Anies Baswedan dan AHY, Figur Alternatif dalam Survei Pilpres 2024

Kuatbaca

25 days ago

“Terdapat kemungkinan alternatif yang dihasilkan oleh sebagian lembaga survei. jauh berbeda daripada kemungkinan utama yang menempatkan Prabowo dan Ganjar sebagai tokoh terpopuler, lembaga ini justru mengendorse positif figur yang berbeda, namun sebagian kecil diantara mereka memiliki hubungan satu sama lain. Sehingga kredibilitas maupun keberpihakan lembaga survei patut dipertanyakan.”

 

 

Menjelang kontestasi Pilpres 2024, berbagai lembaga survei sibuk menyampaikan figur maupun parpol unggulannya sejak 2020. Berdasarkan pengamatan dari Tambang Data Kuatbaca.com (Tadakuba), terdapat dua kemungkinan besar dalam hasil-hasil survei yang dirilis oleh berbagai lembaga. Kemungkinan utama tentu melahirkan hasil survei yang memiliki pola yang tidak jauh berbeda.

 

Tetapi ada beberapa lembaga yang menggunggulkan figur dan parpol yang justru memberikan hasil alternatif daripada yang dipublikasikan oleh kebanyakan lembaga survei.

 

Kebanyakan lembaga survei mengunggulkan tiga parpol utama yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Golongan Karya).

 

Kemudian figur bakal calon presiden (bacapres) utama yang paling diunggulkan oleh kebanyakan lembaga survei ialah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto.

 

Terdapat beberapa lembaga survei yang menggunggulkan parpol yang selaras dengan figur bacapres tersebut, misalnya seperti Charta Politika yang dipimpin oleh Yunarto Wijaya. Sejak 2021 hingga 2022, PDIP selalu menjadi parpol yang paling diunggulkan dalam hasil surveinya. Selaras dengan itu Charta juga tidak pernah lepas mengunggulkan Ganjar Pranowo. Ganjar juga menjadi unggulan dari kebanyakan hasil survei per regional yang dipublish oleh Charta.

 

Namun ada pula yang menyilangkan figur dengan parpol tertentu tetapi masih memiliki hubungan yang baik diantaranya, seperti Indikator politik Indonesia yang berkali-kali mengunggulkan Prabowo Subianto dan PDIP dalam berbagai hasil surveinya.




Kemungkinan Alternatif Lembaga Survei

Dibalik kemungkinan utama yang telah disebutkan diatas, terdapat sebagian lembaga yang justru memberikan endorse positif kepada figur yang berbeda dengan kebanyakan daripadanya, sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

 

Diantara sejumlah lembaga tersebut ialah Indonesia Presidential Studies (IPS), Arus Survei Indonesia (ASI), Indo Barometer, Indonesia Political Opinion (IPO), dan Nyari Presiden (Nyapres) 2024.

 

Mulai dari Indonesia Presidential Studies (IPS), ia menonjolkan Anies Baswedan sebagai bacapres potensial. Meski dari hasil surveinya IPS menempatkan Prabowo sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi, namun Direktur Riset Arman Salam memberikan endorsement positif kepada Anies dengan menyebut Gubernur DKI itu sebagai “Bang Jago” di dalam pemberitaan. Survei itu dijalankan selama April-Mei 2021.

 

Hal itu bukanlah isapan jempol belaka, mengingat Direktur Eksekutif IPS Nyarwi Ahmad juga sempat menilai positif Anies Baswedan bahkan sebelum diadakan Pilpres 2019, tepatnya pada Juli 2018. Ketika itu ia berbicara di Sapa Indonesia Malam Kompas TV membicarakan peluang Anies di panggung politik 2019. Dalam acara itu ia sendiri mengakui bahwa Anies memiliki “daya magnetism politik yang kuat dan juga bisa menarik pasar politik”.

 

Padahal saat itu, masa jabatan Anies sebagai Gubernur DKI baru saja seumur jagung dan Nyarwi juga masih menjabat sebagai Director for Presidential Studies-DECODE UGM.

 

Arus Survei Indonesia (ASI) termasuk salah satu lembaga yang selalu menggunggulkan Anies Baswedan dalam berbagai hasil surveinya. Tidak tanggung-tanggung Direktur Eksekutif ASI Ali Rif’an dalam rilis hasil surveinya menyebutkan bahwa Anies mempunyai nilai tertinggi dari sembilan Indikator yang berpotensi dan memenuhi kapabilitas sebagai calon presiden, dimana survei ini melibatkan 130 pakar atau pembentuk opini publik. Hasil survei tersebut dipublikasikan pada Kamis (13/01/2022).

 

Ali Rif’an sendiri tentu memiliki kedekatan dengan lembaga IPS, karena ia merupakan anggota dari lembaga yang dipimpin oleh Nyarwi Ahmad tersebut, sebagai Research Associate. Nama serta jabatannya tersebut tercantum dalam laman resmi IPS.

 

Satu lembaga survei lagi ialah Indonesia Political Opinion (IPO). Lembaga survei ini menempatkan nama Anies Baswedan sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi dalam berbagai hasil survei yang mereka riliskan selama 2021.

 

Namun, elektabilitas Prabowo mulai menggeser Anies dalam hasil survei mereka pada Februari 2022 dalam skema 30 dan 10 nama figur politik. Meskipun demikian, nama Anies masih menjadi unggulan jika menggunakan skema pendek yaitu dengan hanya menempatkan 5 dan 3 nama tokoh politik terpopuler.

 

"Ketika nama ini berkurang menjadi 5 nama, posisi teratas sudah berubah, yaitu menjadi Anies Baswedan 24,6 persen, Prabowo Subianto 23,9 persen, Ganjar Pranowo 19,2 persen, disusul Agus Harimurti Yudhoyono 7,3 persen, Ridwan Kamil 5,1 persen. Begitu kami kerucutkan lagi di 3 persen masih posisi sama, yaitu Anies Baswedan 33,2 persen, Prabowo Subianto 31,3 persen, Ganjar Pranowo 27,5 persen," ujar Dedi Kurnia Syah Direktur Eksekutif IPO, Sabtu (26/02/2022)

 

Lebih-lebih IPO menyebutkan jika elektabilitas Anies menjadi yang paling stabil dibandingkan dengan tokoh lainnya untuk dijadikan sebagai bakal cawapres. Survei terbaru IPO juga menempatkan Anies tokoh dengan elektabilitas tertinggi dari berbagai skema dalam survei tersebut.

 

Selain itu, Direktur Eksekutif IPO Dedy Kurnia Syah hanya satu kali merilis survei elektabilitas parpol yaitu pada 14 Agustus. Rilis itu menunjukan jika PDIP merupakan parpol dengan elektabilitas terbesar mencapai 19.5%, jauh melampaui parpol-parpol lainnya yang tidak mampu mencapai 15%.

 

Tentu menjadi cukup ganjil jika IPO menyandingkan Anies Baswedan dengan parpol penguasa saat ini yaitu PDIP. Karena hubungan diantaranya dirasa meregang belakangan ini. Hal dapat dilihat dari berbagai kritik dan serangan yang dilancarkan oleh fraksi PDIP di DPRD DKI Jakarta kepada Gubernur DKI Jakarta tersebut.

 

Berbeda dari kebanyakan lembaga survei yang menempatkan banyak nama tokoh dalam surveinya, Nyari Presiden (Nyapres) 2024 hanya memberikan dua pilihan kepada responden yang berusia 41 hingga 50 tahun.

 

Karena survei ini hanya memberikan preferensi antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Moeldoko. Hasilnya AHY lebih berpeluang untuk maju dalam Pilpres 2024 dibandingkan dengan Moeldoko.

 

Di balik bervariasinya hasil survei dari Lembaga-lembaga survei di atas, dapat terlihat adanya kecenderungan untuk berpihak dari sejumlah periset maupun pimpinan lembaga survei terhadap tokoh politik tertentu. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan terkait objektivitas hasil survei. Sehingga memungkinkan preferensi seorang peneliti atau pimpinan lembaga survei dapat mempengaruhi pilihan publik terhadap paslon capres-cawapres menjelang kontestasi Pilpres 2024. (*)

Jurnalis : Ade Pamungkas

Editor : Gery Gugustomo

Illustrasi Cover : Bagus Maulana

Layout Infografis : Zakki Fauzi