Satu Cirebon Dua Keraton - [Kabuyutan Sunda 01]

Kuatbaca

2 months ago

Pangeran Martawijaya pewaris tahta kesultanan Cirebon terlambat datang dalam pelarian dari Mataram. Di Cirebon, tahta sudah terlanjur diserahkan pada Pangeran Kertawijaya. Selama keduanya tidak berada di Cirebon, telah diangkat penjabat raja, yaitu Pangeran Wangsakerta. Peristiwa yang terjadi berurutan pada medio 1677 itu menjadi babak baru Kesultanan Cirebon, dimana tahta terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa di dalam lingkup wilayah yang sama, serta berhak menurunkan para sultan berikutnya.

 

 

Syahdan, ketika terjadi huru-hara serbuan Trunojoyo ke pusat kerajaan Mataram yang menyebabkan larinya Amangkurat I, Pangeran Martawijaya dan Kertawijaya berhasil keluar dari lingkungan Kraton Mataram. Akan tetapi keduanya terpisah di tengah jalan. Pangeran Martawijaya bertemu dengan Trunojoyo dan bergabung dengannya. Sedangkan Pangeran Kertawijaya langsung pulang ke Cirebon.

 

Sesampainya di Cirebon, Pangeran Kertawijaya menyaksikan adanya pasukan Banten di sana, dan Pangeran Wangsakerta telah dilantik menjadi penjabat raja. Maka, dikarenakan telah kembalinya Pangeran Kertawijaya di Cirebon dan mengira Martawijaya (putra sulung Panembahan Girilaya) telah hilang atau mati, Sultan Ageng Tirtayasa pun memaklumkan Pangeran Kertawijaya sebagai sultan di Cirebon. Namun, tak beberapa lama berselang, Pangeran Martawijaya ternyata juga tiba di Cirebon berkat bantuan Trunojoyo. Kejadian ini pada akhirnya memunculkan kesepakatan untuk membagi tahta di Cirebon.

 

Pangeran Martawijaya kemudian diangkat menjadi Sultan Sepuh yang berdiam di Kraton Kasepuhan dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703), dan Pangeran Kartawijaya diangkat sebagai Sultan Anom yang berkuasa di Kraton Kanoman dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723). Sedangkan Pangeran Wangsakerta diangkat menjadi Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Gusti/Tohpati (1677-1713).

 

Dalam pembagian ini, Pangeran Wangsakerta tidak memiliki kraton, wilayah kekuasaan, dan kekuasaan secara formal. Akan tetapi tempat kediamannya dijadikan sebagai kaprabonan, yaitu tempat belajar (paguron/perguruan) keluarga kraton tentang ilmu kenegaraan dan keagamaan. Selain itu, Keprabonan juga didaulat sebagai pusat pengembangan agama Islam di Cirebon. Dengan demikian, sejak tahun 1677 terjadi babak baru bagi Kesultanan Cirebon, dimana tahta terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa di dalam lingkup wilayah yang sama, serta berhak menurunkan para sultan berikutnya.

 

Sebelumnya, Panembahan Ratu (Pangeran Rasmi) yang berkuasa di Cirebon, terjepit di antara dua pengaruh kekuasaan yang saling bermusuhan, yakni Kesultanan Banten dan Mataram. Banten merasa curiga bahwasannya Cirebon lebih mendekat ke Mataram, sebab hubungan perkawinan. Sementara itu, Mataram juga menaruh curiga kepada Cirebon, karena Panembahan Ratu dan Sultan Ageng Tirtayasa adalah sama-sama keturunan Pajajaran melalui Sunan Gunung Jati.

 

Menyadari situasi tersebut, dalam usaha diplomasinya untuk menghindari peperangan dengan Banten sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan, Panembahan Ratu mengutus putra bungsunya yang bernama Wangsakerta ke Banten. Namun, oleh Mataram hal ini tentunya dipandang sebagai bukti pengkhianatan sehingga Panembahan Ratu pun dipanggil untuk menghadap ke Mataram bersama dua orang putra tertuanya.




Panembahan Ratu kemudian wafat ketika berada di Mataram. Ia dimakamkan di bukit Girilaya, berdekatan dengan makam raja-raja Mataram di bukit Imogiri. Sepeninggal Panembahan Ratu, kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, masih diharuskan tetap di Mataram. Nampaknya hal ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan Cirebon terhadap Mataram, sebagaimana Cakraningrat I yang juga diharuskan berada di Mataram.

 

Maka, dikarenakan kekuasaan di Cirebon lowong, Sultan Ageng Tirtayasa kemudian menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya. Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I di Mataram. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Priyana Nur Hasanah

Layout Infografis : Priyana Nur Hasanah