Ekonomi

Broker Penyambung Saluran Ayam dari Integrator Besar

Kuatbaca

08 November 2022 11:38

Test

Masuknya komoditas ayam yang diproduksi perusahaan integrator ke pasar domestik bukan isapan jempol belaka. Ada bekingan dari UU Cipta Kerja yang membuat hal itu terjadi, kondisi yang berbea dibandingkan sepuluh tahun lalu, perusahaan integrator hanya bermain di tingkat budi daya.

  

Hingga kini komoditas ayam diduga masih menjadi lahan monopoli pasar oleh para perusahaan integrator besar. Muncul dua nama perusahaan perunggasan besar seperti PT. Charoen Pokphand Indonesia dan PT Japfa Comfeed Indonesia yang disinyalir mulai menyuplai ayam ternaknya ke pasar-pasar tradisional. 

 

Padahal notabenenya kedua pemain besar tersebut sudah memiliki lisensi ekspor hingga berjaya dalam produk olahan ayam. Tetapi yang sangat disayangkan ketika perusahaan raksasa komoditas unggas itu harus 'latah' turut memasarkan produknya di pasar tradisional yang menjadi andalan bagi para peternak ayam mandiri. Para perusahaan integrator besar ini pun akhirnya seakan menguasai rantai pasokan dari hulu ke hilir. Tanpa terkecuali memproduksi pakan hingga vaksin ternak yang memang menjadi kebutuhan para peternak ayam. Alhasil banyak peternak ayam mandiri gulung tikar, harga unggas dari mereka kalah kompetitif dengan komoditas yang berasal dari perusahaan raksasa.

 

Isu ini sempat mencuat di publik, yang langsung direspon oleh government relations Charoen Pokphand Indonesia, Hendra Lukito pada Rabu (26/10/2022) kepada media, bahwa perusahaan berkode saham CPIN itu telah mengembangkan jaringan pemasaran secara mandiri lewat ritel modern seperti Freshmart, Yamiku, Kios Unggas dan kawasan Kios Timur Indonesia.

 

Bantahan tidak langsung juga muncul dalam isu bahwa perusahaan komoditas unggas tersebut produknya sejak Juli lalu menggantikan pasokan Malaysia ke Singapura. Dikabarkan bahwa Malaysia menutup ekspor ayam ke luar negeri karena pasokan dalam negerinya menipis. Harga ayam di pasar dalam negeri Malaysia pun melonjak drastis.

 

Situasi berubah cepat, ketika akhir Agustus kemarin Malaysia mulai membuka kembali keran ekspor ke Singapura, dengan harga yang lebih murah. Unggas Indonesia yang dipasok Pokphand secara otomatis terancam kalah saing di negara tujuan ekspor, Singapura.

 

Melihat situasi ini, ada kemungkinan perusahaan unggas raksasa ini melempar produknya di pasar dalam negeri. Tim KuatBaca pun mencoba menelusuri pergerakan penjualan ayam di pasar. Menurut pengakuan pedagang ayam yang ditemui tim KuatBaca, mengatakan bahwa mendapat stok dagangannya bukan dari peternak mandiri. Disinyalir ayam tersebut berasal dari broker.

 

Sekjen Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengakui terdapat celah bagi Charoen Pokphand untuk bisa membantah tudingan monopoli pasar. Artinya, apa yang diutarakan para pedagang pasar sulit untuk dibuktikan.

 

Sugeng menekankan bahwa cara perusahaan besar memasok ayam hidup bukan secara langsung memasok ke pasar, melainkan melalui pihak ketiga alias broker. Broker inilah yang sangat diandalkan oleh perusahaan integrator besar untuk menyuplai ayam-ayamnya.

 

Adapun alasan perusahaan integrator besar akhirnya mulai mencicipi pasar becek sebagai tempat singgah produk ayam hidupnya, lantaran untuk mengamankan serapan pasokan mereka. Ditambah frekuensi konsumen masyarakat yang berminat tinggi pada ayam segar sebagai makan sehari-hari.

 

Masifnya ayam-ayam segar menguasai rantai pasok hulu hingga hilir pasar tradisional kian diperkuat oleh Agus Suwarna yang merupakan salah satu peternak ayam mandiri. Agus menyatakan jika semenjak dikeluarkannya aturan Pemerintah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 yang mengatur tentang peternakan mandiri dan kesehatan hewan didalamnya mencakup soal budi daya, peternak ayam mandiri kian menyusut.

 

Undang-undang itu diubah oleh Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014, yang kemudian beberapa pasalnya diubah lagi dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja.

 

Dirinya menaksir populasi peternak ayam mandiri sebelum krisis tahun 1998 bisa menyentuh sekitar 80 persen ayam yang beredar di pasaran, namun saat ini hanya dibawah 20 persen dari ayam yang beredar di pasaran.

 

"Jadi ibarat pemain bertinju itu kita harus bertarung di dalam kelas yang berbeda. Anggap saja integrator itu kelas berat kita hanyalah kelas ringan," ucapnya kepada tim KuatBaca, Rabu (26/10/2022). 

 

Jika situasi pelik ini terus berlanjut, bukan tak mungkin peternak ayam mandiri kian tergerus, ketika dibantai harga jual produksi yang tak sebanding dengan harga jual ayam di tingkat peternak ayam mandiri. 

 

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per tanggal 25 Oktober 2022, harga daging ayam ras segar di tingkat konsumen mulai merangkak naik menyentuh kisaran Rp33.750 per kg. Namun, mirisnya saat ini harga ayam di tingkat para peternak ayam mandiri masih anjlok pada kisaran harga Rp16.000-17.000 per kg. Angka itu pun sudah terbilang naik, setelah sebelumnya harga ayam di tingkat peternak mandiri hanya menyentuh Rp13.000-Rp15.000 per kg.

 

Kerugian tak bisa ditampik, saat ini situasinya peternak ayam mandiri bisa merugi setidaknya hingga Rp6.000 per ekor. Harga jual yang beredar di pasaran saat ini, ukuran ayam besar dan ayam kecil harganya hampir sama.

 

Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebenarnya telah mematok harga dengan menerbitkan Peraturan Badan Pangan Nasional No 5/2022 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras, dan Daging Ayam Ras, yang ditetapkan pada 5 Oktober 2022. Ditambah kebijakan penyerapan livebird oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan integrator besar.

 

Namun dinilai sejumlah kebijakan yang digelontorkan itu belum berdampak signifikan bagi peternak ayam mandiri. Pada praktiknya, harga acuan tersebut belum terlaksana dengan semestinya di lapangan.

 

 

Termasuk penyerapan ayam milik para peternak mandiri yang belum dilakukan secara merata. Diantaranya penyerapan digadang-gadang baru menyentuh sekitar peternak daerah Bogor, Jawa Barat, Jawa Tengah. Sehingga, jumlahnya masih terbilang minim dan belum signifikan.

 

Ditengah pasokan ayam milik peternak ayam mandiri yang melimpah hingga tak sebanding dengan permintaan, perusahaan besar terkesan ogah-ogahan dalam melakukan penyerapan ayam yang berasal dari para peternak. Menanggapi masa-masa kritis dan sulit ini, mau tak mau menuntut peternak ayam mandiri untuk memutar otak guna tetap bertahan dalam segala tantangan.

 

Para peternak mandiri yang ditemui tim Kuatbaca hanya mampu mengungkapkan jika mereka bertahan dengan inovasi terbatas yang mereka pahami.

 

“Keputusan dan perhitungan yang tepat harus diciptakan oleh para peternak ayam mandiri untuk menghadapi kejamnya persaingan industri perunggasan. Diantaranya strategi yang dapat dilakukan oleh para peternak ayam mandiri, yakni dengan memperhatikan secara mendetail faktor produksi,” ungkap Agus Suwarna di kediamannya, bilangan Bogor Raya.




Secara lebih rinci, Agus mengungkapkan upaya bertahan di tengah terjangan produk para integrator dengan mempertahankan produksi ayam secara baik dan menekan kematian seminimal mungkin. “Faktor produksi menjadi tonggak utama yang bisa dibilang hampir mempengaruhi 60 persen dari keberlangsungan usaha,” jelasnya.

 

Kedua, yakni memperhatikan harga jual. Biasanya terdapat tiga klasifikasi harga jual yang disoroti para peternak yang beredar di lapangan dengan membedakan harga jual ayam di ring 1, ring 2 serta ring 3.

 

Sebutan ring 1 adalah tingkatan peternak ayam mandiri yang biasanya memiliki harga jual yang lebih mahal dibandingkan tingkat ring 2 dan 3. Hal ini disebabkan faktor jarak kandang yang dekat dengan pemotong.

 

“Faktor jarak dan kemudahan juga menjadi salah satu penunjang keberlangsungan usaha peternakan ayam mampu tetap eksis,” tegasnya.

 

Sejumlah kiat-kiat inilah yang saat ini sedang dilakukan oleh Agus dan rekan-rekannya di peternakan ayam di kawasan Bogor. Dirinya lebih memilih untuk menggiatkan panen produksi ayam dan pemasaran produksi ayam hidupnya di ring 1, alias hanya menyebar kandang di satu titik kawasan, lantaran prospeknya yang lebih menjanjikan.

 

“Dengan kandang yang dekat, maka konsumen pun tak akan sulit mendapatkan produk ayam ternaknya. Terlebih pelayanan konsumen pun bisa dilakukan secara maksimal dan baik,” tuturnya.

 

Sedangkan, akan berbeda halnya jika kandang ternaknya tidak berada pada satu titik kawasan, faktor jarak dan waktu akan mempengaruhi banyak hal termasuk tingkat kepuasan konsumen.

 

“Nah kita panen setiap hari itu antrinya tidak panjang. Waktu tunggu dari tukang ayam ini tidak lama jadi datang paling satu dua jam ditimbang. Beda dengan peternak ataupun pabrikan yang satu lokasi ini kan ada yang 200.000 atau

400.000. Wah ini antriannya sangat panjang,” pungkas Agus.

 

Harapan Agus, pemerintah semestinya segera turun tangan untuk menangani instabilitas harga ayam di pasaran saat ini. Utamanya, agar peternak mandiri ini tidak ‘kehabisan nafas’ dan mampu memperoleh keuntungan bersahabat bertahan di ternak komoditas favorit masyarakat. (*)

Jurnalis : Prabawati Sriningrum

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Priyana Nur Hasanah

Infografis : Priyana Nur Hasanah


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi