VOC di Tengah Adu Penulisan Sejarah Militer abad 17

Kuatbaca

15 days ago

Sisi ekspansi militer Eropa ke luar negeri, di mana VOC digambarkan sebagai pemain paling agresif di abad ke-17, membangkitkan emosi dalam profesi sejarah. Oleh karenanya, lebih mengejutkan lagi bahwa subjek ini tetap dipelajari secara menyeluruh, dan semuanya diabaikan oleh para sejarawan kolonial Belanda di masa lalu dimana baru belakangan ini mulai berubah.

 

 

Sejak era kolonial Belanda berakhir pada tahun 40-an di abad lalu, relatif sedikit perhatian diberikan pada peperangan yang diambil sebagai jalan dalam menegakkan Verenigde Oost-Indische Compagnie (Perusahaan Hindia Timur Belanda, VOC) oleh sejarawan Belanda. Padahal, pada masa kolonial, sejarah militer Belanda di perantauan selalu menjadi sumber cerita epik populer, yang secara heroik mengalahkan Inggris dan Portugis, serta sesekali berkelahi dengan kekuatan lokal di pantai-pantai yang jauh dari kampung halamannya. Padahal tulisan-tulisan semacam itu terbilang sudah ketinggalan zaman.

 

Namun begitu, setelah menjadi terlalu populer, sejarawan yang biasa berkutat pada ekspansi luar negeri Belanda, kemudian mengalihkan perhatian mereka ke aspek lain dari masa lalu kolonial, seperti sistem ekonomi, atau interaksi antara Belanda dan budaya lokal. Akibatnya sejarah militer VOC diam-diam pun lolos tersisih melalui pintu belakang.

 

Sementara sejarawan kolonial Belanda di masa lalu kurang tertarik pada aspek militer dari subjek mereka, hal ini tentu tidak berlaku untuk profesi sejarah secara keseluruhan. Selama beberapa dekade terakhir, eksploitasi militer orang Eropa di luar negeri sekali lagi mampu menjadi topik hangat dalam beberapa bidang sejarah. Salah satunya adalah perdebatan sejarah dunia, terutama soal persinggungan antara Barat dan Timur.

 

Melalui kacamata sejarah, Berbagai literatur berusaha menerangkan mengapa Barat menjadi begitu kaya dan kuat dalam kaitannya dengan seluruh wilayah yang ada di dunia. Banyak penulis menduga bahwa bagian dari jawaban yang mereka cari dapat ditemukan dalam perimbangan militer antara Timur dengan Barat, dimana maksudnya di sini adalah implikasi dari adanya aspek ekspansi militer Eropa ke luar negeri.

 

Para penulis yang biasanya spesialis dalam sejarah Eropa kebanyakan menggambarkan sejarah ekspansi militer sebagai eksponen perkembangan dari apa yang terjadi di Eropa selama periode modern awal. Kemajuan teknologi militer, seperti pengembangan artileri yang baik dan murah, perkembangan fortifikasi, kapal layar bersenjata serta kemajuan di bidang strategi, taktik dan logistik, dipandang sebagai penentu bagi kinerja militer Eropa di luar negeri. Perkembangan ini diklaim juga telah memberikan keunggulan bagi kekuatan Eropa dalam peperangan melawan kekuatan non-Eropa. Oleh karena itu, apa yang disebut sebagai "Kebangkitan Barat" juga dianggap sebagai faktor yang menghasilkan supremasi Eropa atas dunia.

 

Meskipun gagasan bahwa inovasi modern yang dialami militer Barat dapat memberi Eropa keunggulan sejak abad ke-16 dan seterusnya, hal tersebut sekali lagi menjadi isu yang diperdebatan sejak kemunculan karya Geoffrey Parker di tahun 1988, The Military Revolution: Military innovation and the Rise of the West 1500-1800. Kajian ini mengklaim bahwa berbagai perubahan teknologi, strategi, dan logistik persenjataan yang terjadi selama periode Modern Awal, merupakan sebuah Revolusi Militer. Dan, dengan munculnya kolonialisme Eropa, berbagai aspek Revolusi Militer itu kemudian ikut diekspor ke luar batas-batas Eropa, yang dengan berbagai cara juga sangat membantu orang-orang Eropa dalam membungkus sepertiga dunia agar berada di bawah lingkup pengaruh mereka di era sebelum tahun 1800.

 

Dalam nada yang sama, sejarawan militer Jeremy Black menyatakan dalam pengantarnya tentang War in the Early Modern World 1450-1815, bahwa terlepas dari dampak terbatasnya kolonialisme Eropa hingga abad ke-18, yang menjadi fakta terpenting adalah bahwa Eropa mampu memproyeksikan kekuatannya dalam proporsi yang sederhana ke seluruh dunia, dan bukan sebaliknya. Dia menyimpulkan sebuah paragraf, dengan judul jitu “the Rise of the West”, sebagai berikut: “Orang-orang Eropa membentuk kembali dunia, menciptakan ruang dan hubungan politik, ekonomi, demografi, agama dan budaya baru yang masih sangat mempengaruhi dalam dunia yang kita jalani.”

 

Sedangkan di sisi lain, terdapat juga berbagai penulis dari bidang sejarah non-Barat dan antropologi sejarah, yang melihat sejarah perang kolonial Eropa dalam temaram yang sama sekali berbeda. Para penulis ini berusaha menciptakan penyeimbang untuk apa yang di mata mereka dianggap sebagaj pandangan sepihak, dan terlalu berpuas diri tentang pertemuan militer antara Timur dan Barat. Di situ mereka memuji berbagai kekuatan Asia dengan tradisi militernya yang tak kalah kaya serta kemahiran dalam taktik dan strategi, yang betapapun berbedanya dari Eropa, sering kali mampu menyamai dari hal keunggulan.

 

Dalam kasus Asia Tenggara, penulis non-Barat bahkan menekankan tanggal awal di mana berbagai negara pribumi mendapatkan senjata dan para pembuat senjata, kesigapan budaya militer lokal saat memasukkan perangkat militer baru dan menghadapi strategi musuh mereka, juga relevansi yang sangat relatif dari taktik militer barat dalam perang hutan, serta fakta bahwa Belanda meniru inovasi militer dari berbagai negara Asia maupun sebaliknya. Dengan cara ini, penulis-penulis berusaha memberikan Asia sejarah militernya yang otonom, yang di mata mereka telah lama diabaikan atau disalahartikan.

 

Sementara beberapa penulis hanya menjelaskan bahwa pada sisi Asia tentang cerita yang terlalu sering diabaikan, yang lainnya pun bertekad untuk membuktikan bahwa pandangan puas Barat tentang kekuatan militernya sendiri sepenuhnya tidak dapat dibenarkan. Maka, munculah Ricklefs (War, Culture and the Economy in Java, 1677-1726) dan Charney (Southeast Asian Warfare, 1300-1900), yang menentang seperti argumennya Cipolla (Carlo M. Cipolla, Guns, Sails and Empire) dan Parker (Geoffrey Parker The Military Revolution: Military innovation and the Rise of the West, 1500-1800) dengan mengklaim bahwa meriam dan benteng Jawa memiliki standar yang sama dengan yang dimiliki Eropa. Dan, bahwa sedikit keunggulan yang dimiliki oleh orang Eropa dapat selalu dengan cepat ditiru oleh berbagai kekuatan lokal. Demikian pula dengan Anthony Reid (Europe and Southeast Asia: the military balance).

 

Beberapa penulis bahkan ada yang melangkah cukup jauh: Sudjoko, misalnya. Pertama-tama ia menunjukkan bahwa tradisi pembuatan kapal Asia Tenggara lebih tua dan lebih kaya daripada tradisi Eropa, dan menjelaskan perkembangan kesenjangan teknologi sebagai berikut (untuk masa sekitar abad ke-17):

 

“[T]here then, was how the technological gap opened between Holland and Indonesia. By forcibly thwarting the attempts of the militarily weaker party to advance, by destroying its political and economic power, and by stultifying its status into that of servitude, the gap was immeasurably widened”. Sudjoko menuliskan lebih banyak dalam karyanya, Ancient Indonesian technology: Ship building and fire arms production around the sixteenth century, Aspects of Indonesian archaeology (1981).

 

Secara keseluruhan, sisi ekspansi militer Eropa ke luar negeri, di mana VOC digambarkan sebagai pemain paling agresif di abad ke-17, membangkitkan emosi dalam profesi sejarah. Oleh karenanya, lebih mengejutkan lagi bahwa subjek ini tetap dipelajari secara menyeluruh, dan semuanya diabaikan oleh para sejarawan kolonial Belanda di masa lalu dimana baru belakangan ini mulai berubah.



Yakni, ketika tahun 1999, dalam kuliah pengukuhannya sebagai profesor khusus dalam sejarah hubungan Asia-Eropa, Leonard Blussé mengajukan kasus untuk mengembalikan VOC sebagai aktor diplomatik dan politik dalam Tussen geveinsde vrunden en verklaarde vijanden (lecture presented at Leiden University, 8 januari 1999. Amsterdam 1999). Lalu, beberapa tahun kemudian pada tahun 2002, sebuah volume yang diedit tentang peran VOC dalam perang dan diplomasi juga muncul; Gerrit Knaap en Ger Teitler eds., De Verenigde Oost-Indische Compagnie: Tussen oorlog en diplomatie, verhandelingen KITLV, 197 (Leiden 2002). Meskipun masih jauh dari dapat disebut mampu merumuskan visi baru yang koheren tentang keputusan perang yang diakomodir VOC, buku ini sekali lagi membawa sisi militer VOC untuk menjadi perhatian yang tersendiri.

 

Bagi Tristan Mostert, yang pada tahun 2007 membikin Master Thesis-nya di Department of History, Research Master of the History of European Expansion and Global Interaction, Universitas Leiden, persandingan antara Barat dan Timur sebagai yang unggul dan mengungguli masih belum cukup menjawab bagaimana kekhasan VOC dapat dikupas di antara semua konkurensi pada abad 17. Baginya, VOC berdiri di atas kemampuannya sendiri di antara kemajuan Barat terhadap Timur. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Rahma Monika

Layout Infografis : Rahma Monika