Sultan Iskandar Tsani, Pengganti Iskandar Muda - [Sumatera Eps. 04]

Kuatbaca

20 days ago

Sultan Iskandar Tsani menjadi raja Aceh dalam kurun waktu 1636 hingga 1641 Masehi. Diakhir hayatnya Malaka jatuh ke tangan Belanda dan dikembangkan sebagai basis militer, tidak lagi sebagai pusat perdagangan. Iskandar Tsani menjadi raja terakhir Aceh sebagai daerah yang maju.

 

 

 

Sultan Iskandar Tsani wafat pada 15 Februari 1641. Kemudian, janda Sultan Iskandar Tsani (putri Sultan Iskandar Muda), Putri Safiah, oleh Panglima Polim dilantik untuk memegang tahta di Aceh dengan gelar Paduka Sri Sultan Taj'al-'Alam Tsafiatu'ddin Syah Berdaulat Zillu'lahi Fi'l 'Alam binti's Sultan Raja Iskandar Muda Johan Berdaulat (1641-1675). Putri Safiah adalah anak dari Putri Sani, dan Putri Sani adalah anak dari Daeng Mansur, seorang ulama asal Bugis yang menjadi Kadi Besar Kesultanan Aceh bergelar Syekh Daim bin Syekh Abdullah Al-Malikul Amin.

 

Ketika Sultan Iskandar Muda wafat dalam usia yang terbilang masih cukup muda, yaitu 46 tahun (27 Desember 1636 atau 27 Rajab 1045 H), dikarenakan tidak ada penerus laki-laki, maka tahta Aceh kemudian dipegang oleh menantunya yang kemudian bergelar Sultan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah (1636-1641). Ia adalah seorang anak dari sultan Pahang, Raja Mughal atau Raja Iskandar, yang menjadi suami dari Sri Safiatuddin Tajul Alam.

 

Dulu, selain menyerang Johor di tahun 1619, Aceh juga mengirimkan angkatan perangnya sebanyak 17.000 orang untuk menyerang Pahang yang dikabarkan telah membina persekutuan dengan Portugis. Negeri itupun dapat dikalahkan. Sultan Ahmad dan istrinya serta anaknya dari puteri Siak, telah dibawa sebagai tawanan perang Aceh. Maka anak dari Sultan Ahmad dan putri Siak inlah yang yang kemudian naik sebagai Sultan Iskandar Tsani, meneruskan tahta dari Sultan Iskandar Muda.

 

Meskipun menantu Sultan Iskandar Muda yang Kemudian diangkat untuk menduduki tahta di Aceh, tetapi kekuatan yang besar telah lebih dulu diberikan kepada Panglima Polim Muda Sakti, yang menjadi pemimpin “Sagi 20 Mukim” dan sekaligus berperan sebagai pelantik raja-raja Aceh selanjutnya. Ia adalah putra tertua Sultan Iskandar Muda melalui selir dari Habsyi. Sebelumnya, Panglima Polim Muda Sakti dikenal pula dengan sebutan Imam Hitam atau Tengku Di Bateu Timoh. Selain karena statusnya sebagai putra dari selir, sebagai Panglima Polim iapun tidak berhak menjadi raja.

 

Babak pemerintahan Sultan Iskandar Tsani dihiasi oleh Bustanu's-Salatin dengan puji-pujian tinggi yang menunjukkan tercapainya perubahan-perubahan baru. Antara lain baik dikutip tanpa merobah kalimatnya sebagai berikut:

 

"Adalah pada ketika itu segala manusia umpama sagala tumbuh-tumbuhan yang merasai panas yang amat sangat maka tatkala terdirilah payung daulatnya maka beroleh naunglah sekalian mereka itu dibawahnya dan beroleh rahmatlah mereka itu dari pada limpah hujan karunianya dan adalah suka cita hati segala manusia umpama segala bunga-bungaan yang kena rintik-rintik hujan pada ketika dini hari maka segala bunga-bungaan itupun kembanglah dan semerbaklah baunya kepada segala pihak negeri maka bertiuplah angin bahagianya dan bersinarlah matahari kemuliaan dan berdirilah alam daulatnya dan berkibarlah segala panji-panji sa'adahnya maka masyhurlah gahnya yang adil dan sifatnya yang kamil kepada pihak segala negeri maka datanglah bahtera masing-masing dari negerinya maka adalah masa itu Bandar Darus-Salam pun terlalu makmur dan makanan pun sangat murah dan segala manusiapun dalam kesentosaan".

 

Dan, disebut pula bahwa Iskandar Tsani seorang yang adil, bijaksana dan pengasih pada rakyatnya. Dikatakan bahwa di masa pemerintahannya dikeluarkan larangan bekerja bagi anak-anak dibawah umur. Sultan tersebut suka mengampuni orang bersalah bila ampun dimohonkan. Tapi tidak diberikan ampun jika mengenai nyawa manusia.

 

Iskandar Tsani wafat dan tidak meninggalkan putera sebagai pewaris tahta. Seorang tokoh Belanda bernama Nicolaus de Graaff dari Alkmaar, seorang doktor yang ditempatkan di tahun 1641 oleh VOC di Aceh untuk mengepalai kantor dagang Belanda disitu, menulis kesan-kesannya antara lain: "In de tijd dat ik in Achin lag is de Koning overleden, veroorsakende een groote opschudding onder de Grooten, waardoor veel volk om't leven geraakte; en onse Logie vier a vijf dagen gesloten hielden; want ieder wilde koning zijn. Eindelijk wierd de Koninginne uitgeroepen als Regente van't Koningrijk, en heft ook veel jaren na die tijd als een treffelijk Vorstin geregeert".

 

Maksudnya dengan ringkas: ketika De Graaff disana, Raja mangkat, lalu terbit kegoncangan di kalangan orang-orang besar, yang berakibat banyak penduduk tewas. “Kantor kita ditutup 4 sampai 5 hari. Karena setiap orang ingin menjadi Raja. Akhirnya diserukanlah Ratu untuk menjadi pemangku menjalankan jabatan itu dengan berhasil untuk beberapa tahun lamanya.

 

Akan tetapi, Mohammad Said dalam bukunya (Aceh Sepanjang Abad, jilid 1), menyangsikan keterangan Belanda tersebut. Yang tidak benar dari cerita ini ialah perebutan untuk menduduki singgasana. Sebab, sebagai ternyata dari kesan-kesan berikut ini, 7 hari sesudah Iskandar Tsani mangkat, permaisuri telah memperintahkan membuat persiapan untuk melaksanakan upacara adat yang besar, yang disebut upacara Pula Batee, yaitu upacara memasang batu nisan yang dilangsungkan setelah 44 hari raja meninggal.

 

Upacara tersebut telah berlangsung sedemikian besar, dan tidak mungkin jika memang terjadi perebutan tahta, masih terluang perhatian untuk mengurus upacara sebesar itu. Mohammad Said menyimpulkan bahwa persoalan pengganti Sultan Iskandar Tsani telah diselesaikan secara cepat, pertama dikarenakan waris sultan laki-laki tidak ada, dan juga karena Sri Alam adalah puteri marhum Mahkota Alam yang figurnya demikian besar.

 

Sedangkan menurut de Graaff sendiri, ketika upacara mengebumikan jenazah Sultan tidak kurang dari 260 ekor gajah tunggangan dikeluarkan untuk diturunkan dalam pawai perarakan, semuanya dibajui dengan beludru, gadingnya dibalut emas. Di belakangnya dipasang anjung empat segi dibalut emas dan perak sekelilingnya. Juga diturutkan dalam pawai beberapa ekor badak dan sejumlah kuda Parsi, dibajui dan dihiasi dengan tekatan emas dan perak, dengan pakaian yang indah. Ribuan wanita (dayang-dayang dan ibu-ibu) turut dalam pawai. Keranda jenazah terbikin dari suasa, ditutup dengan beludru emas. Demikian menurut laporan pandangan mata Belanda, de Graaff, yang katanya perarakan yang dilihatnya waktu itu adalah untuk mangantarkan jenazah ke makam.




Demikian pula berlangsung secara adat biasa, Raja mangkat Raja pula yang mengebumikan, dan kitab Bustanu's-Salatin mencatatnya sebagai saksi mata bahwa Taj'al-'Alam ditabalkan pada hari itu juga ketika suaminya meninggal.

 

Meskipun dari upacara pemakaman tersebut masih terlihat kesan-kesan kebesaran, namun sejak saat itu kekuasaan Aceh bisa dibilang mulai merosot, terutama disebabkan oleh faktor jatuhnya Malaka ke tangan Belanda (sebulan sebelum wafatnya Iskandar Tsani). Dan, sesuai dengan cerita Valentijn, segera setelah Malaka dipegang Belanda, kota itu dibentengi kuat-kuat. Dikatakannya: "een respectabal fort van groots kracht met sterke muren en bastions, goed van kanonnen voorzien".

 

Oleh Belanda, Malaka kemudian tidak dibangun menjadi kota perdagangan sebagaimana kebesarannya di abad-abad silam, melainkan lebih sebagai basis militer untuk mengamankan gerakannya terhadap negeri-negeri yang ada di sepanjang Selat Malaka maupun laju orang-orang Eropa di Timur Jauh. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Bagus Maulana

Layout Infografis : Zakki Fauzi