Sejarah

Awal Daulah Islam di Nusantara [Kisah Sejarah - Bag. 03]

Kuatbaca

14 November 2022 06:39

Test

Kitab Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu (abad ke-17) karangan Tun Sri Lanang meriwayatkan pula cerita yang sama mengenai semakin luasnya entitas Islam di Nusantara, namun menyebut negeri itu dengan nama Muktabar. Di dalam Sejarah Melayu, disebutkan bahwasannya Merah Silu menerima Islam dari Syeh Ismail dan Fakir Muhammad, seorang keturunan Abu Bakar As-Shidiq. Kedua ulama ini dikabarkan memang berniat datang ke "Negeri Bawah Angin" untuk membawa Islam kepada Merah Silu dan menyerahkan tanda-tanda Kerajaan yang dibawa dari Mekah. Mereka juga menyinggahi Fansur (Barus), Lamuri dan Haru.

 

Berkenaan dengan penyebutan nama "Samudera" yang juga dikenal oleh orang luar adalah "Samara", dari Marco Polo. Kalau diperhatikan bahwa orang Italia ini datang di zaman Sultan Maliku's-Saleh, di masa ketika nama itu diumumkan, maka ada cukup alasan untuk membenarkan bahwa "Samudera" berasal nama yang diberikan oleh Sultan tersebut. Selain itu, kelak di dalam tahun 1346, pelawat Arab Tangier bernama Ibnu Batutah memperkenalkan pula nama ini dalam catatan perjalanannya yaitu Samathrah atau Samuthrah. Dan, sepuluh tahun lebih dulu, pendeta Oderico de Portenone yang sudah membuat perjalanan dari India ke Tiongkok telah menyebutkan pula dalam catatan perjalanan yang ditinggalkannya tentang nama suatu kerajaan Sumolthra, terletak di Selatan Lamuri. Hal ini merupakan petunjuk bahwa "Sumatera" telah diambil dari asal nama "Samudera", tapi jelas sesudah masa Maliku's-Saleh.

 

Namun demikian, Kesultanan Samudera Pasai dan Aru (Deli/Pulau Kampai) selanjutnya dapat ditaklukan oleh Majapahit. Akan tetapi, mengenai kapan waktu penaklukan oleh Majapahit itu terdapat perselisihan pendapat.

 

Walau berhasil dikalahkan oleh serangan Majapahit, wilayah Pasai justru makin berkembang dan menjadi pusat kegiatan intelektual Islam pada permulaan abad ke-14 dan sampai kemunculan Malaka, Demak, juga Aceh Darussalam di abad ke-15 dan 16 Masehi. Pada masa ini proses Islamisasi budaya lokal berlangsung dengan deras hingga mencapai kemapanan bentuknya. Sejalan dengan itu, terjadi pula proses pribumisasi kebudayaan Islam.

 

Pribumisasi kebudayaan Islam dilakukan seperti dengan menyadur dan menggubah kembali hikayat-hikayat Arab dan Parsi dalam jumlah besar; mula-mula dalam bahasa Melayu dan kemudian dalam bahasa Nusantara yang lain, seperti Aceh, Bugis, Jawa, Sunda, Madura dan lain-lain. Hikayat-hikayat atau karya-karya Arab Parsi yang disadur dan digubah kembali dalam bahasa Melayu ini dapat dikelompokkan sebagai berikut: (1) Hikayat Nabi-nabi; (2) Kisah-kisah berkenaan dengan kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. (3) Kisah-kisah Para Sahabat Nabi; (4) Kira Wali-wali Islam yang masyhur, termasuk sufi terkemuka, para pendiri tariqat sufi dan lain sebagainya; (5) Hikayat Pahlawan-pahlwan Islam; (6) Hikayat tentang bangsawan Islam yang didasarkan pada fiksi Arab, Parsi dan Asia Tengah, umumnya berupa kisah petualangan bercampur percintaan; (7) Kisah-kisah Perumpamaan Sufi; (8) Cerita Berbingkai; (9) Kisah-kisah Jenaka.

 

Dari Sumatera, hubungan antara Pasai dengan daerah-daerah lain seperti di Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian selatan, Lombok dan Sumbawa, juga dibuktikan oleh adanya kesamaan bentuk nisan kuburan yang terdapat di Pasai dengan daerah-daerah yang tersebut. Makam Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur misalnya, menunjukkan persamaan dengan makam Nahrasiyah di Pasai dan dengan makam yang ada di Cambay. Pembuktian yang dilakukan melalui bentuk makam kuburan seperti yang dijelaskan Hasan Muarif Ambary ini juga memperkuat sumber hikayat dan berita-berita sebelumnya yang berasal dari luar Nusantara.

 

Kitab Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis setelah kerajaan ini mengalami penaklukan oleh Majapahit di tahun 1365. Dilihat dari sudut corak bahasa Melayu dan aksara yang digunakan, karya ini tampak rampung dikerjakan ketika bahasa Melayu telah benar-benar mengalami proses Islamisasi dan aksara Jawi, yaitu aksara Arab yang dipergunakan untuk bahasa melayu, telah mulai baku dan luas digunakan.

 

Sampai di masa selanjutnya, bahasa Melayu Pasai dan aksara Jawi inilah yang digunakan oleh para penulis muslim di kepulauan Nusantara hingga di akhir abad ke-19 M. Yakni sebagai bahasa pergaulan utama di bidang intelektual serta perdagangan dan administrasi.

 

Selain Perlak yang kemudian menjadi Samudera Pasai, pada tahun 1380, ada pula kerajaan lain yaitu Kerajaan Pelalawan yang bernama Kerajaan Pekantua, karena dibangun di daerah bernama Pematang Tuo —sekarang masuk Desa Tolam, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan. Setelah berhasil membangun kerajaan, raja pertama Pekantua, Maharaja Indera (1380-1420), membangun Candi Hyang di Bukit Tuo (sekarang wilayah Pematang Buluh atau Pematang Lubuk Emas) sebagai wujud rasa syukur.

 

Setelah Maharaja Indera mangkat, secara berturut-turut ia digantikan oleh Maharaja Pura (1420-1445), Maharaja Laka (1445-1460), Maharaja Sysya (1460-1480), dan Maharaja Jaya (1480-1505). Dan, Maharaja Jaya adalah raja terakhir Pekantua era pra Islam. Sesudahnya, Pekantua pun berganti nama menjadi Pekantua Kampar.




Dari Semenanjung Melayu, muncul pula kerajaan yang kemudian menjadi Islam. Raja Malaka pertama adalah seorang raja Hindu bernama Permaisura yang bergelar Raja Kecil Besar. Ia lalu masuk Islam dan bergelar Sultan Muhammad Syah, yang memeluk Islam melalui Sidi Abdul Aziz, seorang ulama dari Jeddah. Menurut keterangan Barros, Permaisura masuk Islam pada kisaran tahun 1384 M.

 

Di Malaka, Permaisura tetap dikenal sebagai raja yang pernah bertahta di Singapura atau Tumasik. Sebelumnya, akibat serangan dari Majapahit, ia pun pindah ke Malaka untuk membangun kerajaan baru. Meskipun sebagai daerah baru, Malaka pada waktu itu telah dipadati oleh pendatang dari Pasai, Arab, Parsi, Gujarat dan Malabar.

 

Sejak awal pendirian Malaka, Sultan Muhammad Syah, selalu mengirim upeti kepada raja Siam agar kerajaan itu tidak menyerang Malaka. Kemudian, di awal abad ke-15, Malaka menjalin pula hubungan dengan Kekaisaran Tiongkok (Kaisar Yuang Lo, 1403-1423). Dengan begitu, Malaka pun tidak lagi membayar 40 tahil emas setiap tahun kepada Siam.

 

Berkenaan dengan Malaka, bebeberapa pendapat yang berbeda coba saling menjelaskan tentang berdirinya Kesultanan Malaka. Salah satu berita yang mashyur menyatakan, bahwa pada tahun 1276 M (bersamaan dengan masa hidupnya Sultan Pasai yang pertama: Al-Malikus Saleh) di Malaka sudah ada Sultan yang pertama yaitu Sultan Muhammad Syah, namun setelah melalui beberapa penyaringan terbukti bahwa berita tersebut tidak benar (Hamka, 2002: 709).

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Bagus Maulana

Infografis : Bagus Maulana


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi