Provokasi dan Konfrontasi VOC di Palembang - [Sumatera Eps 02]

Kuatbaca

23 days ago

Pada tanggal 22 Agustus 1658, beberapa bangsawan Palembang naik ke atas kapal yacht Belanda yang bernama Jacatra dan de Wachter. Mereka membunuh Ockerz (Kapiten Panjang) beserta 42 orang Belanda dan menawan 28 orang Belanda yang lainnya. Peristiwa ini dilatari oleh kecurangan-kecurangan yang dilakukan orang Belanda dan perilaku tidak baik yang diperlihatkan oleh Cornelis Ockerz, wakil perdagangan VOC di Palembang.

 

 

Pada mulanya, Kedatangan Ockerz ke Palembang disebabkan wakil perdagangan VOC yang lama, Anthonij Boeij, tidak dapat melaksanakan tugas karena jatuh sakit. Untuk itu, VOC menunjuk Ockerz yang sebelumnya dicadangkan diangkat di Jambi untuk menggantikan Jacob Nolpe. Akan tetapi, pangeran dan bangsawan Jambi menolaknya.

 

Dengan surat resmi bertanggal 15 Januari 1657, Pangeran Jambi menyampaikan keberatannya terhadap Ockerz yang akan mewakili VOC di Jambi. Mereka menghendaki asisten Jan Wissingh, juru tulis Nolpe, untuk menggantikannya. Oleh penguasa Jambi, Ockerz dianggap tidak menyenangkan, selain mempunyai reputasi yang tidak baik di kawasan Sumatera. Pemerintah VOC di Batavia kemudian menerima penolakan penguasa Jambi tersebut. Ockerz tidak ditempatkan di Jambi dan ia digantikan oleh Pieter de Goijer. Ockerz selanjutnya akan ditempatkan di Palembang.

 

Ockerz datang pertama kali untuk melaksanakan tugasnya di Palembang pada tanggal 22 Februari 1658. Namun, pada masa tugas pertama ini ia telah mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kontraknya. Maka, pada 9 Juni 1658 Ockerz kembali ke Batavia guna melaporkan hasil tugasnya di Palembang.

 

Ockerz tiba lagi ke Palembang tanggal 25 Juni 1658 dengan membawa kapal Jacatra. Kedatangannya kali ini menerbitkan peristiwa bentrokan yang gawat. Ia menahan beberapa kapal tidak jauh di hilir kota, sebelum kraton, dimana di antara kapal yang ditahan itu terdapat milik putra mahkota Mataram. Ketika tembak-menembak terjadi, beberapa peluru jatuh di kota dan istana. Seorang Jawa terluka berat dan dua penduduk luka ringan. Kemudian, orang Belanda menyeret pula sebuah jung asal Kamboja yang bersandar di depan kraton dimana orang-orang Palembang kemudian berusaha menghalanginya dengan memotong tali pada jung tersebut. Tetapi Ockerz mencoba mencegah tindakan orang-orang Palembang itu dengan menembaki kota dan jung tersebut. Pada akhirnya insiden ini dapat diselesaikan dengan damai.

 

Menurut laporan Van der Laen, dua bulan sebelum kedatangannya memimpin armada Belanda untuk menyerang Palembang, Pangeran Palembang telah mengirimkan dua orang utusan ke Johor guna meminta bantuan, meskipun masalah insiden itu telah diselesaikan. Di samping itu, Pangeran Palembang masih menyimpan dendam pada Anthonij Boeij yang telah meremehkan pangeran dengan membakar kapal Cina Quinamer, padahal telah mendapat izin pangeran untuk berniaga ke Palembang. Akibatnya, Boeij merasa terancam jiwanya dan tidak kembali lagi ke Palembang. Selain itu, pangeran telah merasakan bahwa si Kapiten Panjang (Ockerz) akan bertindak semaunya melebihi pendahulunya.

 

Penyelesaian damai atas insiden Ockerz diadakan secara kebesaran, ditingkah dengan tetabuhan dan bunyi-bunyian. Ockerz bahkan dihadiahi tombak dan keris serta diangkat sebagai Tumenggung dan diberi gelar sebagai “Putera Pangeran”. Akan tetapi, kemudian berlangsung tragedi pembunuhan terhadap Ockerz.

 

Kabar mengenai dibantainya Ockerz dan orang-orang Belanda tersebut segera diterima Batavia. Peristiwa ini dianggap sebagai penghianatan yang kejam dan Batavia mengirimkan Johan Truijtman ke Palembang dengan tugas diantaranya: memberi tekanan kepada Palembang dengan blokade lalu lintas pelayaran; mengadakan perundingan dengan Pangeran Palembang; paling tidak supaya diberikan ganti rugi; pembebasan para tawanan; pemulihan hubungan yang lama.

 

Pada tanggal 15 dan 29 Desember 1658, dua buah surat Pangeran Palembang disampaikan kepada Truijtman. Pangeran menyetujui pemulihan hubungan, “tetapi tetap mempersalahkan si Kapiten Panjang (Ockerz) sebagai biang keladinya, sedangkan Batavia tidak melakukan kesalahan apapun, ........tetapi Kapiten Panjang itu sendiri saja yang salah, itulah sebabnya Pangeran memerintahkan supaya ia dibunuh.” Pada perundingan yang dilakukan secara tidak langsung tersebut, surat dari Pangeran Palembang juga dilampiri dengan surat dari tawanan Jacob de Graff dan ahli bedah Mr. Isaach.

 

Sementara selagi perundingan berlangsung, pertempuran diadakan oleh orang-orang Palembang guna menjebol blokade lalu-lintas pelayaran yang dilakukan armada VOC. Guna mengatasi rintangan-rintangan dari kapal-kapal Belanda, orang-orang Palembang memanfaatkan kedua kapal rampasan mereka sebelumnya. Kedua kapal itu digerakkan dengan dayung panjang dan ditarik oleh sejumlah perahu kecil. Kiranya kedua kapal itu akan ditabrakkan ke kapal-kapal Belanda yang menghadang.

 

Sebaliknya, dari kapal-kapal Belanda tersebut dimuntahkan peluru-peluru meriam dan senapan dengan gencar, sehingga upaya pihak Palembang menemui kegagalan. Maka, untuk meredakan pertempuran ini, Pangeran Palembang mengirimkan tawanannya, Isaach, kepada Truijtman, sedangkan yang lainnya tetap ditawan.

 

Sementara itu, Jambi yang tidak senang dengan Palembang, melihat peluang ini sebagai suatu yang menguntungkan bila VOC langsung saja menyerbu Palembang, tidak dengan hanya blokade, demikian pernyataan Pangeran Jambi ke VOC (Dagregister, 7 Februari 1659).

 

Setelah misi perundingan VOC ke Palembang dibawah pimpinan Truijtman tidak membuahkan hasil yang berarti dan mengalami kebuntuan, untuk membalas tindakan bangsawan-bangsawan Palembang terhadap Ockerz di tahun sebelumnya, maka VOC mengirimkan dari Batavia armada dibawah pimpinan Johan Van der Laen. Pemberangkatan armada ini diberkati doa oleh para pendeta dan dimintakan selama tugas armada ini, pada saat kebaktian umum dipanjatkan doa kemenangan, sehingga pangeran Moor (Islam) lainnya di sekitarnya akan menjadi takut (Daghregister, 18/19 Oktober 1659).

 

Selain kapal Oranje sebagai kapal komando, armada VOC yang dipimpin Van der Laen terdiri dari 3 yacht, 2 chialoup, 13 buah kapal berbagai bentuk dan ukuran lengkap dengan peralatan perang, serta melibatkan 700 orang serdadu infanteri berpengalaman, dengan 600 orang pelaut. Pada tanggal 4 November 1659, armada VOC sampai di Palembang setelah 17 hari melawan gelombang laut. Dan, empat hari kemudian, serangan pun dimulai. Serangan ini disambut meriah oleh tembakan-tembakan dari Pulau Kembaro, Plaju, dan Bagus Kuning. Namun, ketiga benteng yang diperkuat dengan 73 meriam itu satu per satu jatuh, dan jalan ke Kuto Gawang pun terbuka.

 

Dan, setelah pasukan VOC berhasil menduduki Kuto Gawang, di dalam kota benteng tersebut ditemui mayat-mayat tawanan Belanda yang terhujam keris. Hal ini semakin meluapkan kemarahan Belanda yang kemudian melakukan penjarahan dan pembakaran habis Kuto Gawang pada tanggal 24 November 1659. Tiga hari lamanya pasukan Belanda baru dapat membumihanguskan Kuto Gawang. Sebanyak 73 meriam dari tembaga dan besi, 150 alat penembak dari tembaga, senapan-senapan dan peluru dirampas. Sementara itu, Kapal Jacatra tenggelam dan kapal De Wachter terbakar.

 

Kemenangan VOC atas Palembang kemudian dirayakan dengan meriah di Batavia. Lonceng-lonceng berbunyi, meriam-meriam berdentum, api unggun dari pek menyala-nyala di jalan. Sedangkan di Gereja Agung doa syukur dipanjatkan.




Namun demikian, berkenaan dengan hancurnya Kuto Gawang, menurut J.W.J. Wellan, kemenangan Belanda atas Palembang itu lebih banyak ditentukan oleh “nasib baik” pasukan Belanda, dan Palembang sedang dalam keadaaan “sial”. Disamping itu, keuntungan pasukan Belanda juga diperoleh karena adanya bocoran informasi yang didapat dari Jambi.

 

Beberapa orang yang berhasil meloloskan diri ketika terjadi penyerangan terhadap Ockerz menyampaikan kabar tentang kejadian itu kepada pedagang Belanda bernama Pieter de Goyer yang berada di Jambi. Kemudian, residen yang mempunyai hubungan yang baik dengan Raja Jambi ini, menerima daripadanya beberapa petunjuk mengenai cara dan bagaimana Palembang akan ditaklukkan tanpa banyak kesulitan. Dia menjelaskan petunjuk-petunjuknya dengan sebuah sketsa dari kayu arang, copy-nya: satu Calque kini tersimpan di Rijks Archief di s-Gravenhage.

 

Di samping itu, Mataram yang menganggap Palembang sebagai kawulanya, ternyata juga tidak memberikan reaksi apapun yang bisa membantu Palembang. Bahkan, susuhunan Mataram menyatakan: “tidak seorang pun datang dari seberang yang lebih baik sifatnya daripata kapiten Moor di Batavia. Lagipula segala apa yang diperlukan diberikannya (Dagregister, 7 Oktober 1659). Oleh karena itu pula, orang Palembang yang menghadap ke Mataram tidak berani menyampaikan apa yang sedang terjadi di negerinya, “masalah perang sama sekali tidak disinggung oleh orang Palembang” (Dagregister, 13 November 1659). (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Bagus Maulana

Layout Infografis : Zakki Fauzi