagara dikisahkan pula dalam naskah-naskah kidung sebagai seorang yang bebas dari segala dosa. Bahkan, salah satu yang menjadi ritualnya adalah mengadakan pesta minuman keras. Gelar keagamaan Kertanagara di dalam Nagarakrtagama adalah Sri Jnanabajreswara, sedangkan dalam prasasti Tumpang ia bergelar Sri Jnaneswarabajra.

 

Kertanagara diwujudkan dalam sebuah patung Jina Mahakshobhya (Buddha) yang kini terdapat di Taman Apsari, Surabaya. Patung yang merupakan simbol penyatuan Siwa-Buddha itu sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. De Salis. Oleh masyarakat patung tersebut lebih dikenal dengan nama “Joko Dolog”.

 

Dari Prasasti Penampihan, yang dikeluarkan oleh Kertanagara (putra Wisnuwardhana), menyebutkan bahwa Narasinghamurti meninggal dunia tahun 1269. Sedangkan menurut naskah Pararaton, Narasinghamurti memiliki putra bernama Raden Wijaya yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit. Sementara itu, naskah Nagarakretagama menyebutkan Raden Wijaya adalah cucu putra Lembu Tal, dan Lembu Tal adalah putra Narasinghamurti.

 

Di kemudian hari, Raden Wijaya berhasil membangun Majapahit setelah hancurnya Singhasari dan Kediri. Majapahit pun dapat mempersatukan Nusantara setelah menyelesaikan pertarungan-pertarungan yang tak berkesudahan melalui tesa yang terkandung dalam kalimat: Siwa Buddha bhinneka tunggal ika tan hana dharma magrwa. Secara politis, kalimat di dalam naskah Sutasoma tersebut bisa dimaknai: bahwa baik yang beragama Siwa maupun Buddha walau tetap berbeda namun harus terikat pada dharma atau hukum negara yang satu. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Bagus Maulana

Infografis : Bagus Maulana


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi