Sejarah

Awal Daulah Islam di Nusantara [Kisah Sejarah - Bag. 05]

Kuatbaca

22 November 2022 10:01

Test

Beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, tercatat pada tahun 1409 M, seorang raja dari Samudera Pasai berangkat ke Tiongkok dan disambut oleh kaisar dengan upacara kenegaraan. Raja ini adalah bekas nelayan yang berhasil memegang tahta Samudera Pasai setelah ia berhasil membunuh raja dari negeri Nakur (yang telah membunuh raja Samudera Pasai) dan mengawini permaisuri Samudera Pasai, janda dari raja sebelumnya.

 

Di tahun 1411 M, Raja Malaka juga balas berkunjung ke Tiongkok beserta istri, putra, dan menterinya. Seluruh rombongan tersebut berjumlah 540 orang. Sesampainya di Tiongkok, Raja Malaka beserta rombongannya disambut secara besar-besaran. Dan, ketika hendak kembali ke Malaka, Raja Muhammad Iskandar Syah mendapat hadiah dari Kaisar Tiongkok, antara lain ikat pinggang bertatahkan mutu manikam, kuda beserta sadel-sadelnya, seratus ons emas dan perak, 400.000 kwan uang kertas, 2600 untai uang tembaga, 300 helai kain khasa sutra, 1000 helai sutra tulen, dan 2 helai sutra berbunga emas. Dari hadiah-hadiah tersebut nampak bahwasannya Malaka merupakan kerajaan besar yang diperhitungkan.

 

Di dalam naskah Ying Yai Sheng Lan karangan Ma Huan yang mengikuti ekspedisi Laksamana Cheng Ho, diterangkan pula adanya Kerajaan Aru. Bahwasannya: "Jika berlayar dari Malaka selama 4 hari 4 malam, tibalah orang disini. Negeri ini terletak di sungai, namanya sungai jernih, dengan memasukinya tibalah di kota. Sebelah Selatan bukit barisan, sebelah Utara laut, sebelah barat bertetangga dengan Sumatera (Samudera) dan sebelah timur dengan tanah rata."

 

Setelah menceritakan hasil-hasil bumi, kerajinan, pertukangan, bahasa, resam dan sebagainya, yang sesuai dengan negara-negara tetangga, Malaka bahkan Jawa, Ma Huan menyebut dengan tegas bahwa raja dan rakyat Aru adalah beragama Islam. Di dalam sejarah dinasti Ming buku 325, disebut bahwa dalam tahun 1411, yang menjadi Sultan di Aru ialah "su-lu-tang Hutsin", maksudnya: Sultan Husin.

 

Akan tetapi di tahun berikutnya (1412 M), perihal seorang nelayan yang telah menjadi raja di Samudera Pasai sepulang dari lawatannya ke Tiongkok, segera mendapat tentangan dari anak tirinya (anak raja sebelumnya yang terbunuh oleh raja Nakur) yang sudah besar dan berhasrat menguasai tahta warisan ayahnya. Dengan tipu muslihat dibunuhnyalah raja bekas nelayan ini, dan ia pun proklamirkan dirinya naik tahta.

 

Sesudah itu, seorang anak saudara dari si terbunuh (raja bekas nelayan), bernama Iskandar (tulis Tionghoa; Su-kan-lah) menyimpan dendam atas kematian pamannya. Ia pun mengumpulkan kesatuan dan pengikut untuk merebut kekuasaan di Samudera Pasai.

 

Sementara kericuhan terjadi di Samudera Pasai, dengan sendirinya menjadikan Malaka leluasa mengembangkan emporiumnya di Selat Malaka. Di Malaka, Sultan Muhammad Syah wafat. Putera beliau, Raja Iskandar, lalu menaiki tahta Malaka dengan gelar Sultan Iskandar Syah dan segera berangkat ke Tiongkok guna mengikat persekutuan serta meminta pembaruan pengakuan kedaulatan dari kaisar Tiongkok. Kedatangannya ke Tiongkok tercatat berlangsung pada tahun 1414 M.

 

Keberhasilan Sultan Muhammad Syah dalam menjalin hubungan diplomatik telah membuat Malaka berkembang menjadi sebuah emporium terbesar di Asia Tenggara. Kunjungan utusan Malaka berikutnya ke Tiongkok juga tercatat pada tahun 1419, 1424 dan 1433, masa ini bersamaan pula dengan zaman kemunduran bagi Majapahit.

 

Di tahun 1415 M, Cheng Ho tiba untuk yang kedua kalinya di Samudera Pasai. Atas permintaan raja, yang baru menaiki tahta sesudah ia membunuh raja "nelayan" yang telah mengawini ibunya dan sempat memerintah kerajaan, Cheng Ho pun campur tangan (intervensi) dalam friksi yang berlangsung di Samudera Pasai.

 

Iskandar yang merupakan putra dari saudara raja "nelayan" dan berhasil menggalang kekuatan untuk merebut tahta Pasai berhasil ditangkap oleh Cheng Ho. Ia lalu dikirim langsung ke Tiongkok, dan disana Iskandar dihukum bunuh sampai mati.

 

Atas bantuan Cheng Ho, raja menyatakan terima kasih sebesar-besarnya. Demikian semenjak itu, menurut catatan Tiongkok, raja Pasai mengirim bingkisan setiap tahun ke Tiongkok.

 

Di tahun 1419 M, untuk yang kedua kali Sultan Iskandar Syah, penguasa Malaka, melawat ke Tiongkok. Dalam catatan Tiongkok dirinya dikenal dengan sebutan Mu-kan-su-tir-sya. Sedangkan orang Portugis mengenalnya sebagai Zaquendarsa, dan dalam kitab Bustanus Salatin disebut gelar Melayunya, Seri Rana Adikerma.

 

Sesudah Samudera Pasai, wafatnya Sultan Iskandar Syah di tahun 1424, mengakibatkan pula selama dua tahun pemerintahan kesultanan Malaka dilanda kericuhan. Putera kedua Sultan Iskandar Syah yang baru berusia satu tahun lima bulan diangkat menjadi raja dengan gelar Sultan Abu Syahid. Dan, pemerintahan dijalankan oleh Raja Rokan, saudara dari permaisuri Sultan Iskandar Syah. Sedangkan putera pertama Sultan Iskandar Syah, Raja Kasim, justru dibuang keluar istana dan hidup menjadi nelayan.

 

Di tahun 1426, Raja Kasim kembali dan berhasil merebut haknya sebagai pewaris takhta Malaka. Ia pun naik tahta dengan gelar Sultan Muzaffar Syah. Raja Rokan yang menjalankan pemerintahan berhasil dibunuh berkat bantuan Seri Nara Diraja dan Bendahara. Akan tetapi, sesaat sebelum ajal, Raja Rokan menusukkan pula kerisnya ke tubuh Sultan Abu Syahid yang tengah berada dalam gendongannya.

 

Di masa pemerintahan Raja Kasim, Phra Chau Wadi yang bergelar Prabu Bubunya, Raja Siam, menginginkan Malaka menghidupkan kembali adat leluhurnya yang senantiasa mengirimkan upeti 40 tahil emas tiap tahun ke Siam. Lantaran Sultan menolak, berturut-turut Siam pun menyerang Malaka dibawah pimpinan panglima Awi Chakri dan Awi Dichu. Konon, Raja Siam urung untuk melancarkan serangan yang ketiga dikarenakan Chau Pandan, panglima yang juga putranya sendiri, meninggal sebelum memulai penyerangan.

 

Menurut catatan Tiongkok, memasuki tahun 1434, raja Pasai mengutus adiknya, tapi adik ini meninggal di ibukota (Nanking). Kaisar Tiongkok turut belasungkawa dan menganugerahi suatu pangkat postuum untuk yang meninggal serta menugaskan perwira khusus mengatur upacara pemakaman itu. Dan, suatu keluarga telah pula ditugaskan menjaga kuburan itu untuk beberapa lamanya.


 

Menteri Negara RI. Mr. Muhammad Yamin ketika memberi keterangan kepada "Antara" sehubungan dangan berita "Harian Rakyat" ("People's Daily") yang terbit di Peking, menyinggung bahwa di tahun 1408 ada seorang Raja dari Indonesia yang wafat di Nanking dan dimakamkan disana, Yamin memperkirakan bahwa Raja dimaksud adalah dari Brunei (Kalimantan). Tetapi, catatan Tiongkok sendiri yang dikutip olah Groeneveldt tegas-tegas menyebut bahwa Raja yang mangkat di Nanking itu adalah adik Raja Pasai. Waktu itu Kaisar Yung Lo masih bersinggasana di Nanking, sebelum memindahkannya ke Peking. Oleh karena Yung Lo, kaisar ke 3 dari dinasti Ming yang diperkirakan menjadi pemeluk Islam, tentulah pada tempatnya ia memberi layanan tinggi kapada utusan yang meninggal itu. Untuk hal ini, sejarahwan Aceh, Mohammad Said, menilai ungkapan Groeneveldt bahwa Raja Pasai (adiknya) yang meninggal di Nanking itu adalah lebih tepat.

 

Pada tahun berpulangnya adik raja Pasai di Tiongkok itu, kaisar mengutus lagi Wang Ching Hung, dan sekembalinya, raja Pasai mengutus lagi adiknya yang lain ikut serta ke Tiongkok. Dia menceritakan bahwa raja Pasai sudah tua benar dan karena itu "dimintakan" persetujuan kaisar untuk menyerahkan tahta kapada anak raja Pasai sendiri, bernama A-pu-sai. Diceritakan bahwa "permintaan" ini disetujui kaisar.

 

Pada masa terbitnya Islam melalui kesultanan-kesultanan di utara Sumatera dan Semenanjung Melayu, kekuatan raja-raja Hindu dan Buddha yang sebelumnya besar di Jawa perlahan mulai memasuki masa redup. Meski demikian, kapal-kapal yang makin memenuhi Selat Malaka tetap didominasi oleh orang-orang Jawa. Bahkan, ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis di tahun 1511, Demak yang waktu itu sudah naik sebagai kesultanan dan mengambil alih dominasi atas Jawa, menjadi kekuatan yang pertama kali mengirimkan hantamannya kepada Portugis.(*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Rahma Monika

Infografis : Rahma Monika


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi