Sejarah

Awal Daulah Islam di Nusantara [Kisah Sejarah - Bag. 04]

Kuatbaca

15 November 2022 07:56

Test

Di periode akhir abad 14 kekayaan rempah dari Nusantara makin memenuhi pasar di Mediterania. Pada kurun tahun 1390-an, tidak kurang dari 6 metrik ton cengkeh dan 1 ½ metrik ton pala asal Maluku telah membanjiri Eropa setiap tahunnya. Dan, hingga satu abad kemudian volume perdagangan meningkat menjadi 52 ton cengkeh dan 26 ton pala.

 

Rempah-rempah dari Nusantara dibawa melintasi Samudera Hindia oleh para saudagar Muslim dari berbagai negeri ke pasar-pasar Mesir dan Beirut, untuk kemudian dibeli oleh para pedagang Italia, terutama saudagar dari Venesia. Hal ini terus berlangsung hingga abad ke-17 di mana Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Spanyol, Portugal dan India berlomba membeli produk dari kawasan Nusantara berupa lada, cengkeh, pala, kayu manis, kayu cendana, pernis, sutera dan kulit rusa. Selain sebagai konsumen, mereka datang ke Nusantara juga disertai dengan penjualan barang-barang seperti kain, perak dan sebagainya.

 

Memasuki awal abad 15, pada tanggal 15 Juli 1405, armada raksasa dari Dinasti Ming di bawah laksamana Cheng Ho memulai pelayaran dunia selama 28 tahun, yang berlangsung dari daratan Tiongkok ke Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, India, Jazirah Arab, sampai Mogadishu di Afrika Timur. Armada laut Cheng Ho berangkat dari Nanjing dengan penterjemah bernama Ma Huan.

 

Pada tahun 1405, rombongan ekspedisi Cheng Ho itu singgah di pelabuhan Samudra Pasai dan bertemu dengan Sultan Zainal Abidin Bahian Syah. Cheng Ho menganjurkan agar Pasai mengakui perlindungan dari kaisar Tiongkok dan juga menghadiahi sebuah lonceng besar (Lonceng Cakra Donya) kepada sultan.

 

Mengenai keadaan Samudera Pasai, hasil dari ekspedisi Cheng Ho di tahun 1405 menceritakan sebagai berikut: Negeri ini terletak di perlintasan yang lebar dari perdagangan menuju ka Barat. Jika kapal bertolak dari Malaka mengambil arah ke Barat dan berlayar dengan angin Timur yang sedap, sesudah lima hari lima malam akan tiba disuatu kampung di tepi pantai-pantai namanya Ta-luman. Berlabuh disini dan pergi lagi ke Tenggara kira-kira tiga mil maka sampailah ke tempat tersebut.

 

Negeri ini bukan satu kota bertembok. Ada lapangan luas menuju laut, dimana ada air surut dan naiknya setiap hari. Ombak-ombak di muara amat tinggi dan kapal-kapal terus-terusan ditemui disini.

 

Arah ke Selatan dari tempat ini, kira-kira sajak 100 li (kira-kira 30 mil), dijumpai bukit tinggi yang berhutan. Ke Utara adalah laut. Ke Timur juga bukit-bukit tinggi, dan jika terus dijalani akan ditemui negeri Aru. Ke Barat, sebelah pantai ada dua negeri. Yang pertama negeri Nakur dan yang ke dua adalah negeri Litai. Belum selang lama, raja Samudera telah pernah diserang raja Nakur dan telah mati terbunuh dengan panah berbisa (Groeneveldt, op. cit. hal. 89-90).

 

Sedangkan menurut sumber dari naskah Ying-yai Sheng-lan dari tahun 1416, dan Hsing-Ch'a Sheng-lan dari tahun 1436. Disebutkan Raja Nakur meninggalkan seorang putera masih kecil yang belum dapat menggantikannya sebagai raja. Karena itu, permaisuri raja menyerukan: "Siapa yang sanggup menuntut bela suamiku dan merampas balik Samudera dari para penyerang, maka aku sedia kawin dengan dia dan ia akan memerintah negeri bersama anakku".

 

Mendengar ini, seorang nelayan lalu tampil: "Dengan sarat itu, saya bersedia menuntut bela!" Ia pun memimpin suatu pasukan, lalu menyerang raja Nakur dan membunuhnya. Setelah raja Nakur tewas, pengikutnya mundur dan menyerah, tidak mengganggu-ganggu lagi, Setelah pembelaan ini berhasil, si permaisuri pun memenuhi janjinya, kawin dengan nelayan pahlawan yang menang, dan memerintah negeri bersama-sama."

 

Selain keadaan politik, dari hasil perkunjungan ekspedisi Cheng Ho di Samudera Pasai, Ma Huan menceritakan bahwa adat istiadat di Pasai sama dengan di Malaka. Cara-cara mengadakan keramaian dan tata tertib penyelenggaraan kemalangan sama juga. Ma Huan berkata bahwa bahasa yang dipergunakan serupa di Malaka dengan di Pasai. Ini mengesankan bahwa di masa ia (1405) bahasa Melayu terbukti sudah jadi bahasa Nusantara.

 

Rumah-rumah penduduk tinggi dari tanah dan tidak bertingkat. Atapnya diperbuat dari daun nipah dan rumbia, disusun dan disimpai dengan rotan, kemudian ada pula diperbuat tikar rotan dan pandan.

 

Negeri ini, demikian menurut Ma Huan, banyak sekali disinggahi oleh kapal-kapal Melayu antar pulau dan perdagangan antara sesama mereka amatlah ramai dan penting.

 

Ketika itu (tahun 1405) sudah dipergunakan duit emas dan timah. Uang emas disebut dinar, takarannya 7:10 dengan emas murni. Beratnya 2 fen 3 li, kira-kira lebih sedikit 9/10 gram (Mengenai ini Groeneveldt niembuat catatan: "Di lain bagian dari kesan-kesannya yakni: Ma Huan tidak disebut 2 fen 3 li, melainkan 2 ch'ien 3 fen. Ini berarti 10 kali lebih berat. Jadi 1 dinar ajab berarti 10 Gram, lebih tepat subetulnya). Dalam pasar sehari-hari, mereka umumnya mempergunakan duit timah.




Selain mempererat hubungan kenegaraan, pengiriman armada Dinasti Ming dibawah pimpinan Laksmana Cheng Ho dan Ma Huan juga bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran niaga di Nanyang (Asia Tenggara) dari ganguan bajak laut orang-orang Hokkian yang dipimpin oleh Lin Tao-chien. Pada masa itu, bajak laut telah menguasai Pattani, sebuah pelabuhan di selatan Siam (Thailand) dan Kukang (Palembang). Sementara itu, seorang pemimpin bajak laut lainnya yang berasal dari Canton bernama Tan Tjo Gi berhasil pula menguasai kota Palembang, dan dari sana melakukan perompakan terhadap kapal-kapal yang melalui Selat Malaka. Hal ini nampaknya diakibatkan oleh lemahnya pemerintah Palembang (Dharmasraya) setelah berkali-kali mendapatkan serangan dari kerajaan di Jawa. Setelah Tan Tjo Gi berhasil ditangkap, ia dirantai dan dibawa ke Peking. Disana ia dipancung di muka umum sebagai peringatan kepada orang-orang Tionghoa Hokkian di seluruh Nanyang.

 

Laksamana Cheng Ho juga datang ke Malaka untuk mempertegas kembali persahabatan Tiongkok dengan Malaka. Dari Malaka, Armada Cheng Ho kemudian menuju Majapahit. Di mana dalam catatan berita Tiongkok disebutkan tentang adanya perang saudara di Majapahit, dan pada saat perang berlangsung, utusan Tiongkok sedang berkunjung ke kerajaan Majapahit Timur (Blambangan). Peristiwa tersebut merupakan satu-satunya pertempuran yang menewaskan pasukan Cheng Ho dalam jumlah besar. Karena, pada waktu itu armada Cheng Ho kebetulan berada di sektor timur (daerah Blambangan).

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Rahma Monika

Infografis : Rahma Monika


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi