Berkaca dari HIV, Hapus Stigma LGBT di Cacar Monyet

Kuatbaca

2 months ago

“Virus cacar monyet yang awalnya endemik di Afrika mulai menyebar ke dunia. Penyebarannya diklaim melalui aktivitas seks sesama jenis. Walaupun, para ahli menyebut penularan terjadi karena adanya kontak dekat. Namun, stigma sudah mulai terbentuk yang dilekatkan sebagai ‘penyakit LGBT’. (24/9/2019). Stigma dan diskriminasi yang masih tebal di masyakarat, media, dan pemerintah akhirnya menjadi penghalang pencegahan dan mitigasi penyebaran virus. Indonesia setidaknya dapat berkaca dari HIV yang awalnya hanya dianggap esklusif pada komunitas LGBT saja.”

 

Pada tahun 1958, von Magnus dan kawan-kawan dari bidang virologi pertama kali mengobservasi dua penyebaran penyakit cacar di kapal berisi monyet berekor panjang. Kapal tersebut berangkat dari Singapura dan tiba di Copenhagen, Denmark. Ia dinamakan cacar monyet karena hewan tersebutlah yang pertama terinfeksi.

 

Baru pada 1970, kasus pertama manusia dilaporkan di Republik Demokratik Kongo pada pasien anak berusia 9 tahun. WHO mencatat di tahun tersebut kasus cacar monyet sudah menyebar di 11 negara Afrika: Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, Sierra Leone, dan Sudan Selatan.

 

Dalam puluhan tahun, virus cacar monyet menjadi endemik di Afrika Barat dan Afrika Tengah. WHO memperkirakan ada ribuan kasus infeksi di belasan negara Afrika per tahunnya. Sebagian besar berasal dari Kongo dengan 6 ribu kasus/tahun dan Nigeria dengan 3 ribu kasus/tahun.

“Ini sebetulnya sudah berpuluh tahun di Afrika menjadi endemik. Karena dianggap tidak mengancam negara lain, maka negara lain negara maju abai,” jelas Dicky Budiman saat dihubungi Kuatbaca.com, Senin (2/8/2022).

 

Dari laporan WHO, kasus cacar monyet melonjak sejak 15 Juni 2022 di angka 4.500 kasus baru di 31 negara Eropa. Akhirnya pada 23 Juli lalu, WHO menetapkan penyakit cacar monyet sebagai darurat kesehatan global. Ini mirip pada deklarasi WHO yang lalu untuk pandemi Covid-19 pada Januari 2020.

 

Per 25 Juli, jumlah kasus di enam negara yang punya historis melaporkan kasus cacar monyet sebesar 243 kasus. Sedangkan jumlah kasus di 69 negara yang baru pertama melaporkan kasus cacar monyet berjumlah 17.852 kasus. Hingga 27 Juli lalu, sebanyak 17.156 orang di 75 negara dikonfirmasi positif. Hal ini memperlihatkan kluster cacar monyet sudah meluas kepada negara non endemik dalam tempo yang singkat.

 

Kelalaian dan pengabaian negara Eropa dan AS akan apa yang sudah lama terjadi di Afrika menjadi bumerang tersendiri. Hal ini menjadi fatal ketika endemik di Afrika dianggap menetap di satu wilayah saja.

 

“Ini suatu fenomena dari ‘bukan di halaman punyaku. Tidak ada kepedulian dari pemangku kepentingan kesehatan Barat akan sesuatu yang hanya terjadi di Afrika,” ungkap Editor Journal of Infectious Diseases Martin Hirsch dikutip dari Smithsonianmag.comi, Jumat (24/6/2022).

 

Pada prinsipnya, gejala cacar monyet tidak jauh berbeda dengan cacar air. Di masa awal, pasien akan merasakan demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan. Bedanya, cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening.

 

Penularan virus cacar monyet bisa dari hewan dan manusia yang terinfeksi atau bahan yang terkontaminasi virus. Khusus penularan antar manusia, cacar monyet dapat menular melalui kontak dekat dengan penderita seperti melalui luka infeksi, cairan tubuh, atau juga droplet.

 

Cacar monyet semulanya tak pernah dikaitkan dengan hubungan seks antar pria sampai ia merebak di Kanada, Spanyol,dan Inggris. Dari temuan WHO, 98% dari orientasi seksual yang dilaporkan merupakan gay, biseksual, dan laki-laki yang saling berhubungan seks.

 

Menanggapi fakta ini, Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan pernyataan di konferensi pada 23 Juli lalu. Ia menjelaskan perlu adanya strategi yang tepat untuk kelompok terkait.

 

“Maka dari itu penting bagi seluruh negara untuk bekerjasama dengan komunitas gay, untuk merancang dan menyampaikan informasi yang efektif, dan menerapkan penangan yang dapat melindungi kesehatan, HAM, dan martabat dari komunitas yang terdampak,” ucapnya dikutip dari laman resmi WHO.

 

Menutup pernyataannya, ia menghimbau agar organisasi masyarakat sipil, termasuk mereka yang berpengalaman bekerja bersama orang dengan HIV, untuk berkolaborasi dalam melawan stigma dan diskriminasi.

 



Bahaya Stigma dan Diskriminasi LGBT, Bercermin dari Kasus HIV

Kemenkes menyebut kasus cacar monyet belum terdeteksi di Indonesia. Hal ini dijelaskan oleh juru bicara Kemenkes dr. Mohammad Syahril di acara Update Penanganan Monkey Pox di Indonesia.

 

“Situasi di Indonesia sampai dengan hari ini sejak diumumkan (cacar monyet) pertama di Inggris, Indonesia belum ada kasus konfirmasi dan suspek,” ucap Syahril dikutip dari Kompas.com, Rabu (27/7/2022).

 

Ia juga menjelaskan sebelumnya ada sembilan kasus suspek di Indonesia. Tetapi, setelah dilakukan pemeriksaan PCR, kesembilan orang tersebut dinyatakan negatif.

 

Menanggapi fakta tersebut, Kemenkes mengambil langkah surveilans cacar monyet pada kelompok gay di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu.

 

“Pada komunitas sesuai data kasus (cacar monyet) yang paling banyak di dunia pada kelompok gay, maka kami akan melakukan surveilans ketat pada kelompok ini. Bekerja sama dengan beberapa organisasi atau lembaga swadaya masyarakat,” jelasnya.

 

IDI atau Ikatan Dokter Indonesia sendiri sudah membentuk Satuan Tugas Penanganan Penyakit Cacar Monyet. Ketua Satgas Cacar Monyet PB IDI dr Hanny Nilasari menuturkan kasus cacar monyet bukan penyakit seksual.

 

“Penularan dari kulit ke kulit, mata ke mata, anus ke anus. Jadi bukan pada populasi khusus ini, tapi semua yang berisiko mendapat kasus ini,” jelasnya, Selasa (2/8/2022).

 

Kekhawatiran potensi akan masuknya virus cacar monyet ke Indonesia tidak hanya soal penyebarannya saja, melainkan stigma yang timbul darinya untuk kelompok LGBT. Stigma ini disuburkan oleh media lewat pemberitaan yang bombastis.

 

LBH Masyarakat melakukan pemantauan media sepanjang tahun 2017 terkait stigma dan diskriminasi terhadap LGBT. Dalam 105 berita dari 37 laman media daring yang dipantau, LBH mencatat 973 orang menjadi korban dari berbasis orientasi seksual, identitas, dan ekspresi gender non heteronormatif. Berbagai bentuk diskriminasi juga dialami dari mulai persekusi, upaya pemidanaan, pelarangan pendidikan, pembubaran acara, dan pelanggaran HAM & kekerasan lainnya.

 

Empat di antara berita tersebut memuat stigma LGBT sebagai sumber HIV. Dari pantauan LBH, petugas kesehatan sendiri justru tidak mampu membedakan LGBT sebagai orientasi seksual dan identitas gender dengan perilaku seksual berisiko. Selain stigma sebagai sumber HIV, LBH juga mencatat stigma lain seperti prilaku menyimpang, bertentangan dengan agama, sebagai penyakit, hingga LGBT dianggap bertentangan dengan ideologi negara (baca: Pancasila).

 

Media di Indonesia memang punya rekam jejak dalam mempertebal stigma terhadap komunitas LGBT. Studi (2019) dari Universitas Indonesia mengungkapkan media online, cetak, khususnya TV nasional berpartisipasi dalam menyebarkan ujaran kebencian terhadap komunitas LGBT.

 

Penelitian lain (2020) kembali mengonfirmasi temuan yang sama. Kali ini peneliti Jepang Hiroko Kinoshita dari Kyushu University menganalisa teks secara kuantitatif dari empat media besar: Republika, Kompas, Detik, dan Antara. Temuannya memperlihatkan bagaimana prasangka anti-gay ada di judul berita, angle, diksi, dan pemilihan narasumber.

 

Peran media menjadi penting sebab ia bisa menjadi pisau mata dua. Ia bisa menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi. Tampaknya, media masih menjadi bagian dari masalah.

 

Dampaknya, menurut survei SMRC 2016-2017, sebesar 41,1% responden survei tidak setuju LGBT berhak hidup di Indonesia. Sementara itu, riset Tirto dan Jakpat pada Juni 2019 menemukan 55,72% setuju LGBT adalah perbuatan yang salah. Ketika ditanya soal hak hidup LGBT dan keharusan pemerintah melindungi hak tersebut, sebesar 25,6% dan 39,3% menyatakan tidak setuju.

 

“Secara umum, media arus utama tampak sebagai bagian dari masalah: ia menjadi justifikasi dan menormalkan diskriminasi atas kelompok LGBT,” ujar Arlandy Ghiffari dikutip dari Remotivi.or.id, Kamis (28/11/2019).

 

Di tahun 2019, Arus Pelangi, organisasi advokasi komunitas LGBT menerbitkan Laporan “Catatan Kelam: 12 Tahun Persekusi LGBT di Indonesia”. Laporan itu mencatat sebanyak 1.850 LGBT mengalami persekusi dengan mayoritas korban berasal dari transpuan, dari 2006 sampai 2018.

 

“Persekusi itu adalah perbuatan yang kompleks, yang bukan hanya satu perbuatan, misalnya digrebek, diusir, diintimidasi, dan lain sebagainya, itu adalah persekusi. Tapi tujuannya ditujukan pada siapa? Bisa itu ditujukan kepada kelompok tertentu atau identitasnya dan yang disasar adalah identitasnya,” ucap Peneliti Arus Pelangi Riska Carolina dikutip dari Kbr.id, Selasa (24/9/2019).

 

Stigma dan diskriminasi yang masih tebal di masyakarat, media, dan pemerintah akhirnya menjadi penghalang pencegahan dan mitigasi penyebaran virus. Indonesia setidaknya dapat berkaca dari HIV yang awalnya hanya dianggap eksklusif pada komunitas LGBT saja.

 

“Satu hal yang paling keliru dari peringatan awal soal AIDS adalah itu dikaitkan dengan kekurangan imunitas pada komunitas gay atau tidak tertular dalam hubungan heteroseksual atau hanya dari ibu ke anak”, ucap Daniel R. Lucey dari the Infectious Deseases Society of America dikutip dari Washingtonpost.com, Minggu (12/6/2022).

 

Penelitian dari UNAIDS menyebut 65% pengidap HIV di Indonesia justru bukan dari populasi rentan terdampak (pekerja seks, pengguna narkoba, transgender, narapidana, dan pria seks dengan pria). Faktanya, semenjak 1987 hingga 2018, 70,3% kasus baru berasal dari heteroseksual. Hal ini menyangkal stigma yang dilekatkan kepada HIV sebagai ‘penyakit’ LGBT.

 

Pada kelanjutannya, stigma penyakit ‘LGBT’ ini tak hanya memperburuk kondisi kelompok rentan tersebut, tetapi juga proses mitigasi dari penyebaran virus, seperti pada kasus HIV di Indonesia.

UNAIDS-Indonesia menjelaskan faktor terbesar yang memperlambat proses penanganan HIV di Indonesia adalah stigma dan diskriminasi. Hal ini membuat penyandang HIV untuk mengakses penyuluhan dan pengobatan. Mereka takut akan kehilangan pekerjaan, didiskriminasi di lingkungan sekitar, hingga diasingkan karena status HIV-nya.

 

HIV sendiri memang merupakan penyakit menular seksual. Tapi, cacar monyet belum dapat dipastikan penyakit menular seksual. Laporan the Conversation 3 Agustus lalu menyebut belum ada riset membuktikan sperma menjadi medium penuh.



Urgensi Komunikasi Sains yang Insklusif

Jelas, media dan komunikasi akan suatu penyakit yang dianggap berkaitan dengan kelompok marjinal seperti LGBT berperan krusial. Dalam hal ini, Indonesia tidak hanya perlu waspada akan penyebaran cacar monyet, tetapi stigma dan diskriminasi yang mengikutinya.

 

Untuk itulah, komunikasi sains yang inklusif menjadi mendesak. Media harus meninggalkan tradisi pemberitaan LGBT yang bombastis demi mendulang klik dan traffic.

 

Direktur Program Yayasan Skrikandi Berby Gita menyatakan pemberitaan yang menyudutkan LGBT berdampak pada penguatan stigma. Selain itu, ia turut menyumbang kasus kekerasan terhadap transpuan.

 

“Baru saja (LGBT) diberitakan (negatif), komunitas kami langsung, cepat, mendapat dampaknya,” ujar Berby dikutip dari Sejuk.org, Kamis (17/3/2022).

Dalam Laporan (2020) berjudul The State of Inclusive Science Commmunication: A Landscape Study, ada tiga ciri khas dari komunikasi sains inklusif. Pertama, intentionality yaitu bagaimana suatu temuan ilmiah diartikan dan bagaimana identitas marjinal dipresentasikan. Kedua, reciprocity yaitu interaksi antara komunikator sains dan audiens yang mempertimbangkan kesenjangan masa lalu dan sekarang melalui kerjasama setara. Ketiga, reflexivity yaitu sikap reflektif atas identitas personal dan perilaku komunikator dan audiens.

 

Penyebaran virus pada akhirnya tak mengenal ras, agama, ataupun orientasi seks. Hal ini dijelaskan oleh peneliti penyakit menular Dr. Boghuma Titanji , “Walau kita melihat kluster didominasi kelompok tertentu, virus tak membedakan dari ras, agama, atau orientasi seksual,” ujarnya dikutip dari Npr.org, Selasa, (26/6/2022).

 

Para ahli sudah memperingatkan untuk tidak mengulangi kesalahan pada krisis HIV/AIDS di tahun 1980 dan 1990an. Hanya karena di awal dideteksi pada pria gay, stigma itu berlanjut sebagai ‘penyakit gay’.

 

Itu sebabnya stigma penularan virus cacar monyet lewat orientasi seks sesama jenis harus dihilangkan, mengingat virus ini tidak hanya menyebar lewat hubungan sesama jenis. Berkaca dari penyebaran virus HIV, pengkotak-kotakan jalur penyebaran virus ini justru dapat menjadi faktor merebaknya virus lewat jalur lain. 

 

“Di belakang, kita tahu bahwa dampak stigma yang hadir pada hari-hari awal merespon HIV bertahan selama beberapa tahun kemudian, dan kita pada dasarnya telah mengejar ketinggalan untuk menghilangkan stigma HIV sejak saat itu,” tegas Titanji. (*)

 

Jurnalis : Muhammad Fakhri

Editor : Virga Agesta

Illustrasi Cover : Bagus Maulana

Layout Infografis : Zakki Fauzi