Souw Beng Kong Kapiten Cina Pertama Batavia [Cerita Jakarta Lama - 02]

Kuatbaca

2 months ago

Souw Beng Kong atau Bencon bukan legenda. Makamnya pun masih dapat diakses di jalan Pangeran Jayakarta – Jakarta Pusat. Belanda sangat memuliakan Bencon karena berhasil mengalihkan pusat perdagangan dari Banten ke Batavia. Di samping itu, Bencon berperan besar dalam mengampu orang-orang Tiongkok yang diculik Belanda untuk kerja paksa.

 

 

Di dalam medio tahun 1611, ketika VOC membeli hasil bumi terutama lada, Jan Pieterszoon Coen yang diutus oleh Gubernur Jenderal Pieter Both heran karena ia harus berurusan dengan seorang pedagang kepercayaan penguasa Banten yang ternyata merupakan orang Tionghoa, Souw Beng Kong (Bencon).

 

Souw Beng Kong adalah seorang pedagang Tionghoa yang sangat berpengaruh dan mempunyai perkebunan lada amat luas. Ia begitu dihormati dan dipercaya penuh oleh pemerintah serta para petani Banten. Setiap pedagang asing seperti Portugis, Inggris dan Belanda yang ingin membeli hasil bumi dari petani Banten harus melakukan negosiasi harga dan lain-lainnya dengan Souw Beng Kong.

 

Sementara itu, pada tahun ini pula, di Jayakarta VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu sebagai kantor dagang, dimana mereka kemudian menyewa lagi lahan sekitar 1,5 hektar di tepi muara bagian timur Sungai Ciliwung guna dijadikan komplek perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda. Bangunan utama pada komplek itu dinamakan Nassau Huis.

 

Di tahun 1618, ketika Banten tengah memulai upayanya mengepung Batavia, J.P Coen juga berusaha merebut hegemoni perdagangan Banten dengan cara membujuk Souw Beng Kong, pemimpin komunitas Tionghoa di Banten, agar mau memindahkan pengaruh pedagang-pedagang Tionghoa dari Banten ke Jayakarta. Dan, untuk maksudnya tersebut, VOC mulai melakukan blokade serta perampasan terhadap kapal-kapal dagang Tionghoa yang memasuki pelabuhan Banten. Akibatnya pelabuhan Banten berangsur sepi dan hubungan antara etnis Tionghoa yang dipimpin oleh Souw Beng Kong dengan pemerintah Banten pun menjadi renggang.

 

Di Batavia, J.P Coen berhasil mendirikan bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam, tak lama kemudian ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter mengelilingi areal yang disewa oleh VOC, sehingga benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh.

 

Hingga memasuki tahun 1624, aksi J.P Coen makin menjadi-jadi. Kapal-kapal Belanda menculik pria, wanita dan anak-anak di pantai Tiongkok Selatan dan menyiksa para tawanan tersebut dengan sangat kejam di Kepulauan Pescadores (Penghu, di Taiwan sekarang). Banyak yang meninggal sebelum tiba di Batavia. Dan, bagi yang tertawan, kalau ingin bebas mereka harus bekerja keras terlebih dahulu guna mengumpulkan uang tebusan.

 

Pada masa ini terjadi gelombang kedatangan etnis Tionghoa secara besar-besaran ke Jawa. Mereka umumnya berasal dari provinsi Fujian. Jan Pieterszoon Coen mengambil tenaga kerja dari Tanah Tiongkok untuk dijadikan sebagai kuli, tukang bangunan dan pedagang eceran. Bahkan, demi memajukan koloni dan perdagangannya di Batavia, pelaut Belanda tidak segan untuk merompaki jung-jung Tionghoa secara terang-terangan dan menahan awak kapalnya guna dipekerjakan di Batavia.

 

Di tahun 1625, Souw Beng Kong yang akhirnya berpindah ke Batavia diangkat sebagai pemuka orang-orang Tionghoa. Gelar Souw Beng Kong diubah oleh J.P Coen menjadi Cappiteijn ofte overste der Chineezen, yang memiliki tugas mengurusi para pemukim Tionghoa di kota Batavia sekaligus sebagai juru bicara dan penanggung jawab mereka. Kapiten Souw Beng Kong mengendalikan komunitas Tionghoa di Batavia agar patuh kepada setiap peraturan yang dibuat VOC. Selain itu, ia juga menjadi penasihat resmi mengenai adat-istiadat dalam pengadilan Belanda yang menyangkut adat-istiadat Tionghoa.

 

Souw Beng Kong juga mengurusi tempat judi, pembuatan uang tembaga, serta mengawasi rumah timbang bagi semua barang milik orang Tionghoa. Ia bahkan menjadi pengawas bagi pembangunan rumah-rumah para pejabat Belanda, sehingga ia merupakan aannemer (kontraktor) Tionghoa pertama di Batavia. Selain itu, ia juga memiliki perkebunan lada yang luas sekali dan juga mengajarkan sistem irigasi.

 

Pada masa ini, tercatat apabila terjadi hujan lebat di Batavia, maka genangan air muncul setinggi lutut. Orang bahkan bisa naik sampan untuk masuk ke hutan-hutan di belakang Batavia.



Di tahun 1628 kedudukan Souw Beng Kong pun dikukuhkan. Souw Beng Kong secara resmi dijadikan sebagai Kapitein Tionghoa (Kapitein der Chinezen). Dengan demikian ia menjadi orang Tionghoa pertama yang diberi pangkat di Hindia Belanda. Dan, berkenaan dengan partisipasi orang Tionghoa di Batavia, kepada bawahannya Jan Pieterszoon Coen berkata: “Siapa pun yang berniat membangun dan memperluas pengaruh Belanda harus bekerja-sama dengan orang-orang Tionghoa, karena mereka bangsa yang ulet, rajin dan suka bekerja.”

 

Pada masa ini daerah yang disebut Jatinegara sekarang masih merupakan hutan rimba dan menjadi tempat tentara Mataram bersembunyi sebelum menyerang Batavia. Rawa-rawa di sekitar Jakarta itu telah ada sejak abad-abad awal Masehi, dan hal ini pula yang menyebabkan para pedagang dari Hindustan (India) tidak memilih untuk menempati Jakarta dikarenakan kondisinya yang tidak sehat.

 

Souw Beng Kong meninggal pada 8 April 1644 dalam usia 50 tahun di gedungnya yang megah di Tijgersgracht (artinya: Terusan Macan, sekarang Jl Pos Kota), dan dimakamkan sebulan kemudian di tanahnya sendiri yang terletak di Mangga Dua.

 

Tetapi, menurut narasumber dari salah satu keluarganya, jenazah Souw Beng Kong di rawat sampai 2 bulan dan dibalsam serta ditemani dengan setia oleh dua orang budak perempuan yang baru dibebaskan setelah jenazahnya dimakamkan. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Rahma Monika

Layout Infografis : Rahma Monika