Pembantaian Orang-orang Tionghoa di Batavia [Cerita Jakarta Lama - 04]

Kuatbaca

2 months ago

Pasar gula Jawa mengalami kemerosotan, selain karena persaingan barang dari Brazil dengan harga yang jauh lebih murah, pasar di Eropa juga telah mencapai titik jenuh. Sementara itu, di Batavia, puluhan pedagang gula mengalami kebangkrutan dan harus memberhentikan kuli-kuli mereka yang sebagian besar dari etnis Tionghoa.

 

Pengangguran besar-besaran ini kemudian memunculkan kelompok-kelompok yang menjurus pada komplotan kriminal. Mereka tidak segan-segan untuk melakukan tindak kekerasan. Akibatnya, muncul keresahan di kalangan orang-orang Belanda dan Eropa lainnya di Batavia. Sebab, pada waktu itu orang-orang Tionghoa merupakan unsur penduduk yang berjumlah paling besar.

 

Di tahun 1740, terdapat 2.500 rumah orang Tionghoa di dalam tembok Batavia. Sedangkan jumlah orang Tionghoa baik di kota maupun di daerah sekitarnya diperkirakan 15.000 jiwa, yang berarti 17% dari total penduduk Batavia, dan jumlah ini melebihi jumlah serdadu VOC.

 

Pada 4 Februari 1740, segerombolan orang Tionghoa melakukan penyerbuan ke pos penjagaan dengan tujuan membebaskan rekan sebangsanya yang ditahan. Kemudian, pada Juni 1740, Kompeni Belanda mengeluarkan lagi sebuah peraturan mengenai izin tinggal, yakni semua orang Tionghoa yang tidak memiliki izin akan ditangkap dan diangkut ke Ceylon.

 

Dalam prakteknya peraturan tersebut dilaksanakan dengan sewenang-wenang sehingga membuat orang Tionghoa resah, lebih-lebih ketika semakin sering terjadi penangkapan, penyiksaan, dan perampasan hak milik orang Tionghoa. Di Batavia, dalam waktu yang tidak lama, lebih dari 1.000 orang Tionghoa telah dipenjarakan.

 

Para penguasa VOC kemudian mulai mengambil langkah-langkah preventif dengan mendeportasi kuli-kuli dari Tiongkok yang telah ditangkap ke Ceylon dan Afrika Selatan —yang pada waktu itu juga merupakan koloni VOC. Deportasi dengan kapal laut dimulai pada bulan Juli 1740. Tetapi, tak lama setelah dimulainya deportasi kuli-kuli Tionghoa ke Ceylon, muncul desas-desus bahwa dalam perjalanan kuli-kuli itu dibunuh dan dilemparkan ke laut. Karena terpancing dengan isu tersebut, akhirnya banyak kuli Tionghoa yang kemudian mempersenjatai diri dan mulai mengadakan perlawanan, bahkan berencana menyerang Batavia.

 

Pada September 1740, tersiar berita bahwa segerombolan orang Tionghoa di daerah pedesaan di sekitar Batavia telah bergerak mendekati pintu gerbang. Hal ini membuat Mr. Cornelis di Tangerang dan De Qual di Bekasi kemudian memerintahkan untuk memperkuat pos-pos penjagaan.

 

Pada 7 Oktober 1740, Pasukan bantuan yang dikirim ke Tangerang oleh pemerintah Kompeni diserang oleh gerombolan orang Tionghoa. Sebagian besar dari pasukan tersebut tewas. Oleh karena itu, berdasarkan bukti-bukti yang didapat, VOC menarik kesimpulan bahwa orang-orang Tionghoa memang merencanakan pemberontakan. Dan, pada 8 Oktober 1740, pemerintah Kompeni mengeluarkan maklumat yang antara lain berisi perintah untuk menyerahkan senjata dan memberlakukan jam malam. Suasana di Batavia mencekam. Selain itu, muncul kabar bahwa orang-orang Tionghoa di dalam kota akan bergabung dengan warga Tionghoa dari sekitar Batavia.

 

Pada 9 Oktober 1740, Gubernur Jenderal Valckenier mengeluarkan perintah penggeledahan terhadap sekitar 5.000 keluarga Tionghoa yang tinggal di lingkungan benteng Batavia maupun sekitarnya. Bersamaan dengan pelaksanaan perintah itu, selama tiga hari ke depan berlangsung pula pembunuhan besar-besaran terhadap orang Tionghoa di Batavia yang dilakukan terutama oleh orang-orang Belanda dan para budak. Setiap orang Tionghoa yang ditemui langsung dibunuh. Bahkan, yang berada di rumah sakit juga dibantai (lihat: Vermeulen, J.Th., De Chineezen Turbulenten te Batavia, 1938).

 

Pada 10 Oktober 1740, sekitar 3.000 orang pemberontak Tionghoa melakukan penyerangan ke kubu pertahanan Kompeni di Tangerang. Sementara itu, selama beberapa hari juga terjadi aksi pembakaran terhadap perkampungan orang Tionghoa.

 

Selama bulan Oktober 1740, diperkirakan sekitar 24.000 orang etnis Tionghoa tewas dibantai oleh orang-orang Belanda dan Eropa lainnya.

 

Kekerasan mereda setelah orang-orang Tionghoa mulai memberikan uang premi kepada serdadu-serdadu VOC yang sedang menjalankan tugasnya. Namun, banyak pula orang Tionghoa yang memutuskan untuk melarikan diri ke Jawa Tengah dan bergabung dengan kelompok pemberontak di bawah pimpinan Mas Garendi atau Sunan Kuning, selain ada pula yang melarikan diri ke Kalimantan Barat.

 

Georg Bernhard Schwarz, seorang Jerman yang berasal dari Remstal, dekat Stuttgart, Jerman, pada 1751 dalam tulisan yang diterbitkan di Heilbronn, Jerman, dengan judul “Merkwürdigkeiten” menuturkan pengalamannya ketika ia ikut dalam pembantaian etnis Tionghoa di Batavia. Ia menuliskan bahwa ia membunuh orang Tionghoa beserta seluruh keluarganya di Batavia, yang adalah tetangganya sendiri, walaupun mereka sebenarnya adalah kenalan baik dan tidak mempunyai masalah pribadi satu dengan lainnya. (Seemann, Heinrich, Spuren einer Freundschaft. Deutsch — Indonesische Beziehungen vom 16. bis 19. Jahrhundert).

 

Ketika berita tentang pembantaian etnis (genocide) Tionghoa di Batavia sampai ke Eropa, hal ini sangat memalukan bangsa Belanda yang bertepuk dada sebagai penganut taat dari ajaran Kristen. Sedangkan masalah pembantaian etnis Tionghoa yang sangat mencoreng wajah Belanda itu berhasil ditutup-tutupi dan kemudian hilang begitu saja. Tak ada satu orang pun pelaku pembantaian yang dimajukan ke pengadilan.

 

Orang-orang Tionghoa kemudian diisolir dengan wijkenstelsel dan passenstelsel. Artinya, orang Tionghoa harus tinggal di tempat tertentu (Pecinan) dan apabila ingin bepergian harus meminta surat ijin dari penguasa setempat. Orang Tionghoa pun dilarang memakai pakain orang Jawa atau penduduk pribumi lainnya agar tidak dapat membaur dengan mereka dan menimbulkan kekacauan, dan orang Tionghoa juga tidak diperkenankan memakai pakaian Eropa. Mereka hanya boleh memakai baju thungsha dan celana komprang, serta rambutnya memakai taucang alias kuncir. Bagi yang melanggar akan kena denda atau hukuman yang berat.




Sementara itu, di Mataram, Susuhunan Paku Buwono II turut memberi respon terhadap pembantaian orang-orang Tionghoa. Akan tetapi, di kalangan istana, telah berkembang dua pendapat yang berbeda terhadap rencana Paku Buwono II untuk turut bersama komunitas Tionghoa dan menyerang Kompeni. Patih Natakusuma memilih untuk melawan Kompeni sebagai sebuah langkah strategis, yakni melalui jalan bergabung dengan komunitas Tionghoa.

 

Sedangkan kelompok lain yang dipimpin oleh penguasa daerah pesisir, berpendapat bahwa dalam peperangan antara Kompeni dengan Tionghoa pada akhirnya hanya akan dimenangkan oleh Kompeni. Maka, mereka menganjurkan agar tidak tergesa-gesa, sebaiknya menunggu sampai VOC terdesak dan meminta bantuan Mataram. Dua pertimbangan ini menyebabkan Paku Buwono II sempat ragu-ragu ketika memutuskan untuk segera melakukan penyerangan terhadap kubu-kubu Kompeni.

 

Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier dan wakilnya, Baron von Imhoff, saling menyalahkan atas terjadinya pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa di Batavia. Valckenier sendiri kemudian dipanggil pulang dan meninggal saat berada dalam tahanan. Setelah Valckenier dipanggil pulang pada tahun 1741, jabatan Gubernur Jenderal untuk sementara dipegang oleh Johannes Thedens, sebelum kemudian ia digantikan oleh Gustaf Wilhelm Baron von Imhoff (1743-1750). (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Bagus Maulana

Layout Infografis : Zakki Fauzi