Sejarah

Awal Daulah Islam di Nusantara [Kisah Sejarah - Bag. 01]

Kuatbaca

12 November 2022 03:07

Test

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok menyebutkan, bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M —hanya berbeda 15 tahun setelah Muhammad bin Abdullah menerima wahyu kenabian pertama, atau sembilan setengah tahun setelah dirinya berdakwah secara terang-terangan pada bangsa Arab— di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Temuan ini diperkuat oleh Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M, telah menemukan sekelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera.

 

HAMKA pun menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University, Amerika Serikat.

 

Sedangkan melalui Pendeta I Tsing, yang berangkat melakukan perjalanan dari Canton ke Nalanda melalui Sriwijaya. Seluruh pengalamannya diuraikan dengan cermat dalam bukunya, Nan Hai Chi Kuei Fa Chuan dan Ta Tang Si Yu Ku Fa Kao Seng Chuan. Apa yang ditulis I Tsing merekam pula keadaan di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Sumatera.

 

Pendeta I Tsing mengembara di luar Tiongkok selama 25 tahun. Ia kembali ke Kwangtung pada pertengahan musim panas pemerintahan Cheng Heng (tahun 695) dengan membawa pulang 4.000 naskah yang terdiri dari lima ratus ribu sloka. Dan, dari tahun 700 sampai 712 ia menter-jemahkan 56 buku dalam 230 jilid. Ia melakukan kunjungan ke Sumatra dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India, pada tahun 671 dan 695. I Tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha dan koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan.

 

Hingga abad ke VII, hanya pendeta Budha Tionghoa yang melakukan perjalanan ke India dan mengunjungi Sriwijaya. Disebutkan pula bahwa I Tsing berlayar dengan menggunakan perahu Sriwijaya.

 

Meskipun catatan sejarah dan bukti arkeologi jarang ditemukan tetapi beberapa menyatakan bahwa pada abad ke-7 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi atas seluruh Sumatra, Jawa Barat, dan beberapa daerah di semenanjung Melayu. Dominasi terhadap Selat Malaka dan Selat Sunda menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Palembang mengakumulasi kekayaannya dari pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan India.

 

Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu di Jambi merupakan kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya dan akhirnya dapat ditaklukkan pada abad ke-7 dan ke-9. Di Jambi, pertambangan emas merupakan sumber ekonomi cukup penting; dan kata Suwarnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Kalimantan bagian Barat.

 

Berkenaan dengan Islam yang kemudian memberi pengaruh pada akulturasi awal kebudayaan di Nusantara, berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao; Kerajaan Islam Jeumpa dibangun pada 154 Hijriah atau tahun 777 Masehi. Jeumpa dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsi yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak antara lain Shahri Poli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak.

 

Menurut penelitian Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Shahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Shahri Banun, anak Maha Raja Parsi terakhir.

 

Syahrnawi adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul Aziz. Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam. Maka, tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa.




Selanjutnya, di sekitar tahun 840 M, telah pula berdiri Kerajaan Perlak di sekitar Kota Peureulak saat ini pada 1 Muharam 225 H, dengan rajanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Shah. Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah.

 

Menurut Sir TS. Raffles, di dalam buku The History of Java, ia menyebut bahwa Champa yang terkenal di Nusantara bukan terletak di Kamboja sekarang, sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Karena, Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa (Cempo) adalah ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek Jawa. Jeumpa yang dinyatakan oleh Raffles sebagai “Cempo” sekarang berada di daerah sekitar Kabupaten Bireuen, Aceh.

 

Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8 dan disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Kesultanan Perlak berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang, antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292.

 

Namun demikian, hikayat di abad 7 hingga 10, tetap didominasi oleh kebudayaan Budha dan Hindu sebagai agama negara yang menghegomoni di Nusantara. Estafet dari kerajaan Mataram, Medang, hingga Singhasari, merupakan entitas kekuasaan yang dominan di Jawa. Begitu pula di Sumatera, ada Sriwijaya, Melayu, Swarnadwipa hingga Dharmasraya. Bahkan sampai Majapahit naik sebagai hegemon di Nusantara, corak hukum dan budayanya masih bernuansa Hindu Buddha. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Rahma Monika

Infografis : Rahma Monika


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi