top ads
Home / Telik / Sejarah / Abad Nadir Pertarungan Barat dengan Timur - [EPISODE 05]

Sejarah

  • 175

Abad Nadir Pertarungan Barat dengan Timur - [EPISODE 05]

  • August 30, 2022
Abad Nadir Pertarungan Barat dengan Timur - [EPISODE 05]

Rencana Portugis membangun benteng di Kalapa sempat tertunda lantara Francisco de Sa diangkat jadi Gubernur Goa di India. Pelabuhan Kalapa telah ditaklukkan Tubagus Pasai (Raden Hidayat atau Fadlullah Khan yang kemudian diberi gelar Fatahillah), kemudian Kalapa berganti nama menjadi Jayakarta. Politik agresi Portugis ini dipatahkan bersamaan dengan kekalahan di perairan Aceh melawan Sultan Mughayat Syah.

  

 

Setelah berhasil menguasai Banten, Sunan Gunung Jati memindahkan pusat kekuasan Banten ke dekat pelabuhan Banten, yang kemudian disebut dengan nama Surosowan. Pemindahan letak kota ini dilakukan pada tanggal 1 Muharram 933 H atau bertepatan dengan 8 Oktober 1526. Dan, Pangeran Sabakinkin atau Maulana Hasanudin pun diangkat sebagai Panembahan Surosowan di Banten oleh ayahnya sendiri, Susuhunan Gunung Jati.

 

Juga di tahun 1526, untuk mengatasi perlawanan Sultan Mahmud Syah, Portugis mengirimkan sepasukan tentara dengan kapal besar dibawah pimpinan Pedro Mascarenhaas menuju Bentan. Akibatnya, Sultan Mahmud Syah sekali lagi harus menyingkir, kali ini menuju Kampar, daerah yang dulunya merupakan bawahan Malaka.

 

Sebelum menyingkir ke Kampar, dari Bentan, Sultan Mahmud Syah sempat beberapa kali melancarkan serangan terhadap Portugis di Malaka. Sultan Mahmud Syah juga melakukan blokade perdagangan yang menggangu jalur perniagaan Portugis.

 

Sementara itu, di Kampar, Raja Abdullah telah pula diserang dan berhasil ditangkap oleh Portugis. Ia kemudian diasingkan ke Goa, India. Dengan begitu kekuasaan di Pekantua Kampar pun lowong. Maka, ketika Sultan Mahmud Syah (raja Malaka yang tersingkir karena pendudukan Portugis atas Malaka) tiba di Pekantua Kampar, ia pun dinobatkan menjadi Raja Pekantua Kampar (1526-1528) hingga wafatnya.

 

Pada medio 1527, setahun setelah penaklukkan Banten, Tubagus Pasai bersama 1.452 orang pasukannya menyerang dan berhasil merebut pelabuhan Kalapa. Adipati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakwan juga dapat dipukul mundur. Dalam pertempuran tersebut, keunggulan pasukan Demak terletak pada penggunaan meriam yang pada waktu itu tidak dimiliki oleh pasukan Pajajaran.

 

Di masa kejayaannya, Demak telah mampu membuat atau membeli meriam yang setara dengan milik kapal-kapal Portugis. Menurut catatan Eropa, Demak memiliki tawanan perang seorang Portugis yang kemudian masuk Islam. Pekerjaan orang ini adalah membuat meriam untuk raja. Salah satu hasil karyanya dipakai oleh “Panglima Demak wilayah barat” ketika menaklukkan Banten. Meriam ini kemudian dipajang di depan istana barunya di Banten. Sekarang, meriam itu tersimpan di Museum Nasional Jakarta dan diberi nama Ki Amuk.

 

Sementara itu, keterlambatan bantuan Portugis ke Pajajaran juga terjadi lantara Francisco de Sa —yang ditugasi membangun benteng di Kalapa— diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Dan, setelah pengangkatan itu, baru keberangkatan ke Sunda dipersiapkan dari Goa dengan 6 buah kapal. Akan tetapi, galiun berisi peralatan untuk membangun benteng yang dinaiki De Sa terpaksa ditinggalkan akibat terpaan badai di Teluk Benggala.

 

Setelah lebih dulu singgah di Malaka, kapal-kapal de Sa baru bisa sampai ke Cisadane pada 30 Juni 1527, dimana ia sempat memancangkan padrao dan memberikan nama Cisadane sebagai "Rio de Sa Jorge". Selanjutnya, galiun de Sa pun memisahkan diri. Hanya kapal brigantin dibawah pimpinan Duarte Coelho yang langsung menuju ke Pelabuhan Kalapa.

 

Coelho yang telat mengetahui perubahan situasi di Kalapa, menepikan kapal terlalu dekat ke pantai sehingga menjadi mangsa sergapan pasukan Demak. Meski dengan kerusakan berat dan korban yang banyak, kapal Portugis masih bisa meloloskan diri.

Setelah menunjukkan kemampuannya menaklukkan Sunda Kalapa, Tubagus Pasai kemudian diberi gelar Fatahillah, dan Sunda Kalapa pun disebut sebagai Jayakarta. Lalu, dari Sunda Kalapa, ia mengirimkan pasukannya menuju Kadiri. Dalam pengejaran oleh tentara Demak, orang-orang Kadiri melarikan diri ke Sengguruh, Malang, Pasuruan, Panarukan dan Situbondo.

 

Di tahun 1527, usaha-usaha Portugis di bawah pimpinan Francisco de Mello masih berupaya untuk melawan Aceh. Portugis mencoba mengacau di kuala Aceh. Sebuah kapal Aceh ditenggalamkannya dan semua awak dibunuhnya.

 

Masuk pada medio 1528, Sultan Mahmud Syah I wafat di Pekantua Kampar, dan ia digantikan oleh putra hasil pernikahannya dengan Tun Fatimah, Raja Ali, yang kemudian bergelar Sultan Alauddin Riayat Syah I (Johor) (1528-1530). Sedangkan Tengku Muzaffar Syah (juga putra Sultan Mahmud Syah I) menjadi Sultan Perak yang pertama. Setelah wafatnya, Sulan Mahmud Syah juga dikenal dengan sebutan “Marhum Kampar”.

 

Selanjutnya, Sultan Alauddin Riayat Syah I pergi meninggalkan Kampar menuju Pahang dan dinikahkan oleh Sultan Mansur Shah dengan putrinya, Putri Kusuma Dewi. Dari Pahang, Sultan Alauddin Riayat Shah I lalu pergi ke Kuala Sungai Johor untuk mendirikan Kesultanan Johor, yang lebih dikenal dengan sebutan Kesultanan Johor-Riau-Lingga.

 

Di Jawa, setelah lima tahun peperangan, Cirebon yang didukung sepenuhnya oleh armada Demak berhasil mengalahkan kerajaan Galuh (Pakwan) di sisi selatan Jawa bagian barat. Pasukan meriam Demak datang tepat pada saat pasukan Cirebon mulai terdesak mundur. Tentara Galuh yang hampir unggul tidak berdaya menghadapi "panah besi yang besar, menyemburkan kukus ireng, bersuara seperti guntur dan memuntahkan logam panas".




Sementara itu, di Kerajaan Galuh, Ujang Meni yang bergelar Maharaja Cipta Sanghyang di Galuh berusaha mempertahankan wilayahnya dari serbuan pasukan Cirebon. Namun, karena kekuatan yang tidak seimbang, ia bersama puteranya yang bernama Ujang Ngekel —yang kemudian naik tahta Galuh dengan gelar Prabu di Galuh Cipta Permana (1595-1608), akhirnya bersedia memeluk Islam dan mengakui kekuasaan Cirebon (Demak).

 

Masih dalam medio tahun 1528, Simon de Souza, Gubernur Portugis yang akan ditempatkan di Malaka berkunjung di Aceh bersama armadanya. Dari kapal dicobanya mengadakan hubungan dengan Sultan, dan disambut baik pada awalnya. Sebagai bukti keinginan baik ini, Sultan mempersilahkan de Souza agar turun ke darat menjadi tamunya. Tetapi de Souza menolak.

 

Adanya penolakan turun ke darat membuat Sultan Mughayat Syah curiga. Dari seorang India muslim yang bekerja pada kapal Portugis, diperoleh Sultan bukti-bukti yang mengatakan bahwa de Souza memang sedang bersiap-siap untuk menyerang. Tanpa melewatkan waktu Sultan lalu mendahului serangan sehingga terjadilah pertempuran di perairan itu secara besar-besaran. Armada Portugis dapat dihancurkan oleh Mughayat Syah dan De Souza sendiri tewas bersama beberapa perwira-perwira lainnya, sedangkan selebihnya tertawan. (*)

Jurnalis :Bayu Widiyatmoko
Editor :Jajang Yanuar
Illustrator :
Infografis :
side ads
side ads