Sejarah

Awal Daulah Islam di Nusantara [Kisah Sejarah - Bag. 02]

Kuatbaca

13 November 2022 15:33

Test

Pada tahun 362 H, atau 956 Masehi, setelah wafatnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian. Perlak Pesisir dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986-988). Kemudian, Perlak Pedalaman dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986-1023).

 

Beberapa dekade kemudian, di tahun 988 Masehi, Sriwijaya menyerang Perlak dan di waktu itu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah wafat. Akibat dari kematian sultan dan penyerangan tersebut, seluruh Perlak kembali bersatu di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat. Di bawah pimpinannya Perlak melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.

 

Selain di Perlak, adapun berita lain yang menyebutkan masa-masa awal masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, juga di dapat dari situs makam di Jawa yang disebut dengan Pasucinan, menunjukkan nama Fatimah Binti Maimun dengan angka tarikh 495 H. Konon, Fatimah merupakan seorang putri Raja Cermen yang berasal dari Kedah.

 

Berita Pasucinan pada tahun 1225 dari Chou-Ju-Kua dalam karyanya Chu-Fan-Chi atau Zhufan Zhi menyebutkan bahwa Shefo (Jawa) juga disebut sebagai Pu-chia-lung yang terletak di laut Selatan. Sedangkan menurut Slamet Mulyana, yang dimaksud Pu-chia-lung adalah Panjalu di Jawa Timur, sekarang Gresik.

 

Adapun mengenai tarikh makam Fatimah binti Maimun, terdapat perbedaan di kalangan peneliti yang menafsirkannya dengan tarikh tahun 1102, dan ada juga 1028 Masehi.

 

Namun begitu, berita dari naskah Ying-Yai-Shenglan memperjelas bahwasannya keberadaan Gresik di sini bukanlah Gresik yang sekarang, melainkan Gresik sebelum era kekuasaan Sunan Giri. Untuk itu, kemungkinannya adalah Pasucinan atau Leran yang semula diperkirakan sebagai salah satu pelabuhan Panjalu dan pada perkembangan selanjutnya menjadi Tse-Tsun atau Gresik.

 

Selain itu, hasil penelitian mengenai keberadaan makam Fatimah binti Maimun membuktikan pula bahwa di sekitarnya juga terdapat sisa-sisa pemukiman. Bahkan, sisa pemukiman tersebut tidak hanya terdapat di sekitar makam, melainkan berada sampai ke pinggiran Sungai Manyar. Keaneka-ragaman temuan di lokasi tersebut juga mengindikasikan adanya aktivitas perniagaan yang dulu berorientasi pada lalu lintas sungai.

 

Seiring masuk di Sumatera dan Jawa, jalur-jalur rempah juga turut memainkan peran sebagai faktor yang membuka risalah Islam di pulau-pulau lain. Menurut catatan Kesultanan Tidore, kerajaan ini berdiri sejak Jou Kolano Sahjati naik tahta pada 12 Rabiul Awal 502 H (1108 M). Akan tetapi, sumber Kesultanan Tidore tersebut tidak menjelaskan secara jelas lokasi pusat kerajaan di masa itu.

 

Di dalam catatannya itu, asal usul Sahjati dirunut dari kisah kedatangan Jafar Noh dari negeri Maghribi di Tidore. Noh datang dan mempersunting seorang gadis setempat, bernama Siti Nursafa. Dari perkawinan tersebut lahir empat orang putra dan empat orang putri. Empat putra tersebut adalah: Sahjati, pendiri kerajaan Tidore; Darajati, pendiri kesultanan Moti; Kaicil Buka, pendiri kesultanan Makian; Bab Mansur Malamo, pendiri kesultanan Ternate. Sedangkan empat orang putri adalah: Boki Saharnawi, yang menurunkan raja-raja Banggai; Boki Sadarnawi, yang menurunkan raja-raja Tobungku; Boki Sagarnawi, yang menurunkan raja-raja Loloda; dan Boki Cita Dewi, yang menurunkan Marsaoli dan Mardike.

 

Menurut kisah tradisional, di daerah Tidore kala itu sering terjadi pertikaian antar para momole (kepala suku), yang didukung pula oleh anggota komunitasnya masing-masing dalam memperebutkan wilayah kekuasaan persukuan. Pertikaian tersebut seringkali menimbulkan pertumpahan darah. Sedangkan berbagai usaha yang dilakukan untuk mengatasi pertikaian tersebut terus menemui kegagalan.

 

Syahdan, diperkirakan pada tahun 846 M, suatu rombongan Ibnu Khardazabah yang merupakan utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Khilafah Abbasiyah di Baghdad tiba di Tidore. Pada saat itu di Tidore sedang terjadi pertikaian antar momole. Maka, untuk turut meredakan dan menyelesaikan pertikaian tersebut, salah seorang anggota rombongan Ibnu Khardazabah yang bernama Syekh Yakub turun tangan dengan memfasilitasi perundingan yang disebut dengan Togorebo. Pertemuan pun disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang.

 

Kesepakatannya adalah momole yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa dialah yang datang pertama kali dan menjadi pemenang.

 

Beberapa orang momole yang bertikai tersebut ternyata tiba pada saat yang bersamaan, sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syekh Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: anta thadore.

 

Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang, akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Konon, sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Thadore. Demikianlah, konon kata Tidore akhirnya menggantikan kata Kie Duko dan menjadi nama sebuah kerajaan besar. Kerajaan Tidore kemudian menjadi salah satu pilar yang membentuk Kie Raha (Empat Gunung Maluku), dan yang lainnya adalah Ternate, Makian dan Moti.

 

Selain Tidore, Kerajaan Gapi yang terletak berdekatan, atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kesultanan Ternate (mengikuti nama ibukotanya), juga menjadi salah satu dari 4 kerajaan Islam pertama di Maluku, dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Kesultanan Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo.

 

Di tahun 1257, Momole Ciko, pemimpin Sampalu, terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi ini berpusat di Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama).

 

Setelah makin besar, Kota Ternate kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia, khususnya Maluku.




Berkenaan dengan meluasnya entitas Islam di Nusantara, dari Tiongkok, sumber informasi dari Dinasti Yuan menyebutkan bahwa pada tahun 1282, dua utusan dari Su-mu-ta (Samudra) tiba di istana. Berita ini oleh De Jong kemudian dipakai sebagai dasar untuk menetapkan bahwa Kerajaan Pasai merupakan suatu kerajaan Islam di Pantai utara Pulau Sumatera yang telah muncul kira-kira sebelum pengiriman utusan tersebut.

 

Sedangkan sumber informasi yang berasal dari abad ke-15, yakni Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan bahwa:

 

Alkisah peri mengatakan cerita yang pertama masuk agama Islam ini Pasai. Maka ada diceritakan oleh orang yang empunya cerita ini negeri yang dibawah angin ini Pasailah yang pertama membawa iman akan Allah dan akan Rasul Allah”.

 

Mengenai masuknya ajaran Islam ke Pasai, Buya HAMKA meyakini kebenaran bahwa ajaran Islam yang masuk di Kerajaan Pasai diperoleh langsung dari Jazirah Arab, yang sezaman dengan era penguasaan (Khadimul Haramain) dinasti Mamalik atas Haramain (Mekah-Madinah). Sedangkan gelar "Malikus Saleh" dan "Malikus Zahir" merupakan gelar kesultanan Mamalik yang kemudian juga dipakai oleh Pasai.

 

Di dalam kitab Hikayat Raja-raja Pasai tertulis kalimat yang dinyatakan sebagai sabda Rasulullah SAW, yakni:

 

“Sepeninggal aku telah wafat kelak, akan muncul sebuah negeri di bawah angin, Samudera namanya. Apabila terdengar kamu nama negeri itu, maka suruhlah sebuah bahtera untuk membawa perkakas dan alat kerajaan ke negeri itu, serta kamu Islamkan sekalian isi negeri itu, serta ajar mereka mengucap dua kalimah syahadat. Kerana dalam negeri itu kelak banyak orang yang akan menjadi wali Allah. Tetapi semasa kamu hendak pergi ke negeri itu, hendaklah kamu singgah mengambil seorang fakir di negeri Mengiri, bawalah fakir itu bersama-sama belayar ke negeri Samudera itu.”

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Priyana Nur Hasanah

Infografis : Priyana Nur Hasanah


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi