Sultan Ageng Tirtayasa vs Tiga Front [Kekuatan Banten - Seri 01]

Kuatbaca

2 months ago

Perbedaan sikap terhadap Kompeni antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji menjadi cerita yang memecah orang Banten hingga hari ini. Pernah ada suatu kejadian pada 2003, sebuah patung Sultan Ageng Tirtayasa dibongkar Pemkab Serang dan dibuang ke Kalimalang. Pada tahun 2018 patung tersebut ditemukan petugas irigasi dan dipindahkan ke pinggir jalan. Patung itu teronggok hampir setahun, sampai akhirnya direlokasi ke Sultan Center Serang. Dalam tulisan ini diceritakan seteru Banten terhadap kekuatan yang menghimpit menuju ujung barat Jawa ini.

 

Foto: Patung Sultan Ageng Tirtayasa yang sempat teronggok di pinggir jalan Masjid Priyayi, Kasemen, Kota Serang pada 2018. Sumber: Detik.

 

Di tahun 1680, Sultan Haji yang menginginkan adanya perdamaian Banten dengan Belanda, mengirim surat ke Batavia yang menyatakan bahwa ia adalah pengusa Banten sepenuhnya. Nampaknya, hal ini dilakukan akibat adanya perselisihan antara Sultan Haji dengan Pangeran Purbaya dan Sultan Ageng Tirtayasa yang sebelumnya keras memusuhi Kompeni Belanda.

 

Pembukaan hubungan baik terhadap VOC bermula ketika Sultan Abul Fath Abdul Fattah mengangkat seorang putra mahkota pada tanggal 16 Februari 1671, dengan gelar Sultan Abun Nasr Abdul Qohhar. Melalui putra mahkota Banten ini VOC kemudian bisa memperoleh kemudahan untuk berniaga di Banten.

 

Kejadian tersebut diceritakan pula oleh berita Belanda, “Kemarin sultan, dan semua bangsawan dengan kira-kira 120 buah perahu pergi ke pelabuhan, yang kini telah empat hari tiba di sini dari Mokha (Mekah) berlayar melalui Suratta menyambut dengan suka ria surat dari Mokha sambil melepaskan tembakan meriam, maupun baris-berbarisnya perjurit-perjurit bersenapan sepanjang sungai.”

 

Isi surat ialah bahwa Pangeran Ratu mendapat kehormatan nama sultan Abdul Kahar dari Mokha, ketika di alun-alun istana diumumkan, seperti sekarang ini, diperintahkan kepada setiap orang untuk mengakui raja yang muda itu untuk seterusnya sebagai sultan.

 

"Gister ia de Sulthan, Pangerang Ratu, en alle de adel met omtrent 120 vaertuygen nae de rheede aen syn schip, dal nu vier dagen geleden van Mocka over Suratta alhier gearriveert ia gevaeren, van daer dan brieff van die van Mocha met groote statie onder lossen van canon, als sergeren van musquettiers laughs de rivier met groote vroughde ingehaelt. De inhout van dan brieff ia eenlyck; dal Pangerang Ratu met dan naem van Zulthan Abdul Kahaer van die van Mocha ia vereert, wanneer oock op de voile pleyn van 't hoof ia uytgeroepen, gelyck heden mede, door de heele stadt met gommeslach iedereen geboden, then jongen Vorst voor Zulthan to sullen erkennen"), demikian tulis Caeff, residen Banten, kepada Pemerintah Tinggi tertanggal 17 Februari 1671.

 

Setelah menyerahkan tahta Banten kepada anaknya yang baru pulang haji, yakni Abdul Kohar Nasar atau Sultan Haji, kemudian Sultan Abul Fath Abdul Fattah membangun kediaman di Tirtayasa (terletak di Serang sekarang).

 

Setelah berkuasa, Sultan Haji bukan saja membuka hubungan dengan Batavia, ia bahkan memberi keleluasaan bagi Belanda untuk berdagang di Banten. Akan tetapi, sikap Sultan Haji yang dekat dengan orang-orang Belanda selanjutnya menyulut penentangan dari ayahnya, Sultan Abul Fath Abdul Fattah, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa.

 

Untuk sikapnya, Sultan Ageng Tirtayasa tetap keras menentang pembukaan hubungan baik dengan VOC. Bahkan, sikapnya yang menolak VOC itu juga dibarengi dengan upaya membendung luasnya ekspansi Mataram sejak era Susuhunan/Sultan Agung Hanyakrakusuma yang telah berhasil menaruh Cirebon di bawah kuasanya. Akibatnya, Sultan Ageng Tirtayasa harus berperang di tiga front kekuatan secara sekaligus. Ia menghadapi putranya sendiri, VOC, dan Cirebon yang ada di bawah kuasa Mataram.

 

Untuk melepaskan Cirebon dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa pernah mendaulat Pangeran Wangsakerta untuk berkuasa di Cirebon. Sebab, Panembahan Ratu II yang bertahta di Cirebon beserta kedua orang putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya, harus terus berada di Mataram dan tidak diperbolehkan pulang sejak naiknya masa pemerintahan Susuhunan/Sultan Agung Hanyakrakusuma.

 

Soal keadaan Cirebon pada waktu itu, awalnya Panembahan Ratu II (Pangeran Rasmi) yang berkuasa di Cirebon terjepit di antara dua pengaruh kekuasaan yang saling bermusuhan, yakni Kesultanan Banten dan Mataram. Banten merasa curiga bahwasannya Cirebon lebih mendekat ke Mataram sebab adanya hubungan perkawinan. Sementara itu, Mataram juga menaruh curiga kepada Cirebon, karena Panembahan Ratu II dan Sultan Ageng Tirtayasa adalah sama-sama keturunan Pajajaran melalui Sunan Gunung Jati.

 

Menyadari situasi tersebut, dalam usahanya menghindari peperangan dengan Banten sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan, Panembahan Ratu II mengutus putra bungsunya yang bernama Wangsakerta ke Banten. Namun, oleh Mataram hal ini dipandang sebagai bukti keberpihakan Cirebon pada Banten. Sehingga, Panembahan Ratu II pun diundang datang bersama kedua orang putra tertuanya. Atau, Susuhunan Mataram sendiri yang nanti berangkat ke Cirebon.

 

Sampai wafat Panembahan Ratu II tetap berada di Mataram. Ia dimakamkan di bukit Girilaya, berdekatan dengan makam raja-raja Mataram di bukit Imogiri. Sepeninggal Panembahan Ratu II, kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, pun masih diharuskan tinggal di Mataram. Nampaknya hal ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan Cirebon terhadap Mataram, sebagaimana Cakraningrat I yang berkuasa atas Madura juga diharuskan tinggal di Mataram.

 

Sempat di tahun 1650, dengan maksud memasukkan Banten ke bawah pengaruh Mataram, diadakan penyerbuan oleh orang-orang Cirebon ke Banten. Penyerbuan yang berhasil dipatahkan ini kemudian dikenal dengan peristiwa Pagarege atau Pacarebonan. Pada masa ini tahta Mataram sudah dipegang oleh Susuhunan Amangkurat I, putra dari Susuhunan/Sultan Agung Hanyakrakusuma, dan Sultan Ageng Tirtayasa baru naik sebagai sultan Banten di tahun berikutnya.

 

Di dalam naskah Sajarah Banten, dikisahkan bahwa Pangeran Rasmi (Panembahan Ratu II) ketika datang untuk seba di Kraton Mataram, sewaktu minum-minum saat jamuan, dalam keadaan mabuk ia bukan saja lupa akan pesan kakeknya, Panembahan Ratu I, yang menginginkan Cirebon tidak memilih pihak apabila Mataram menyerang Banten, melainkan juga terpancing untuk berjanji membujuk Banten mengakui kekuasaan tertinggi Mataram. Dan, sesudah dua kali ia mengirimkan utusan ke Banten yang tanpa hasil, maka dipersiapkannyalah suatu ekspedisi Cirebon ke Banten. Namun kekuatannya dapat dihancurkan di Tanahara, Banten.

 

Memasuki tahun 1652, Susuhunan di Mataram memberikan kehormatan dengan melamar puteri Sultan Banten untuk anaknya, "walaupun demikian dengan syarat bahwa salah seorang anaknya atau kerabat-kerabat dekatnya, yang merupakan kelengkapan kerajaan (akan) dikirimkan ke keraton dan diteruskan setiap tahun".

 

"Nochtans met conditien, dat de Bantammer een van syne kinderen ofte naaste bloedverwanten, dependenten van 't ryck synde, aldaer ten hove senden (zou) ende jaerlycx continueren"), sebagaimana terdapat dalam berita Rijklof van Goen pada de Jonge. Mataram pun berjanji menjadi sahabat dan sekutu Banten. Namun, dalam masa yang sama itu Mataram juga membuat persiapan-persiapan perang.

 

Rencana-rencana dari Mataram untuk menundukkan Banten, sebagaimana juga banyak berita diceritakan oleh berita Belanda, tidak pernah sampai kepada suatu pelaksanaan. Mataram hanya sampai pada menggertak. Kepada Banten, Susuhunan Amangkurat I pun melarang ekspor beras dan kayu Mataram ke Banten.

 

Di tahun 1655, Banten sempat mengadakan persetujuan dengan VOC untuk memperbarui perjanjian damai di tahun 1645. Akan tetapi, pada tahun yang berikutnya Banten telah melanggar persetujuan tersebut, dan pelanggaran itu manghasilkan pecahnya perang dengan Batavia. Dua buah kapal Belanda dibajak dekat Banten. Mengetahui hal itu, pemerintah tinggi VOC di Batavia dengan segera mengadakan blokade dengan menggelar 4 atau 5 buah kapal terhadap Banten.

 

Blokade ini mengakibatkan sultan Banten kehilangan penghasilan besar dari perdagangan secara berkepanjangan. Dan, Banten menjawabnya dengan mengirim gerombolan-gerombolan Banten untuk bergerilya di daerah sekeliling tembok Batavia hingga sepanjang tahun 1556.

 

Di bulan November dan Desember 1657, sultan Banten berulang-ulang menyodorkan kepada Batavia supaya perdamaian kembali diadakan. Tetapi, musyawarah-musyawarah yang diadakan gagal sama sekali. VOC menolak tuntutan sultan untuk pelayaran bebas ke Ambon dan beberapa daerah lainnya, yang bisa berdampak terhadap monopoli rempah-rempah Kompeni. Selain itu, sultan Banten juga menolak untuk menyerahkan seorang tangkapan Belanda yang masuk Islam.

 

Permusuhan antara Banten dengan Kompeni pun berlanjut. Pelbagai kapal Kompeni dirampas oleh orang Banten. Kompeni pun mengadakan blokade yang lebih ketat terhadap pelabuhan Banten.

 

Memasuki tahun 1659, tercapai perjanjian gencatan senjata antara VOC dengan Kesultanan Banten pada 10 Juli. Perjanjian tersebut merupakan hasil dari perantaraan utusan Jambi di pihak VOC. Dalam perjanjian ini, sebagaimana yang menjadi tuntutan sultan Banten di tahun 1657, tentang suatu pelayaran bebas ke Ambon, tidak disinggung. Akan tetapi, sultan Banten mendapat konsesi, bahwa ia tak usah menyerahkan penyebrang-penyebrang dari Batavia yang masuk Islam.

 

Sementara itu di Cirebon, guna mengisi lowongnya kekuasaan akibat ulah Mataran, Sultan Ageng Tirtayasa sempat mendaulat Pangeran Wangsakerta untuk bertahta di Cirebon. Akibatnya, peta kepemimpinan di Cirebon pun berubah saat kembalinya Pangeran Kertawijaya di Cirebon pada tahun 1677, yaitu ketika memuncaknya geger Trunojoyo.

 

Oleh Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Kertawijaya kemudian didudukkan sebagai Sultan Cirebon, dan melengserkan kedudukan Pangeran Wangsakerta. Akan tetapi, tak beberapa lama berselang dari pengangkatan tersebut, Pangeran Martawijaya (putra sulung) ternyata dapat pula tiba di Cirebon berkat bantuan Trunojoyo. Kejadian ini pada akhirnya memunculkan kesepakatan untuk membagi tahta di Cirebon di bawah dua kraton, yakni Kasepuhan dan Kanoman. Terhadap pemberontakan Trunojoyo, Sultan Ageng Tirtayasa juga mengirimkan pasukan dan kapal perang Banten guna membantunya memerangi Amangkurat I.

 

Di Banten sendiri, sebagai penegas terhadap keputusan putran mahkota kepada VOC, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa menyerang Kraton Surosowan pada 26-27 Februari 1682. Dan, dikarenakan posisinya yang terdesak, Sultan Haji pun meminta bantuan Kompeni dalam upaya merebut kembali Kraton Surosowan.

 

Pasukan VOC yang dipimpin oleh Francois Tack dan Isaac de Saint Martin kemudian berlayar menuju Banten. Dari Surosowan, pasukan Belanda —yang baru mengalahkan Trunojoyo di Jawa timur— lalu dikerahkan untuk menggempur ke Tirtayasa. Maka, setelah membakar kediamannya sendiri agar tidak bisa dimanfaatkan oleh Kompeni, Sultan Ageng Tirtayasa bersama-sama dengan Syekh Yusuf dan Pangeran Purbaya melanjutkan perlawanan secara gerilya.

 

Seiring dengan tersingkirnya Sultan Ageng Tirtayasa, VOC pun berhasil mendapatkan monopoli perdagangan lada di Banten. Semua orang Eropa yang menjadi saingan VOC dipaksa untuk pergi. Kejadian ini juga membuat orang-orang Inggris terpaksa mengundurkan diri ke Bengkulu dan Sumatera Selatan, satu-satunya pos mereka yang masih ada di Nusantara ketika itu. Padahal sebelumnya, Sultan Ageng Tirtayasa sudah mengirimkan duta-dutanya berangkat ke London guna membangun persekutuan dengan Inggris dan berhasil diterima dengan sangat baik.

 

Memasuki medio 1683, karena terpancing oleh ajakan Sultan Haji untuk menyudahi permusuhan, pada tanggal 14 Maret, Sultan Ageng Tirtayasa bersedia keluar dari gerilya dan datang ke Kraton Surosowan. Namun, setelah tinggal beberapa lama di Surosowan, ia dibawa oleh Kompeni ke Batavia dan dimasukan ke penjara.

 

Semenjak Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap oleh Kompeni, putranya yang bernama Pangeran Purbaya pergi ke Gunung Gede. Namun ia akhirnya memutuskan bersedia untuk menyerah. Konon, sebagai syarat penyerahannya, ia hanya mau dijemput oleh perwira Kompeni yang berasal dari kaum pribumi.

 

Ketika itu, Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan Untung bersama-sama dengan kelompoknya yang merupakan sesama bekas tahanan. Mereka pun ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung kemudian dilatih ketentaraan, diberikan pangkat letnan, dan akhirnya ditugasi untuk menjemput penyerahan diri Pangeran Purbaya. Nama Untung inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Untung Suropati.

 

Penjelasan lebih jauh mengenai kiprah Untung Suropati ini dijelaskan dalam tulisan Untung Surapati: Perlawanan, Perjuangan dan Roman.



Di tahun 1684, Belanda dapat pula membawa rombongan Syekh Yusuf ke Cirebon untuk kemudian dibawa ke Batavia (Benteng). Syekh Yusuf turut membantu Sultan Ageng Tirtayasa dan menetap di Banten sebab Kesultanan Makasar sudah dikalahkan oleh VOC. Selain Syekh Yusuf, dari Makasar juga terdapat nama Kraeng Galesong, yang terlibat langsung membantu Trunojoyo.

 

Syekh Yusuf sudah mengenal Sultan Ageng Tirtayasa sejak muda. Yakni ketika tepat pada tanggal 22 September 1644, di usia 18 tahun, Syekh Yusuf berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji dan sekaligus berguru dengan ulama-ulama disana. Dikarenakan mengikuti rute pelayaran niaga pada masa itu, kapal melayu yang ditumpanginya pun singgah di Banten, dimana ia berkenalan dan bersahabat dengan Pangeran Surya, putra dari Sultan Mufakir Mahmud Abdul Kadir (1598-1650).

 

Ketika pada tanggal 10 Maret 1651, Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir wafat dan dimakamkan di Kenari, Pangeran Surya pun diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abul Fath Abdul Fattah (1651-1682; versi lain 1651-1672) untuk menggantikan kakeknya itu. Gubernur Jendral VOC dan Dewan mengucapkan selamat kepada pengganti Abul Mafakhir dengan ungkapan Baginda "mewarisi takhta kerajaan almarhum Nenenda yang mulia martabatnya".

 

"successie in syns overleden Heer Grootvaders waerdige Coninglycke digniteyt," sebagaimana terdapat dalam keterangan De Jong. Namun, sejak Abul Fath memerintah, Batavia menderita lagi perampokan dan pencurian, yang dilakukan oleh orang-orang Banten.

 

Setelah bertahta, Sultan Abul Fath Abdul Fattah menolak perjanjian dengan Belanda dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Di masa pemerintahannya kapal-kapal Banten berlayar memakai surat jalan untuk menyelenggarakan perdagangan yang aktif di Nusantara. Dan, atas bantuan pihak Inggris, Denmark, serta Tiongkok, orang-orang Banten dapat berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Tiongkok, Filipina dan Jepang. Pada masa ini, Banten tetap sebagai penghasil lada yang kaya.

 

Sultan Ageng Tirtayasa tetap berada dalam tahanan di Batavia sampai wafat pada tahun 1692. Jenazahnya lalu dibawa ke Banten dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung Banten.

 

Perseteruan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji, hingga sampai di era yang beratus tahun kemudian masih terus diungkit-ungkit oleh orang Banten. Di kalangan para Tubagus, untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap suatu sikap politis tertentu, biasa untuk dikatakan: "Kita lihat saja nanti, siapa yang keturunan Sultan Ageng Tirtayasa dan siapa yang keturunan Sultan Haji...!" (*)

 

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Bagus Maulana

Layout Infografis : Zakki Fauzi