Ekonomi

Perusahaan Sawit Cuan Dimanjakan Ekspor

Kuatbaca

21 November 2022 16:42

Test

Komoditas Crude Palm Oil atau CPO saat ini menjadi salah satu komoditas paling menjanjikan. Sejumlah emiten CPO bahkan tengah meraih cuan gede-gedean. Diantara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) meliputi: PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT), PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG).

 

BWPT menjadi salah satu emiten dengan lompatan pendapatan dalam 9 bulan di tahun 2022. Pendapatan emiten Grup Rajawali Corpora itu meningkat 61,14 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp3,44 triliun. Sementara itu, TAPG juga mengantongi pertumbuhan pendapatan 51,51 persen menjadi Rp6,74 triliun. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. dengan kode emiten SSMS juga melaporkan kenaikan pendapatan sebesar 38,58 persen menjadi Rp5,1 triliun.

 

Kenaikan tersebut berimbas pada pertumbuhan laba bersih TAPG dan SSMS. Laba bersih TAPG tercatat melesat 228 persen menjadi Rp2,33 triliun, sementara SSMS membukukan laba bersih Rp1,55 triliun atau naik 51,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) juga mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih triple digit. Hingga kuartal III/2022, laba bersih DSNG melompat 114,75 persen secara tahunan menjadi Rp893,11 miliar.

 

Cuan sejumlah perusahaan sawit itu tak dapat ditampik, mengingat para perusahaan sawit di tanah air yang rata-rata mengandalkan ekspor. Apalagi pemerintah yang memanjakan para pengusaha sawit dengan memperpanjang kebijakan penurunan tarif pungutan ekspor (PE) minyak kelapa sawit atau CPO dan turunannya mulai 1 November 2022.

 

Pemerintah memperpanjang pungutan ekspor senilai USD 0 sampai dengan Desember 2022 lantaran harga CPO saat ini masih pada kisaran USD713 per metrik ton (MT). Pengenaan pungutan USD 0 untuk ekspor CPO telah berlaku sejak 15 Juli 2022. Kebijakan tersebut ditempuh untuk meringankan beban ekspor yang ditanggung pengusaha, sekaligus meningkatkan ekspor.

 

Sejumlah kebijakan yang digelontorkan oleh pemerintah untuk komoditas sawit memang dapat dimaklumi, apalagi pentingnya peran minyak sawit dalam menghasilkan devisa bagi Indonesia. Adapun Indonesia menguasai 52 persen pangsa pasar dari minyak sawit global. Indonesia memproduksi 40 persen dari produksi minyak sawit dunia.

 

Namun kebijakan bagi komoditas sawit tersebut, ibarat dua sisi mata pisau bagi pemerintah. Lantaran terkadang masih ada saja pengusaha yang lebih memilih jor-joran untuk melakukan ekspor tanpa mengindahkan kebutuhan domestik. Alhasil peristiwa kelangkaan minyak goreng yang sempat menggegerkan tanah air, diduga tak jauh-jauh akibat ulah para perusahaan pemain sawit mempermainkan pasokan.

 

Kasus kelangkaan minyak goreng ini masuk dalam tatanan hukum, bahkan hingga harus menyeret sejumlah nama pejabat pemerintahan yang ditetapkan oleh Kejaksaan Agung sebagai tersangka, dengan dugaan korupsi kelangkaan minyak goreng. Kelima tersangka itu diantaranya Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana dan tiga petinggi perusahaan swasta, seorang penasihat di Kementerian Perekonomian Lin Che Wei. Hingga akhirnya nama mantan Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi harus ikut terseret dalam kasus tersebut.

 

Lantas, adakah hubungan antara moncernya kinerja para perusahaan sawit dengan kelangkaan minyak goreng?

 

Analis KGI Sekuritas Rovandi menyatakan bahwa fenomena moncernya para perusahaan sawit karena produksi yang meningkat, serta efisiensi maupun juga karena pembandingnya di 2021 memang rendah. Sehingga perbaikan sedikit saja di profit akan terlihat bagus di Year on Year (YoY) nya.

 

"Sedangkan kelangkaan sawit yang sempat terjadi karena produsen lebih mementingkan ekspor keluar sehingga langka di rumah sendiri tapi full sampai harga turun diluaran," ujar Rovandi kepada KuatBaca.com di Jakarta, Jumat (11/11/2022).

 

Selain itu, menurut Rovandi, perusahaan-perusahaan sawit juga tetap mampu mencetak pendapatan walau ada sentimen kekhawatiran permintaan akan komoditas dari negara China yang merosot termasuk CPO. Seiring dengan angka kasus Covid-19 yang saat ini kembali meledak di China.

 

"Karena emiten CPO sekarang sudah banyak yang ekspansi usaha mendirikan pabrik pengolahan CPO dan keturunannya, sehingga memberikan tambahan nilai dan diversifikasi. Tidak hanya penjualan CPO saja yang jadi andalan," imbuhnya.

 

Anggapan pengusaha sawit yang lebih getol melakukan ekspor pun dipertegas oleh Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan yang mengungkapkan pengusaha memang memiliki kecenderungan mengekspor minyak sawit karena lonjakan harga di pasar global. Hal itu tentu lebih menggiurkan bagi pengusaha, karena keuntungan yang pasti melimpah.

 

Sehingga dengan adanya kebijakan kewajiban pasok ke pasar domestik (domestic market obligation/DPO) menyusul pencabutan larangan ekspor, seharusnya dapat menjadi tameng bagi pemerintah menjaga ketersediaan pasokan dan harga minyak goreng di dalam negeri. Merujuk Keputusan Menteri Perdagangan yang dikeluarkan tahun ini, DMO ditetapkan sebesar 30 persen dari total produksi,adapun DPO sebesar Rp9.300 per kilogram.

 

"DMO dan DPO harus diberlakukan sehingga kalau ada kenaikan, harga masih terjangkau atau naik tidak terlalu jauh," ucapnya.

 

Diperkirakan di tahun depan 2023 pengaruh pertumbuhan ekonomi global masih akan terus mempengaruhi harga dan pasar dari minyak sawit. Sementara cuaca ekstrim dapat mempengaruhi produksi minyak sawit dan ketersediaan dari pasokan.




Harga minyak sawit pada tahun 2023 masih bisa naik kembali sebagai efek dari perang Rusia dan Ukraina yang menyebabkan pasokan minyak nabati terbatas dan harga bahan bakar meningkat. Cuaca ekstrem kekeringan atau hujan deras sehingga banjir membuat produksi berkurang dan persediaan terbatas.

 

“Namun kenaikan terhambat dengan adanya pertumbuhan ekonomi global turun, akibat dari pengetatan moneter untuk mengatasi inflasi global. Kekhawatiran terjadinya resesi menyebabkan permintaan turun,” mengutip Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Loni T.

 

Kendati masih diselimuti tantangan, tetapi perusahaan sawit masih berpotensi untuk kembali mencetak tren ke arah positif maupun mengerek harga sahamnya. Emiten sawit tentu sangat dipengaruhi oleh tren harga kontrak CPO dimana kenaikan agresifnya terjadi di awal tahun lalu.

 

"AALI, LSIP dan SIMP juga saham sawit lain pun bisa dicermati pergerakan harganya. karena termasuk basisnya komoditas maka segala hal yang memengaruhi harga CPO seperti tingkat permintaan, persediaan yang salah satunya dipengaruhi juga oleh cuaca ini bisa terus diperhatikan oleh pelaku pasar," tambahnya.

 

Bukan menjadi cerita yang klasik, bahwa industri sawit akan tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ancaman krisis ekonomi global yang diperkirakan terjadi pada tahun depan. Industri sawit nasional dinilai memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi di Indonesia sejak tahun 1998.

 

Para pengamat menilai bahwa kebijakan-kebijakan yang dibuat Indonesia akan menjadi motor pendorong pertumbuhan ekonomi. Industri sawit telah berkontribusi Rp500 triliun untuk pemasukan devisa ekspor negara setiap tahunnya. Selain itu, komoditas ini memberikan lapangan kerja bagi 16 juta orang. (*)

 

Jurnalis : Prabawati Sriningrum

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Bagus Maulana

Infografis : Bagus Maulana


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi