Ekonomi

Meneropong Kondisi Ekonomi Dunia Tahun 2023

Kuatbaca

24 November 2022 09:40

Test

“Jika menilik dari runtutan hasil deklarasi maupun komunike dalam perundingan G20 sepanjang 14 tahun terakhir maka terjadi peralihan krisis ekonomi antara tahun 2008 atau potensi 2023 dari krisis finansial menuju ke komoditas. Pembahasan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Washington hingga empat sampai lima tahun setelahnya terfokus pada penanganan krisis keuangan, pasca krisis, dan pencegahan potensi krisis. Namun ancaman krisis ekonomi 2023 membuat pemimpin dunia di G20 memprioritaskan ketahanan pangan dan energi sebagai komoditas strategis dunia.”

 

Jika memantau setiap deklarasi maupun komunike dari hasil perundingan Konferensi Tinggkat Tinggi (KTT) The Group of Twenty (G20), maka kita dapat melihat transisi kondisi perekonomian dunia. Mulai dari sejak KTT G20 pertama di Washington pada 2008 hingga KTT G20 Bali yang baru saja dihelat belakangan ini.

 

Berdasarkan laporan UNCTAD: The Financial and Economic Crisis of 2008-2009 and Developing Countries, Krisis yang terjadi pada 2008 telah menimbulkan kondisi defisit finansial dan hutang eksternal yang terlalu besar di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, dan Australia. Selain itu negara yang mengalami surplus ekonomi seperti China, Jerman, dan Jepang terpaksa menahan tuntutan domestik mereka dan menurunkan nilai mata uangnya.

 

Makna dari defisit dan hutang eksternal yang begitu besar, maka dapat disimpulkan jika krisis yang terjadi pada saat itu ialah ketika negara-negara besar kekurangan uang

 

Krisis tersebut diawali dari meledaknya pembengkakan harga properti di Amerika Serikat pada tahun 2007. Lantaran terjadinya peningkatan signifikan terhadap permintaan aset properti baru ketika bank mengeluarkan pinjaman hipotek dengan suku bunga yang lebih rendah bagi jutaan pelanggan.

 

Hipotek tersebut tidak hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan membayar serta riwayat kredit yang bagus (prime mortgage) melainkan juga kepada pihak yang tidak memenuhi kedua syarat tersebut (subprime mortgage).

 

Oleh karena itu pemimpin-pemimpin dunia sadar akan kebutuhan reformasi tata kelola keuangan dunia pada saat itu. Hal ini terlihat dalam Prinsip Umum Reformasi Pasar Finansial, terkandung dalam Declaration of the Summit on Financial Markets and the World Economy yang dihasilkan dalam perundingan KTT G20 Washington.

 

Prinsip tersebut terdiri dari lima poin, antara lain yang pertama menguatkan transparansi keuangan pasar, termasuk terkait masalah-masalah finansial di dalamnya. Kedua, peningkatan tata regulasi untuk memastikan regulasi bersifat efisien, tidak menghambat inovasi, mendorong perluasan produk dagang keuangan dan jasa, serta bernilai transparan. Ketiga, melindungi investor dan konsumen dari kejahatan keuangan. Keempat, memperkuat kerjasama internasional untuk mendorong negara-negara anggota konsisten memformulasikan dan meregulasikan langkah-langkah koordinasi, pencegahan, pengelolaan, dan resolusi hadapi krisis pasar keuangan. Dan terakhir, memperbaharui institusi keuangan internasional.

 

Penerapan dalam prinsip tersebut masih menjadi fokus dari G20 selama lima tahun, dan pembahasannya masih tetap berlangsung hingga perundingan KTT G20 di Bali yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

 

Selama lima tahun itu pula G20 menerapkan berbagai langkah serta merumuskan regulasi-regulasi untuk menangani krisis ekonomi, pasca-krisis, dan upaya pencegahan potensi krisis sesuai dengan kelima prinsip tersebut. Salah satunya ialah mendirikan Financial Stability Board dalam KTT G20 di London pada 2009. Lembaga ini didirikan untuk memonitor dan memberikan rekomendasi mengenai sistem keuangan global.

 

Namun, sejak KTT G20 di St. Peterseburg 2013, isu-isu strategis dunia lainnya ikut menjadi pembahasan di G20. Mulai dari ketahanan pangan dan energi bersih yang sudah dibahas sejak 2013, meski saat itu kedua isu tersebut tidak menjadi fokus utama. Selain itu, infrastruktur, tekonologi digital, pendidikan, pemberdayaan anak muda, imigrasi, perubahan iklim, hingga lingkungan pun tak luput dari perhatian negara-negara G20 maupun G7 hingga saat ini.

 

Kemudian selama dua tahun ke-belakang, perundingan di dalam KTT G20 di Roma dan Riyadh menjadikan kesehatan sebagai fokus utama, terutama pembahasan mengenai vaksin dan alat-alat medis. Hal ini lantaran pandemi Covid-19 dianggap telah merusak sendi-sendi perekonomian dunia.

 

Berbeda dengan itu, G20 Bali Leaders' Declaration 2022 menjadikan ketahanan pangan dan energi sebagai isu prioritas setelah sepakat menyatakan kecaman terhadap serangan Federasi Rusia kepada Ukraina yang tercantum di halaman pertama. Berdasarkan pantaun Kuatbaca.com, paling tidak terdapat beberapa komitmen mengenai penganganan ketahanan pangan dan energi dunia dalam deklarasi tersebut, berikut tabel diantaranya:

 


 

Dari komitmen-komitmen di atas, dapat diperhatikan bahwa telah terjadinya peralihan krisis ekonomi yang dihadapi negara-negara G20 di tahun 2022 ini dibandingkan dengan krisis ekonomi yang terjadi di tahun 2008.

 

Krisis ekonomi yang menggelegar pada tahun 2008 membuat pemimpin-pemimpin dunia terfokus kepada reformasi dan perbaikan tata kelola keuangan dan ekonomi dunia. Sedangkan krisis ekonomi yang diproyeksikan akan muncul pada tahun 2023, dengan tema resesi ekonomi, terkait khusus dengan kelangkaan pangan dan energi.

 

Krisis komoditas terjadi karena melihat negara-negara produsen telah menahan ekspor komoditas pangan sepanjang Juni 2022. Hal tersebut disampaikan dalam laporan International Food Policy Research Institute (IFPRI).

 

Salah satu korban krisis komoditas ialah Sri-Lanka, dimana kelangkaan pupuk dan harga pangan telah menyebabkan negara tersebut mengalami kebangkrutan. Penjelasan lebih lanjut dapat dibaca dalam telik Kuatbaca.com berjudul “Dinasti Politik Biang Kerok Krisis Ekonomi Sri Lanka”.

 

Berdasarkan laporan World Bank Report: Commodity Market Outlook 2022, terdapat beberapa komoditas utama yang mengalami inflasi besar-besaran yaitu diantaranya pangan, pupuk, gas alam, bahan bakar minyak (BBM), dan batubara.




Selama April 2020 hingga Maret 2022 terdapat lonjakan harga pupuk sebesar 220%, kemudian harga pangan juga melejit hingga 84% sejak 2008. Begitu pula di sektor energi, BBM jenis Brent Crude Oil mengalami kenaikan 55% periode Desember 2021 hingga maret 2022.

 

Di sisi lain, tren arus investasi dunia menunjukkan banyaknya investasi yang disalurkan dari negara-negara anggota G20 kepada Indonesia. Seperti program Millennium Challenge Corporation (MCC) sebesar USD698 juta dari Amerika Serikat untuk mendukung pembangunan Indonesia termasuk pengembangan transportasi, UMKM, dan lain sebagainya.

 

Selain itu juga ada program Indonesia Just Energy Transition Partnership (JETP), berupa USD20 miliar pendanaan dari sektor publik dan swasta, dari negara-negara G7 ditambah Norwegia dan Denmark. Angka-angka investasi tersebut terbilang cukup besar untuk sejumlah negara yang dinilai mengalami krisis.

 

Negara-negara G20 juga melakukan pengumpulan dana dalam rangka pemulihan pasca pandemi. Salah satunya The Pandemic Fund yang telah digagas oleh Indonesia berhasil mengumpulkan dana sebesar USD1.4 miliar atau setara Rp21.52 trilliun. Maka sudah jelas, jika dunia saat ini tidak mengalami krisis keuangan.

 

Itulah mengapa Indonesia sebagai negara pemegang presidensi G20, pada edisi tahun 2022 ini mengusung tema Recover Together, Recover Stronger. Krisis pangan seharusnya dipandang sebagai sebuah permasalah bersama semua negara yang harus diprioritaskan.

 

Sebagaimana kutipan dari seorang filsuf Swiss, Johann Georg Ritter von Zimmermann (1728-1795), bahwa “hunger is the mother of impatience and anger” yang berarti "Lapar adalah ibu dari ketidaksabaran dan kemarahan". Maka krisis pangan akan mengantar umat manusia ke dalam krisis sosial yang kompleks. (*)

Jurnalis : Ade Pamungkas

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Priyana Nur Hasanah

Infografis : Priyana Nur Hasanah


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi