Banten Kepung VOC di Jakarta, Lalu Jadilah Batavia [Kekuatan Banten - Seri 02]

Kuatbaca

2 months ago

Jakarta atau dulu Jayakarta memang berjalan sendiri atas Banten, tetapi bersamaan dengan itu VOC menginginkan pengaruh di tempat yang kelak dinamai Batavia. Banten membiarkan VOC menghancurkan Jayakarta, namun VOC juga belakangan melakukan blokade dan diam-diam memindahkan pusat perdagangan Banten ke Batavia melalui Souw Beng Kong, pemimpin komunitas Tionghoa di Banten.

 

 

Pada medio akhir tahun 1618, Banten mengambil keputusan untuk menghadapi VOC maupun Jayakarta, yang dianggap telah bertindak sendiri dan tidak mengindahkan kekuasaan Banten dalam memberikan izin bagi Belanda di Jayakarta. Dalam upaya penyerangannya, Banten berhasil menekan laksamana Inggris, Thomas Dale, untuk turut membantu dengan armadanya.

 

Sementara itu, J.P. Coen yang sebelumnya memohon dan mendapatkan izin untuk memperluas pos dagang di Jayakarta, malah mendirikan benteng tanpa persetujuan Pangeran Wijaya Krama selaku penguasa Jayakarta. Hal ini memancing amarah Pangeran Jayakarta sehingga ia juga turut melakukan pengepungan bersama Banten dan Inggris.

 

Setelah J.P Coen mendirikan bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam, tak lama kemudian ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter mengelilingi areal yang disewa VOC, sehingga benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh. Selain itu, Coen juga berusaha merebut hegemoni perdagangan Banten dengan cara membujuk Souw Beng Kong, pemimpin komunitas Tionghoa di Banten, agar mau memindahkan pengaruh pedagang-pedagang Tionghoa dari Banten ke Jayakarta.

 

Untuk maksudnya tersebut, VOC mulai melakukan blokade serta perampasan terhadap kapal-kapal dagang Tionghoa yang memasuki pelabuhan Banten. Akibatnya, pelabuhan Banten berangsur sepi dan hubungan antara etnis Tionghoa yang dipimpin Souw Beng Kong dengan pemerintah Banten merenggang.

 

Dalam penyerangan ke Benteng VOC, wakil Gubernur Jenderal Pieter van de Broecke berhasil ditahan. Sedangkan J.P. Coen terpaksa meninggalkan Jayakarta menuju Ambon dan baru kembali 5 bulan kemudian (tahun 1619).

 

Akan tetapi, muncul insiden di dalam penyerangan yang sudah berhasil itu. Sesaat ketika serdadu VOC akan menyerahkan wilayah pertahanannya kepada Inggris, secara tiba-tiba muncul tentara Banten yang menghalangi maksud Inggris. Banten tidak sepenuhnya percaya apabila benteng VOC diserah-terimakan kepada Inggris. Akibatnya, Thomas Dale, yang memimpin orang-orang Inggris justru melarikan diri dengan kapalnya dan meninggalkan meriam-meriam bagi serdadu Belanda, di mana Banten tetap meneruskan pengepungannya terhadap VOC di muara Kali Ciliwung.

 

Dalam keadaan yang kritis selama berbulan-bulan, J.P Coen yang kembali dari Ambon, datang membawa sekitar 1000 orang pasukan, dan terdapat pula tentara bayaran dari Jepang. Bersama-sama Pieter de Carpentier, dengan mengerahkan 16 kapal, Coen akhirnya berhasil membebaskan posnya di Jayakarta dari pengepungan yang dilakukan oleh Banten.

 

Kemudian, pada tanggal 12 Mei 1619, J.P Coen menerima keputusan dari Belanda untuk mengambil nama "Batavia" bagi daerah yang akan dijadikan tempat berpusatnya kapal-kapal VOC. Semula J.P Coen ingin menamainya sebagai "Nieuwe Hollandia", namun de Heeren XVII di Amsterdam memutuskan untuk menamakan kota tersebut "Batavia", untuk mengenang bangsa Batavieren.

 

Selanjutnya, setelah resmi menggantikan Laurens Reael pada 21 Mei 1619 sebagai Gubernur Jenderal VOC, pada 30 Mei 1619 Coen menggerakkan pasukannya untuk menyerang Jayakarta dan berhasil membumihanguskan kraton beserta hampir seluruh pemukiman penduduknya. Sesudah itu, pada 11 Oktober 1619, Souw Beng Kong yang sebelumnya pernah menjadi syahbandar di Banten akhirnya resmi diangkat sebagai overste (opperste) der Chineezen yang pertama kali. Beng Kong amat berjasa dalam menarik orang-orang Tionghoa dari Banten ke Batavia, dan memblokir perdagangan Banten melalui pengalihan rute ke Batavia.

 

Di Batavia, orang-orang Tionghoa ini pun menjadi suatu bagian penting dari perekonomian VOC. Mereka aktif sebagai pedagang, penggiling tebu, pengusaha toko, dan tukang yang terampil. Dan, berkat kepiawaian Souw Beng Kong, daerah Glodok dan sekitarnya lambat-laun berkembang menjadi kawasan perdagangan yang maju.

 

Namun demikian, sebagaimana tertulis di dalam Sadjarah Banten yang kemudian ditinjau secara kritis oleh Hoesein Djayadiningrat, peristiwa kejatuhan Jayakarta disinyalir merupakan hasil dari intervensi yang dilakukan penguasa Banten. Awalnya, Jayakarta tidak memperkenankan Banten turut campur dalam pertikaiannya dengan VOC.

 

"Banten untuk dirinya sendiri, demikian juga Jaketra". Kalimat ini disampaikan oleh Pangeran Jayakarta kepada saudagar Inggris, Nicholas Ufflete. Dan, ketika Pangeran Ranamanggala, Patih Banten, mendengar bahwa Pangeran Jaketra mengadakan persetujuan dengan orang-orang Inggris bahwasannya orang-orang Belanda dengan syarat-syarat tertentu akan menyerahkan diri kepada orang-orang Inggris, maka Pangeran Ranamanggala pun datang menengahi mereka.

 

Diberitahukannya kepada pemimpin orang-orang Inggris di Banten, bahwa Sultan Banten berkuasa atas Jaketra, dan bukan orang-orang Inggris. Sehingga, dengan tergesa-gesa diberangkatkannya sebuah armada dengan tiga atau empat ribu orang ke Jaketra.

 

Orang-orang Belanda yang ditangkap lalu diperintahkan untuk menyerahkan diri dari Pangeran Jaketra. Kepada orang-orang Belanda itu ditawarkan syarat-syarat yang menguntungkan, jika mereka menyerahkan bentengnya. Tak lama setelah itu, Banten pun memecat Pangeran Jaketra.

 

Jalan terjadinya peristiwa itu diceritakan pula oleh VA Broeck. Menurutnya, tumenggung Banten menghunus keris ketika ia datang kepada Pangeran Jaketra. Dikarenakan hanya terlihat sedikit saja jumlah orang yang bersama dia, keris itupun diletakan di dada Pangeran Jaketra. Dan, dalam keadaan demikian Pangeran Jaketra dituntut agar menyerahkan kekuasannya. Setelah itu Pangeran Jaketra bersama isteri dan anaknya yang tertua pergi menyingkir.

 

Selain dari dua kisah itu, agaknya lebih patut dipercaya berita dari J.P Coen. Menurut Coen, pada 15 Ferbuari 1619, Pangeran Ranamanggala telah menyuruh tumenggung Banten memberitahukan kepada Pangeran Jaketra, bahwa Pangeran Jaketra harus memilih antara melepaskan kerajaannya dengan serta-merta atau keris yang dihadiahkan oleh tumenggung Banten, atau dengan kata lain: mati.

 

Maka, sejurus kemudian terdengar teriakan dan jeritan-jeritan yang hebat. Pangeran Jaketra dengan saudaranya, tumenggung, bersama-sama dengan lima puluh orang lainnya kemudian dikirim ke pegunungan di udik Tanahara, tempat di mana mereka akhirnya diamankan.




Di sisi lain, peristiwa pengambilan Jayakarta oleh VOC juga bisa dipandang sebagai langkah strategis yang dilakukan oleh Banten untuk menjadikan orang-orang Belanda, yang kemudian membangun Batavia, sebagai batu sandungan terhadap ekspansi Mataram. Selain itu, Banten juga tidak menghendaki Jayakarta, Inggris, maupun Belanda, tampil sebagai kekuatan yang dapat menandinginya di pesisir barat pulau Jawa.

 

Sebagaimana ditulis oleh Hoesein Djayadiningrat, tanpa Batavia di tengah-tengah, maka Banten sebagaimana juga banyak kerajaan lainnya di Jawa, barangkali tidak mampu mempertahankan kemerdekaannya. Selain dari laut, Banten dapat juga dicapai melalui pedalaman. Dan, memang telah dicoba oleh Mataram untuk melakukan serangan melalui jalur darat lebih dari sekali. Akan tetapi jalan yang benar-benar efektif hanya melalui pesisir dimana harus melewati Batavia terlebuh lebih dulu. Dari apa yang dikisahkan dalam Sadjarah Banten, juga kentara bahwa Batavia memang dipandang sebagai tembok penghalau apabila muncul serangan dari Mataram.

 

Sementara itu, bagi Batavia yang kekuatannya terus mengembang, hubungan yang selalu tegang antara kedua kerajaan itu (Banten dengan Mataram), juga merupakan aset yang menguntungkan. Kompeni mendasarkan politiknya menurut siasat, bahwa Mataram jangan terlalu berkuasa, dan Banten jangan terlalu lemah.

 

Tentang permusuhan antara Mataram dan Banten, telah ada sejak munculnya dua kerajaan itu. Di dalam kisah perjalan Jacob Van Neck terdapat berita tentang suatu serangan Mataram terhadap Banten melalui lautan dengan kekuatan kira-kira 15.000 orang. Serangan ini agaknya terjadi pada pertengahan tahun 1596, dan akhir tahun 1598 ketika waktu kedatangan Van Neck di Banten. Sebab, ketika kapal-kapal Belanda untuk pertama kalinya berada di muka Banten, penduduk telah tampak mempersiapkan diri untuk munculnya serangan dari Mataram yang memang sudah seringkali mengancam. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Priyana Nur Hasanah

Layout Infografis : Priyana Nur Hasanah