Ulama Paling Berpengaruh di Kesultanan Aceh - [Sumatera Eps 03]

Kuatbaca

22 days ago

Syaikh Syamsuddin Sumatrani merupakan ulama paling berpengaruh di Kesultanan Aceh. Ia banyak disebut dalam berbagai catatan para pengelana Eropa ke Aceh, hingga disebut "Schech is den raetsheer van den Conink" oleh Frederick de Houtman.

 

 

Syaikh Syamsuddin Sumatrani, mufti kerajaan Aceh Darussalam, wafat pada 12 Rajab 1039 H atau 24 Februari 1630 M. Selama beberapa dasawarsa terakhir dari masa hidupnya ia merupakan tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani. Dan, sebagaimana Hamzah Fansuri, pemikiran-pemikirannya turut pula mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh Sultan. Sebelum mendampingi Sultan Iskandar Muda, Syekh Syamsuddin sudah bertugas sejak di masa Alauddin Riayat Syah Saidi al-Mukammal.

 

Dari hasil penelitian Prof. Dr. Azis Dahlan, diketahui adanya sejumlah karya tulis yang dinyatakan sebagai bagian atau berasal dari karangan-karangan Syamsuddin Sumatrani, atau disebutkan bahwa Syamsuddin Sumatrani yang mengatakan pengajaran itu.

 

Van Nieuwenhuijze mencatat sebanyak 12 macam, sebagian berupa koleksi Dr. Snouck Hurgronje dan sebagian dicatat dalam katalugus van Ronkel, Joynboll, dan lain-lain, sepanjang diketahui tersimpan dalam perpustakaan Belanda di Leiden. Di antara yang ditulis dalam bahasa Arab berjudul Jauhar al Haqa'iq, kitab yang menyajikan pengajaran tentang martabat tujuh dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kemudian dalam bahasa Arab dan Malayu: Nur'ul-daqa'iq, Mir'at al-mu'minin, Risalatu'l-bayyin mulahazat al-muwahhidin wa'l-mulhiddin fi zikr Allah. (bahasa Arab).

 

“Min'atu'l iman (bahasa Malayu), Zikr da'ra "qab Qausain au adna" (bahasa Melayu), Mir'at almuhaqqiqin, Mir'at al-haqiqa, tanbih al-tullah dan mungkin sekali Sarh ruba'i Hamzah Al-Fansuri yang belum berhasil disimpan naskahnya oleh perpustakaan-perpustakaan. Van Nieuwenhuijze juga menyimpulkan bahwa Syamsuddin seorang di antara pemikir bangsa Indonesia yang terbesar pada zamannya.

 

Nuruddin Ar-Raniri mencatat kewafatannya dengan sepatah kalimat positif: "Syahdan pada masa itulah wafat Syekh Syamsuddin Ibn Abdu'llah as-Sumatrani pada malam Isnin dua belas hari bulan Rajab pada Hijriah 1039 tahun. Adapun Syekh itu alim pada sagala 'ilmu dan ialah yang masyhur pengetahuannya pada 'ilmu tasauwuf dan beberapa kitab yang dita'lifkannya". Begitu tetap terasa kesan takzim Nuruddin Ar-Raniri kepada Syaikh Syamsuddin meski ia menentang paham yang diajarkannya.

 

Ketika Nuruddin Ar-Raniri naik menjadi mufti Kesultanan Aceh, ia memberedel paham Wahdatul Wujud yang dianut Syamsuddin Sumatrani. Akan tetapi, Nuruddin kemudian tersingkir dan Aceh mengambil kembali apa yang dulu diajarkan oleh Syamsuddin.

 

Bersumber dari bahan-bahan yang ditulis orang-orang Barat tentang Syamsuddin, terutama berupa kesan-kesan mereka ketika meninjau Aceh, pada umumnya tidak memperkenalkan secara langsung nama Syamsuddin Sumatrani, melainkan sekedar jabatan atau pangkatnya. Di antara kesan-kesan John Davis (John Davis dalam "De Voyagien van John Davis, Gedaan na Oost Indien. In de Jaren 1568 an 1604". Leiden. Dan, juga Van Nieuwwnhuijze) ketika menyinggung laporan kesaksian matanya yang menyebut dari Aceh sudah banyak sekali pesantren, semua anak-anak ramai belajar, maka juga terdapat catatannya sebagai berikut:

 

"Sy hebben sen Aarts bishop en geestelijke personen ook is er tot Achin een Propheet dien sy groote eer bewijsen, men geeft voor dat hy den geest der Prophetie heeft gelijk de oude gehad hebben: hij is in kleding van andere onderscheyden en word van den Koning ongemeend gevleyd", Maksud Davis dengan catatannya untuk mengatakan bahwa waktu itu Aceh mempunyai Kepala Ulama dan banyak orang orang alim. Juga ada seorang yang disebutnya sebagai "Propheet" (Nabi), ditandai pula dengan kelainan pakaiannya. Tokoh itu amat dihormati oleh Raja.

 

James Lancaster menyebutnya "Chiefe Bishope of the real" ("The Voyages of Sir Jamas Lancaster" 1877. Juga, disinggung oleh Professor Naguib Al Attas dalam "Raniri and Wujudiyah"). Suatu dialog antara Lancaster dengan Syekh Syamsuddin terdapat dalam kesan-kesan Lancaster, ketika Syekh sedang meragukan bahwa permohonan orang Inggris tersebut untuk berdagang akan dapat diterima oleh Sultan.




Selanjutnya Syekh Syamsuddin menyarankan supaya alasan-alasan dimaksud dijelaskan dengan tertulis, dan segera harus dapat dipersembahkan kepada Sultan. Catatan mengenai dialog ini membuktikan cukupnya peranan Syekh Syamsuddin dalam mendampingi Sultan, tidak di bidang agama saja, tetapi juga bidang ekonomi dan hubungan luar. Hal ini ditegaskan pula oleh Teuku Iskandar, bahwa Syamsuddin sebagai penasehat bagian agama dari Sultan Iskandar Muda, tidak hanya mengambil bagian dalam soal-soal dalam negeri, melainkan juga bidang politik luar negeri.

 

Frederick de Houtman menyebut Syamsuddin Sumatrani sebagai "Schech is den raetsheer van den Conink", ketika dicatatnya ada turut hadir dalam pertemuan 7 orang di masa Sultan berkesempatan menerima kedua de Houtman tepat di tanggal 10 September 1599. Waktu itu menurut Frederick dalam bukunya ("Cort Verheel Van Gene Wederuaren is Frederick de Houtman tot Atchein, ens" G.B. Van Goor en Zonen, 1880) turut juga hadir Sabandaer (Syahbandar) dan Corcon (Keureukun Katibu'l-muluk).

 

Dari catatan ini jelas juga bahwa posisi atau status Syekh Syamsuddin sebagai pendamping Sultan Al Mukammal adalah diatas mereka. Juga jelas penyertaannya yang menentukan dalam bidang ekonomi dan luar negeri tersebut. Di lembaran lain dari kisah Frederick nama Syekh (kadang-kadang diejanya "Chechqe", kadang-kadang Sheech") cukup banyak disebut-sebut dalam kesan-kesannya tersebut. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Priyana Nur Hasanah

Layout Infografis : Priyana Nur Hasanah