top ads
Home / Telik / Ekonomi / Target PLN Berubah Utang pun Bertambah

Ekonomi

  • 71

Target PLN Berubah Utang pun Bertambah

  • April 02, 2023
Target PLN Berubah Utang pun Bertambah

“Sejak awal digagas oleh Presiden Joko Widodo pada Mei 2015, banyak pihak pesimis dengan Megaproyek Pembangkit Listrik 35.000 megawatt (MW) ini, karena dianggap mustahil. Terbukti, proyek molor dari target rampung pada 2019 dan berujung pada PLN yang mengalami oversupply listrik. Tak pelak, utang PLN pun kian bertambah sejak 2015 hingga Juni 2022.”

 

Mega proyek pembangkit listrik 35.000 Megawatt (MW), terus mengalami kemunduran target. Di tengah kondisi oversupply listrik yang mengharuskan PLN membayar denda setiap tahunnya. Sehingga utang PLN pun terus bertambah, hal itu terlihat dari tren total liabilitasnya yang cenderung meningkat.

 

Dihimpun dari Data Keuangan PLN 2015-2022

 

Saat mega proyek pembangkit listrik 35.000 MW dicanangkan, pada tahun 2015 liabilitas PLN berada di angka Rp509,5 triliun. Meski sempat turun di tahun 2016, hingga angka Rp393,7 triliun, total liabilitas meningkat pada 2017 menjadi Rp465,5 triliun dan terus meningkat hingga tahun 2019 pada angka Rp655,6 triliun. Sejak saat itu, hingga bulan Juni 2022, total liabilitas PLN belum pernah lagi di bawah angka Rp600 triliun.

 

Oversupply listrik, yang disebabkan kerjasama penyediaan listrik PLN dengan produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP), dinilai menambah total liabilitas PLN tiap tahunnya. PLN menjadi susah untung, karena harus terus membayar denda sebagai kompensasi oversupply tersebut. Kuatbaca.com telah mengulas lebih lengkap terkait kerjasama tersebut dalam Telik berjudul “Biang Kerok PLN Bobrok”.

 

                  

Dihimpun dari Laporan Statistik PLN 2021

 

Data di atas menunjukkan jumlah suplai listrik yang diproduksi dan dibeli oleh PLN terus bertambah setiap tahunnya. Pada tahun 2015, PLN mampu memproduksi dan membeli listrik untuk di suplai sebesar 233.981 Gigawatt hour (GWh). Catatan di tahun 2021, kapasitas listrik yang dapat disuplai PLN ke pelanggan telah meningkat menjadi 289.470 GWh.

 

Data jumlah listrik yang berhasil dijual ke pelanggan juga meningkat setiap tahunnya. Akan tetapi, jumlah tersebut masih lebih sedikit dibandingkan jumlah listrik yang mampu di suplai PLN. Oleh karena itu, suplai listrik PLN tiap tahunnya mengalami kelebihan suplai. Rata-rata kelebihan pasokan listrik periode 2015-2021 sebesar 31.751 GWh atau 12,09 persen dari suplai listrik yang diproduksi dan dibeli PLN.

    

 

Banyak yang pesimis dengan mega proyek pembangkit listrik 35.000 MW, yang menjadi salah satu proyek Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2015, karena dianggap mustahil.

 

Dewan Energi Nasional (DEN) sudah memproyeksikan pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW ini tidak selesai tepat waktu pada 2019. Keterlambatan realisasi pembangunan disebabkan banyaknya hambatan, terutama terkait pembebasan lahan.

 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) era periode pertama Jokowi juga menyadari banyak pihak yang memandang sebelah mata mega proyek ini.

 

“Hampir semua pihak pesimistis dengan proyek pembangkit listrik 35.000 MW,” ujar Menteri ESDM 2014-2016, Sudirman Said, Kamis (22/1/2015).

 

Di sisi lain, Wakil Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2015 lalu, Bermawi P Iskandar menerangkan, pembangunan pembangkit 35.000 MW adalah sebuah proyek besar. Hal itu tidak mudah untuk diwujudkan. Pasalnya, butuh kekompakan untuk mencapai target yang dicanangkan Jokowi untuk lima tahun ke depan.

 

“Untuk mengatasi masalah kelistrikan di Indonesia, pemerintah mencanangkan membangun pembangkit listrik 35.000 MW dalam lima tahun. Banyak tantangan untuk merealisasikan ambisi ini,” kata dia, Senin (3/8/2015).

 

Tak hanya ITB, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reforms, Fabby Tumiwa turut menilai Presiden Jokowi terlalu ambisius ketika mencetuskan mega proyek pembangkit listrik 35.000 MW dalam lima tahun. Pasalnya, proses tender hingga turunnya izin pembangunan saja membutuhkan waktu lama.

 

Fabby menilai, mega proyek tersebut bisa berjalan mulus jika ditargetkan rampung dalam waktu 10 tahun.

 

Setibanya di tahun 2019, prediksi proyek selesai molor menjadi nyata. Direktur Utama PT PLN (Persero) 2019-2021, Zulkifli Zaini justru menyampaikan bahwa progres pembangkit listrik 35.000 MW ditargetkan rampung pada 2023.

 

Selain memiliki mega proyek pembangkit listrik 35.000 MW, ternyata pemerintah juga memiliki program 7.000 MW yang sudah mulai tahap konstruksi. Progresnya, menurut Zulkifli, sebesar 94 persen atau setara 7.458 MW sudah dilakukan Sertifikat Laik Operasi (SLO)/comissioning, sementara 6 persen atau 458 MW masih dalam progres konstruksi.

 

“Artinya keseluruhan program secara fisik sudah dikerjakan dan bahkan sebagian besar sudah beroperasi,” terang Zulkifli, Selasa (25/8/2020).


 

Namun, saat memasuki 2021, justru mega proyek 35.000 MW masih jauh dari targetnya. Hanya sekitar 10.469 MW telah commercial operation date (COD) dalam program pembangunan pembangkit ini hingga Agustus 2021. Masih jauh dari target, bahkan belum mencapai setengahnya. Padahal, target yang sebelumnya dikatakan Zulkifli Zaini akan rampung pada 2023.

 

Tak mengherankan, jika Direktur Pembinaan Program Ketenagalistikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu menyampaikan, target penyelesaian proyek pembangkit listrik 35.000 MW yang sejatinya pada 2019 ini, mau tidak mau mundur ke 2028.

 

Jisman menjelaskan, pertumbuhan konsumsi listrik tidak setinggi proyeksi awal. Sehingga, hal tersebut berdampak pada penyelesaian beberapa pembangkit yang harus diundur.

 

“Ada pergeseran dan sebagian COD (commercial operation date) 35.000 MW itu bisa di 2028. Disesuaikan dengan pertumbuhan sistem setempat,” ujar Jisman, Rabu (3/7/2019).

 

Terlebih lagi, akibat pandemi Covid-19, proyeksi kebutuhan listrik harus dihitung ulang. Sehingga memunculkan kemungkinan proyek molor lagi, dari tahun 2028, menjadi tahun 2030.

 

Pada tahun 2022, target PLN pun menjadi selaras dengan target Kementerian ESDM. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Agung Murdifi mengatakan, “PLN akan terus berupaya melakukan penyelesaian target proyek 35 GW dan diharapkan dapat selesai sesuai target, yakni antara tahun 2026 - 2028,” kata Agung, Minggu (9/1/2022).

 

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai, kemajuan proyek 35.000 MW masih jauh dari target yang ditetapkan. Sehingga ia mengusulkan agar target penyelesaian proyek dimundurkan ke tahun 2033 karena oversupply listrik dan masalah pendanaan.

 

“Kalau diselesaikan sesuai target, di samping memperbesar oversupply yang merugikan, juga PLN harus mencari tambahan utang untuk membiayai penyelesaian Proyek 35.000.Dalam kondisi tersebut Pemerintah harus mengubah target waktu penyelesaian,” kata Fahmy, Kamis (23/9/2021).

 

Usulan Fahmi Radhi menunjukkan peliknya permasalahan dalam proses bisnis PLN. DIbutuhkan inovasi atau gebrakan kebijakan, untuk dapat menyelesaikan permasalahan PLN secara komprehensif. Mengingat PLN juga berperan sebagai penyedia kebutuhan listrik masyarakat, maka kerugian PLN akan berujung pada kerugian bagi masyarakat.

Jurnalis :Muhammad Fadhil
Editor :Gery Gugustomo
Illustrator :Rahma Monika
Infografis :Rahma Monika
side ads
side ads