Aceh Memukul Habis Pengaruh Portugis di Sumatera - [Sumatera Eps.01]

Kuatbaca

25 days ago

Penaklukan Sultan Iskandar Muda terhadap kerajaan-kerajaan di sekeliling Aceh dilatari pengkhianatan Johor dibawah Raja Bungsu. Pangkalan pertahanan Portugis dibumihanguskan, sehingga Portugis benar-benar terpukul dari wilayah Sumatera. Inggris menjadi mitra Aceh yang menstimulasi kepercayaan diri Sultan Iskandar Muda untuk memukul mundur Portugis. Namun, diam-diam Belanda menyeringai situasi ini dengan muslihat janji berkirim bantuan untuk Aceh.

 

 

Pada tanggal 16 Oktober 1610, datang utusan Portugis, Joan Lopez d'Amoriera, dari Malaka ke Batu Sawar (Johor) untuk menyempurnakan persetujuan bahu-membahu menentang Belanda. Nampaknya, setelah adanya perjanjian antara Johor dengan Belanda (1606) untuk memukul Portugis di Malaka, kali ini Sultan Alauddin mencoba peruntungannya bersama-sama Portugis guna menghadapi Belanda yang tidak bersedia diajaknya melawan Aceh.

 

Di tahun 1612, Sultan Iskandar Muda berhasil merebut kembali Aru dari pendudukan Johor yang dibantu oleh Portugis. Setelah itu, sebuah angkatan perang juga dikirimkan untuk menaklukkan Batubara, Asahan, lalu terus ke pantai-pantai Labohan Batu dan Panai (Labohan Bilik), kemudian dari situ dikirim pula pasukan ke Bentan (Kepulauan Riau).

 

Aceh kemudian memberangkatkan pasukan besar untuk memerangi Johor pada kisaran Mei-Juli 1613. Dalam serangan ini Raja Abdullah alias Raja Bungsu berhasil ditangkap dan kemudian dipindahkan ke Aceh. Dan, turut juga tertangkap Bendahara, Tun Sri Lanang, pengarang "Sejarah Melayu" (Sulalatus Salatin). Serta dapat juga ditangkap Raja Siak, ipar Sultan Ala'uddin Riayat Shah II yang dikabarkan kebetulan melawat kesitu dan ikut terkepung. Selain itu, di dalam rombongan tawanan tersebut ada pula 22 orang Belanda yang kemudian dikembalikan pada Kompeni (VOC), setelah Batavia mengatakan bahwa mereka berposisi netral dan Aceh juga masih menjalin hubungan dengan Republik Belanda.

 

Meskipun sejak berbulan-bulan sebelumnya sudah tersiar adanya persiapan besar untuk menyerang Johor, dalam serangan Aceh kali ini, baik Belanda maupun Portugis tidak memberikan bantuan apa-apa terhadap Johor. Baik benteng Batu Sawar (Sultan Alauddin Riayat Syah III) maupun daerah "seberang" (tempat Raja Abdullah mengelola pemerintahan Johor), kedua-duanya dihancurkan rata dengan bumi oleh penyerangan Aceh. Alat-alat perang juga banyak dirampas, termasuk sebuah meriam besar "Sri Rambai", yang sekarang masih ada di Penang, turut disita. Meriam ini adalah pemberian Matelief (Belanda) pada Sultan Johor.

 

Di selang masa ini, pada 13 April 1613, Thomas Best mendarat di Aceh. Ia bertindak sebagai jenderal atau panglima laut dengan memimpin armada niaga yang sekaligus bertugas juga sebagai kapal perang. Thomas Best datang sebagai utusan resmi Raja Inggris demi suatu kunjungan muhibbah, dengan membawa sendiri surat James I Raja Inggris kepada sultan Aceh.

 

Dari catatan Croft, pembantu utama Thomas Best (The Voyage of Thomas Bast to the Indies 1612 (1818) oleh Wim Fuster) bertanggal 28 Juni 1613, pada tanggal itu disebut bahwa pesan Sultan Iskandar Muda disampaikan pada Best yang mengatakan Sultan Iskandar belum lagi dapat menerimanya menghadap hari itu, berhubung Sultan sibuk sekali karena armadanya baru saja kembali dari Johor, membawa tawanan perang, termasuk diantaranya adalah Sultan Johor sendiri (Raja Bungsu).

 

Setelah itu, Sultan berkenan mengirim kendaraan gajah berbaju keemasan untuk Thomas Best menghadap Sultan dan mengantarkan surat Raja Inggris yang dibawanya. Ia disertai oleh 40 pengiring kehormatan. Surat itu sempat dikembalikan karena Sultan ingin supaya diterjemahkan dulu ke bahasa Melayu. Dengan salinan ini, surat itu disampaikan lagi pada Sultan dan ia menyatakan senang. Sebagai biasa, dalam menghormati duta-duta besar asing, Sultan mengadakan pertunjukan-pertunjukan seperti adu kerbau. Sesudah itu Sultan mengadakan jamuan (banket) untuk Best, katanya tidak kurang 400 hidangan dari berbagai ragam ("The Voyage"). Keesokan harinya, Best diterima lagi oleh Sultan, untuk meneliti kemungkinan kesempatan berniaga bagi orang Inggris, dan juga mempelajari apa yang sudah pernah diizinkan oleh kakeknya, Sultan Alau'ddin Ri'ayat Syah Saidi al-Mukammil, di masa kedatangan James Lancaster.

 

Selagi kapal-kapal Thomas Best berada di perairan Aceh, tiba-tiba muncul kapal Portugis. Thomas Best mengerahkan angkatannya untuk memukul serta merampas kapal Portugis itu. Setelah selesai dilucuti, Thomas Best menyerahkan para tawanan dan kapal Portugis kepada Sultan. Sultan gembira dengan sikap positif Thomas Best tersebut. Untuk jasa ini Sultan pun menghadiahkan gelar kehormatan pada Thomas Best dengan sebutan "Orang Kaya Putih". Sultan juga memerintahkan agar rakyat bertutur sapa kepada Best dengan tidak lagi menyebut namanya, tetapi gelarnya saja. Selain itu, Sultan juga bersedia menjual kemenyan yang waktu itu sudah tersedia (terkumpul) di pelabuhan kepada Best dengan harga murah, seberapa saja ditawar oleh Best. Kemenyan tersebut segera dimuat ke kapal Best dengan harga penjualan 25 tahil per bahar, sedangkan harga pasaran masa itu antara 34 dan 35 per bahar.

 

Thomas Best meninggalkan Aceh pada 12 Juli 1613. Ia berangkat dengan membawa surat jawaban dan tanda mata untuk Raja James I di Inggris.

 

Berkenaan dengan perkembangan selanjutnya antara Aceh dan Johor, Sultan Iskandar Muda memberi kesempatan kepada Raja Bungsu untuk balik ke Johor. Untuk mengeratkan tali hubungan, Raja Bungsu juga dikawinkan oleh Sultan Iskandar Muda dengan adiknya. CA. Gibson Hill mencatat pernikahan berlangsung antara bulan Juli dengan Oktober 1613.

 

Usai penaklukan, Sultan Iskandar Muda juga menyetujui agar Johor dibangun kembali. Ia sendiri yang menginisiasi dan membantu pembangunannya.

 

Menjelang akhir tahun 1613, diberangkatkan rombongan Raja Bungsu itu ke Johor, dengan upacara dan penghormatan. Sejumlah 30 kapal diberangkatkan penuh dengan alat-alat dan barang-barang yang diperlukan untuk membangun kembali benteng dan lain-lain di Batu Sawar. Dua ribu orang Aceh turut disertakan dalam perangkatan ini guna membantu segala pekerjaan pembangunan yang diperlukan.

 

Setibanya di Johor, diumumkanlah bahwa Raja Bungsu naik tahta menjadi Sultan Johor dengan gelar Sultan Abdullah Ma'yat Syah. Raja Bungsu diangkat menjadi sultan di Johor yang berdaulat dibawah Aceh. Johor dipersilahkan menjalankan pemerintahan dalam negeri seperti biasanya, namun perhubungan dengan luar negeri ditentukan oleh Aceh, terutama mengenai soal-soal perdagangan. Sedangkan untuk menjamin kelancarannya, Sultan Iskandar Muda menempatkan satu badan pengawas terdiri dari orang-orang Aceh yang dikepalai olah Orang Kaya Raja Lelawangsa.

 

Sesudah mengamankan Johor, Sultan Iskandar Muda pun menggelar persiapan untuk memukul Portugis di Malaka. Ia juga telah mendapat kontak dengan Belanda bahwa untuk keperluan itu Belanda mengatakan sedia membantu.

 

Sultan Iskandar Muda kemudian memanggil Raja Bungsu (Sultan Johor). Bersama Johor Sultan mengadakan perundingan guna memadukan penyerangan ke Malaka.

 

Keterangan dari sumber Inggris yang berada di sekitar tahun 1615, diantaranya diceritakan dalam laporan Arthur Spright, pemilik kapal "Hector", yang mengatakan bahwa telah melihat Sultan Aceh berada di Pedir di dalam bulan April 1615, bersama-sama dengan Sultan Johor yang telah mangawini adiknya. (Yang dimaksud Raja Bungsu).

 

Juga Millward, kepala kapal "Thomas" melaporkan kunjungannya kepada Sultan Iskandar Muda di tanggal 28 Juni 1615, ketika dia menyerahkan bingkisan berupa meriam besar, dengan kereta-keretanya, pelor, beberapa tong mesiu, dan lain-lain alat perang, ketika itu berada Sultan Johor (Raja Bungsu) sendiri disamping Iskandar Muda.

 

Persiapan untuk serangan ke Malaka (Portugis) membuat Sultan kembali sibuk. Arthur Spright menceritakan pula bagaimana Sultan sangat membutuhkan bahan-bahan besi guna mengerjakan meriam dan alat-alat perkakas yang diperlukan di kapal.

 

Namun, setelah segalanya siap, janji Belanda untuk menyediakan bantuan tak kunjung datang. Sultan kemudian meminta pula supaya diberi kesempatan memakai salah satu dari dua buah kapal Belanda yang berlayar di perairan Aceh, tapi Belanda masih berkeberatan memberikannya. Hal ini membuat gusar Sultan dan melarang kapal Belanda itu masuk ke Aceh, bahkan untuk mengambil air dan perbekalan pun tidak diperbolehkan lagi.

 

Kemudian, karena kuatir hubungan menjadi renggang, Belanda menawarkan sebuah kapal, tapi kapal ini sudah rusak akibat serangan Portugis di laut ketika menuju Aceh. Akibatnya, Sultan Aceh bertambah marah karena Belanda dianggap telah mempermainkannya. Semenjak peristiwa ini hubungan antara Aceh dengan Belanda semakin renggang.

 

Dalam bulan Nopember 1615, Sultan Iskandar Muda membuka penyerangan ke Malaka. Dan, untuk mengadakan serangan ke Malaka, Sultan Iskandar Muda hanya menggunakan persediaannya sendiri. Akan tetapi rupanya Portugis telah siap, sehingga setelah diuji beberapa kali, armada Aceh terpaksa mengundurkan maksudnya.

 

Pada masa itu, Portugis mendapat tambahan kekuatan 10 kapal perang besar yang didatangkan dari Philipina dibawah pimpinan Gubernur Manilla, Dom Jaoa Da Silva. Sedangkan Belanda, setelah mendengar adanya tambahan bantuan Portugis, segera melarikan kapal-kapalnya bersembunyi ke Batavia.

 

Sementara itu, tidak beberapa lama dari kisaran Raja Bungsu di Aceh, Sultan Alau'ddin Riayat Shah II yang lari telah datang lagi ke Batu Sawar untuk merebut kembali kerajaannya. Istri Raja Bungsu, adik Sultan Iskandar Muda, tiba-tiba juga telah dikirim balik ke Aceh.

 

Mengenai kemungkinan-kemungkinan bahwa Alauddin Riayat Shah II kembali dapat menguasai Johor di Batu Sawar, ditunjukkan oleh catatan yang mengatakan bahwa pada bulan Juli 1615 Sultan Alau'ddin telah datang menemui Portugis di Malaka, ketika mana diperbuat perjanjian baru mengenai "kerjasama". Diingat pula bahwa sekitar masa itu Raja Bungsu sedang berada di Aceh, sehingga ada kemungkinan bahwa Alau'ddin bisa masuk kembali ke Johor (Batu Sawar) tanpa perlawanan.

 

Pada tahun ini, Sultan Iskandar Muda juga mengirim surat kepada Inggris. Isi surat tersebut menerangkan bahwa permintaan Inggris untuk berdagang langsung ke Pariaman dan Tiku seperti beberapa tahun sebelumnya, kali ini telah ditolak dengan jawaban halus oleh Iskandar Muda. Sebagai alasan disebut bahwa "negeri itu negeri dusun, lagi jauh daripada kita. Jika dianiaya orang Tiku atau orang Pariaman akan orang itu niscaya keji bunyi kita pada Raja Ja'kub (James I)".

 

Pada medio tahun 1618, Sultan Iskandar Muda memimpin sendiri pendudukan kembali atas Perak. Lalu di tahun berikutnya, 1619, Sultan Iskandar Muda akhirnya juga berangkat memimpin pasukan untuk menghancurkan Johor. Steven Van Der Hagen, seorang admiral Belanda yang menyaksikan penyerbuan Aceh ke Johor, menyatakan kekagumannya karena angkatan perang yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda itu tidak kurang besarnya dari yang dahulu.

 

Di Batu Sawar, walaupun telah meminta bantuan dari Portugis, Sultan Alauddin Riayat Shah II tidak kuasa menghalau serangan Aceh. Ia pun berhasil ditangkap di Bentan (Riau), lalu dibawa ke Aceh dan dijatuhi hukuman mati. Sedangkan Raja Bungsu, karena ia tidak di sana, dan kuatir akan pembalasan dari Aceh, iapun mencari tempat perlindungan ke Lingga. Sultan Iskandar Muda tatkala mendapat kabar bahwa Raja Bungsu berada di sana, memerintahkan pula untuk memburunya. Dari situ Raja Bungsu lari lagi ke Tembelan. Dalam tahun 1623 Raja Bungsu meninggal dunia di sana.

 

Selain Johor, Aceh juga mengirimkan angkatan perangnya sebanyak 17.000 orang untuk menyerang Pahang yang dikabarkan telah membina persekutuan dengan Portugis. Negeri itupun dapat dikalahkan. Sultan Ahmad dan istrinya serta anaknya dari puteri Siak (kelak dikenal sebagai Sultan Iskandar Tsani), telah dibawa sebagai tawanan perang Aceh.

 

Masih di tahun yang sama (1619), Aceh juga berhasil menduduki Kedah. Ketika diserang oleh Aceh, Kedah dibantu oleh Patani, sehingga akhirnya baik Kedah maupun Patani pun dapat dikalahkan. Dan, dengan diperolehnya Patani, perdagangan lada dari situ pun selanjutnya terpusat ke Aceh.




Dalam pada itu Sultan Kedah, Sultan Sulaiman Syah, dan keluarga, dibawa ke Aceh sebagai tawanan perang. Semenjak itu pemerintahan Kedah pun diselenggarakan dengan banyak mengikuti cara-cara di Aceh. Demikian pula soal agama Islam di Kedah, sebagaimana diterangkan dalam hikayat Negeri Kedah sendiri, kitab-kitab pengetahuan agama semenjak itu banyak dikirimkan ke Kedah.

 

Di tahun ini pula (1619) Aceh juga berhasil menyerang ke Deli. Di masa pertempuran tersebut, Deli mendapat bantuan penuh dari Portugis. Setelah sampai enam minggu peperangan berlangsung, barulah pengaruh Portugis dapat disapu bersih. Dan, semenjak itu dibangunlah kerajaan Deli, dengan Panglimanya dari Aceh.

 

Dan, juga di tahun ini, Sultan Iskandar Muda datang melebarkan kekuasaanya ke Asahan. Berkenaan dengan hal ini, ada kemungkinan sebab di Asahan juga terdapat basis pertahanan Portugis. Anderson ("Mission to the East coast of Sumatra") mengatakan ada bekas-bekas peninggalan Portugis di sana, berhubung karena Batu Kinihir (Batu Di Kikir) di hilir Pasir Mandogei dikatakannya bekas tangan orang Portugis.

 

Berkenaan dengan berbagai ekspedisi besar yang dilancarkan Aceh selama tahun 1619 ini, nampaknya dilakukan oleh Iskandar Muda sebagai upaya untuk memukul habis pengaruh Portugis pada negeri-negri di Sumatra dan Semenanjung Melayu, serta mengurung kedudukan Portugis di Malaka. Akan tetapi, belum ditemui catatan-catatan yang dapat menjelaskannya secara urut bulan-bulan ekspedisi militer Aceh di tahun 1619.

 

Sedangkan mengenai nama Sultan Alau'ddin Ri'ayat Shah/Syah II yang berkuasa di Johor, seperti dimaksud pula oleh Valentijn sebagai yang suka plesir, nama kecilnya adalah Raja Mansur. Ia disebut sebagai "Ala'uddin Riayat Syah ke II" adalah dalam pengartiannya sebagai Sultan Johor. Hal ini perlu dicatat sebab nama Ala'uddin Riayat Syah telah pula dikenal jauh sebelumnya, yakni di masa Kesultanan Malaka (ayah Sultan Mahmud). Disamping itu, Sultan yang juga bernama Ala'uddin Riayat Shah/Syah, yaitu Sultan Johor ke I (oleh Hamka di dalam bukunya, Sejarah Umat Islam, disebut sebagai "Sultan Alauddin Riayat Syah II" karena Johor adalah keturunan Malaka), sudah juga ditangkap di masa Sultan Al-Qahhar. Ia dibawa ke Aceh serta wafat di sana. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Rahma Monika

Layout Infografis : Rahma Monika