Jerat Kuasa VOC di Banten [Kekuatan Banten - Seri 03]

Kuatbaca

2 months ago

Sultan Ageng Tirtayasa wafat di tahun 1692 dalam tahanan di Batavia. Jenazahnya lalu dibawa ke Banten dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung. Kisah ini dicatatkan dengan apik oleh musafir Elias Hesse, seorang pria Jerman yang pernah mendatangi Banten pada tahun 1683.

 

 

Sultan Abul Fath Abdul Fattah mengangkat seorang putra mahkota pada tanggal 16 Februari 1671, dengan gelar Sultan Abun Nasr Abdul Qohhar. Melalui putra mahkota banten ini, VOC kemudian bisa memperoleh kemudahan untuk berniaga di Banten.

 

Kejadian tersebut diceritakan pula oleh berita Belanda: “Gister ia de Sulthan, Pangerang Ratu, en alle de adel met omtrent 120 vaertuygen nae de rheede aen syn schip, dal nu vier dagen geleden van Mocka over Suratta alhier gearriveert ia gevaeren, van daer dan brieff van die van Mocha met groote statie onder lossen van canon, als sergeren van musquettiers laughs de rivier met groote vroughde ingehaelt. De inhout van dan brieff ia eenlyck; dal Pangerang Ratu met dan naem van Zulthan Abdul Kahaer van die van Mocha ia vereert, wanneer oock op de voile pleyn van 't hoof ia uytgeroepen, gelyck heden mede, door de heele stadt met gommeslach iedereen geboden, then jongen Vorst voor Zulthan to sullen erkennen.”

 

Demikian tulis Caeff, residen Banten, kepada Pemerintah Tinggi tertanggal 17 Februari 1671. "Kemarin sultan, dan semua bangsawan dengan kira_kira 120 buah perahu pergi ke pelabuhan ke kapalnya, yang kini telah empat hari tiba di sini dari Mokha (Mekah, pen) berlayar melalui Suratta menyambut dengan sukaria surat dari Mokha sambil melepaskan tembakan meriam, maupun baris-berbarisnya perjurit-perjurit bersenapan sepanjang sungai. Isi surat ialah bahwa Pangeran Ratu mendapat kehormatan nama sultan Abdul Kahar dari Mokha, ketika di alun-alun istana diumumkan, seperti sekarang ini, diperintahkan kepada setiap orang untuk mengakui raja yang muda itu untuk seterusnya sebagai sultan".

 

Setelah menyerahkan tahta Banten kepada anaknya yang baru pulang haji, yakni Abdul Kohar Nasar atau Sultan Haji, Sultan Abul Fath Abdul Fattah pun membangun kediaman di Tirtayasa (terletak di Serang sekarang). Dari sinilah nama sebutan Sultan Ageng Tirtayasa bermula.

 

Setelah berkuasa, Sultan Haji pun membuka hubungan dengan Batavia. Ia bahkan memberi keleluasaan bagi Belanda untuk berdagang di Banten. Akan tetapi, sikap Sultan Haji yang dekat dengan orang-orang Belanda selanjutnya menyulut tentangan dari ayahnya, Sultan Abul Fath Abdul Fattah, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa.

 

Di tahun 1680, Sultan Haji, yang menginginkan adanya perdamaian dengan Belanda, mengirim surat ke Batavia yang menyatakan bahwa ia adalah pengusa Banten sepenuhnya. Nampaknya, hal ini dilakukan akibat adanya perselisihan antara Sultan Haji dengan Pangeran Purbaya dan Sultan Ageng Tirtayasa yang memusuhi Kompeni Belanda.

 

Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya menyerang Kraton Surosowan pada 26-27 Februari 1682. Ia tidak terima dengan kebijakan putranya (Sultan Haji) dalam memerintah. Dan, dikarenakan posisinya yang terdesak, Sultan Haji meminta bantuan Kompeni dalam upaya merebut kembali Kraton Surosowan.

 

Pasukan VOC yang dipimpin oleh Francois Tack dan Isaac de Saint Martin kemudian berlayar menuju Banten. Dari Surosowan, pasukan Belanda —yang baru mengalahkan Trunojoyo di Jawa timur— lalu dikerahkan untuk menggempur ke Tirtayasa. Maka, setelah membakar kediamannya sendiri agar tidak bisa dimanfaatkan oleh Kompeni, Sultan Ageng Tirtayasa bersama-sama dengan Syekh Yusuf dan Pangeran Purbaya melanjutkan perlawanannya secara gerilya.

 

Dan, seiring dengan tersingkirnya Sultan Ageng Tirtayasa, VOC pun berhasil mendapatkan monopoli perdagangan lada di Banten. Semua orang Eropa yang menjadi saingan VOC dipaksa untuk pergi. Kejadian ini juga membuat orang-orang Inggris terpaksa mengundurkan diri ke Bengkulu dan Sumatera Selatan, satu-satunya pos mereka yang masih ada di Nusantara ketika itu. Sedangkan sebelumnya, Sultan Ageng telah mengirimkan duta-dutanya berangkat ke London guna membangun persekutuan dengan Inggris dan berhasil diterima dengan sangat baik.

 

Karena terpancing oleh ajakan Sultan Haji, pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng Tirtayasa bersedia datang ke Surosowan. Namun, setelah tinggal beberapa waktu lamanya di Surosowan, ia dibawa oleh Kompeni ke Batavia dan dimasukan ke penjara.

 

Sultan Ageng Tirtayasa wafat di tahun 1692 dalam tahanan di Batavia. Jenazahnya lalu dibawa ke Banten dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung.




Menurut seorang musafir bernama Elias Hesse, seorang pria Jerman yang pernah mendatangi Banten pada tahun 1683 dalam melakukan perjalanan melalui Asia Tenggara pada abad ke-17, dalam karya tulisnya, Ost-Indische Reise-Beschreibung, ia mencatat beberapa kesannya tentang peninggalan-peninggalan masa lampau Banten (Hesse 1690): Die Stadt Bantam anbelanget, ist dieselbe längst dem See-Strand mit einer hohen Mauer, aus gebackenen Steinen, sammt Streich-Wehren und an einigen Orthen mit Bollwercken, worauff schwehres Geschüß gepflantzet, befestiget, und ist dieses Geschütz von guten Metall gegossen, ungeachtet nun dasselbe mehrentheils unbrauchbar, so ist mir doch auf der Bint Caragante solch vortrefflich und einig köstlich Metall-Geschütz gezeigt worden, welches denen in Europa wenig nachgeben sol.

 

"Mengenai kota Banten, maka yang ini dipertahankan sepanjang pantai laut oleh tembok-tembok tinggi daripada batu bata, disertai bendungan-bendungan pantai dan di beberapa tempat dengan perkubuan yang di atasnya dipasang meriam-meriam berat, maka adalah meriam ini terbuat dari coran logam yang baik, dan adapun sebagian besarnya sekarang tidak terpakai lagi, maka diatas perkotaan Karangantu (Bint Caragante) aku ada diperlihatkan meriam logam sangat unggul lagi istimewa benar mutunya, yang tiada seberapa kalahnya dengan yang di Eropa". (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Rahma Monika

Layout Infografis : Rahma Monika