Jonker, Akhir Seorang Kapiten Ternama di Batavia [Cerita Jakarta Lama - 01]

Kuatbaca

2 months ago

Belanda itu licik, bukan terutama sekali menggambarkan karakter orangnya, tetapi juga meliputi taktis politik yang dilancarkan. Sifat itu juga menggambarkan lantaran perebutan pengaruh antar hierarkis Kompeni di tanah jajahan. Kapiten Jonker, pribumi asal Bugis yang berjasa dalam dalam pengukuhan VOC di Batavia, menjadi orang yang diperdaya: berjasa diangkat, lalu dihinakan dengan cara dibunuh secara tak terhormat. Kisah ini banyak dituliskan dalam berbagai manuskrip VOC di Batavia.

 


Kapiten Jonker, yang waktu itu sudah berusia 50 tahun, tewas di kediamannya di daerah Pejongkeran, Marunda. Ia terbukti berkomplot dengan Cornelis J. Speelman yang mengakibatkan kerugian besar bagi keuangan VOC. Ia adalah anak emas Gubernur Jenderal Speelman. Dan, berkat jasanya yang besar pada Kompeni, Kapiten Jonker telah menerima rantai kalung emas seharga 300 ringgit sebagai medali. Selama di Batavia, ia juga diangkat sebagai kepala orang-orang Ambon di Batavia semenjak tanggal 1 Januari 1665.

 

Kapiten Jonker dengan pasukannya adalah kesatuan yang terdiri dari orang-orang Ambon. Mereka adalah sebuah kelompok tanpa seragam dan tanpa kemampuan baris-berbaris maupun disiplin seperti pasukan profesional pada umumnya. Satu-satunya senjata yang mereka pakai adalah kelewang dan beberapa orang ada yang memakai perisai. Pasukan ini hanya tunduk kepada perintah satu orang saja, yaitu Kapiten Jonker atau Kapiten Ambon.

 

Reputasi tempur Jonker dan pasukannya naik bersama seorang pelarian dari Bugis, Arung Palakka. Pada bulan April 1666, Jacob Gruys dengan 200 pasukan Belanda dan pasukan-pasukan pembantunya menyerang kota Pauh untuk memadamkan perlawanan rakyat yang disokong oleh Aceh. Namun, penyerangan tersebut gagal dan hanya 70 orang serdadu yang dapat kembali. Sedangkan Jacob Gruys sendiri tewas bersama 2 orang kapten dan 5 orang letnan.

 

Kemudian, dibawah pimpinan Abraham Verspreet, pada bulan Agustus 1666 dari Batavia diberangkatkan 300 orang serdadu Belanda, dimana terdapat 130 serdadu Bugis dibawah komando Arung Palakka, dan 100 serdadu Ambon dibawah Kapiten Jonker. Dalam penyerangan ini, kepada Verspreet ditegaskan, bahwa dalam setiap formasi tempur pasukan Bugis pimpinan Arung Palakka dan pasukan Ambon pimpinan Kapiten Jonker harus selalu berada di depan pasukan Belanda.

 

Setelah mengadakan konsolidasi di Padang, pasukan Belanda mendapatkan tambahan sekitar 500 orang lagi dari kota Padang. Tetapi, pasukan ini ternyata tidak banyak membantu dalam peperangan dan cukup gesit dalam melakukan penjarahan sehabis peperangan. Sedangkan Pasukan Arung Palakka dan Kapiten Jonker seringkali terpisah dengan pasukan induk karena begitu sibuk membantai (biasanya dengan memenggal kepala) dan sulit diperintah untuk tetap dalam barisan. Dalam peperangan pertama, korban dipihak Kompeni adalah 10 orang tewas dan 20 luka-luka, termasuk Arung Palakka dan Kapiten Jonker yang terkena 3 buah tusukan tombak.

 

Pada tanggal 28 September 1666, Kota Ulakan dapat diduduki dan Arung Palakka digelari sebagai Raja Ulakan. Lalu, pada 30 September 1666, pasukan Belanda sampai di Pariaman, disini Kapten Jonker diangkat sebagai Panglima (rakyat setempat menamakannya Raja Ambon) dan harus diberikan upeti. Ekspedisi yang dipimpin Verspreet kemudian kembali ke Batavia pada 3 November 1666. Arung Palakka dan Kapten Jonker mendapatkan banyak hadiah dalam bentuk pakaian dan emas, serta masing-masing menerima 20 ringgit untuk setiap tawanan yang dibawa dari Minangkabau.

 

Reputasi Jonker di pulau Jawa juga berhasil meninggi karena dialah yang menangkap Trunojoyo. Yakni setelah basis pertahanannya sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC, Trunojoyo akhirnya menyerah dalam kepungan di daerah lereng Gunung Kelud. Pada tanggal 26-27 Desember 1679. Adalah seorang perwira VOC keturunan Ambon bernama Kapiten Jonker yang berhasil membuat Trunojoyo menyerah di sekitar Gunung Anjasmoro. "Ia mengenakan jubah satin hitam, bersorban hitam dengan cincin emas di sekitarnya dan celurit hitam panjang di tangannya", tulis sebuah laporan VOC. Jonker kemudian menyerahkan Trunojoyo kepada Couper, yang lalu membawanya ke hadapan Amangkurat II di Payak, Bantul. Akibat dari pemberontakan Trunojoyo yang padam ini, Kompeni akhirnya berhasil membuat Mataram yang dulu terus mengancamnya di masa Sultan Agung jadi menunduk pada Batavia.

 

Menurut seorang pengarang Belanda, Van der Chijs, yang menulis sebuah buku khusus yang didedikasikannya kepada Kapiten Jonker, banyak perwira Belanda tidak menyukai tentara pribumi yang mendapat tempat istimewa dan penghargaan tinggi karena keberaniannya di medan tempur. Isaac de Saint Martin adalah salah seorang perwira Belanda yang sangat dengki dan iri dengan kehebatan Jonker.

 

Kapiten Jonker pernah dikirim oleh Kompeni Belanda ke India dan Ceylon, dimana tangan kirinya lumpuh karena tertembak. Selain itu, ia juga dikirim ke Sumatera Barat tahun 1666 dibawah pimpinan Verspreet dan Poolman. Kemudian dikirim lagi ke Makasar, Ternate, Banda, Ambon dan Jawa Timur. Pasukan yang terdiri dari orang-orang Ambon yang dipimpinnya juga pernah menjadi pengawal pribadi Susuhunan Mataram. Dan, Kapiten Jonker berserta pasukan Ambonnya juga berhasil menangkap Trunojoyo. Kemudian, pada tahun 1681, Kapten Jonker pernah dikirim ke Palembang dan Jambi, namun segera disusul untuk ganti menghalau perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten (1682 sampai dengan 1683).

 

Kata Jonker bukanlah nama diri, melainkan gelaran, yaitu padanaan dari tamaela, gelaran kehormatan di Ambon pada jaman itu. Pada sebuah akte tertanggal 22 Nopember 1664, namanya ditulis Joncker Jouwa de Manipa (De Haan 1919:228 — 229). Dan, setelah Speelman meninggal, maka tidak ada lagi orang Belanda yang membela Kapten Jonker.

 

Syahdan, di bulan Agustus 1689, Kapiten Jonker beserta pasukannya mengamuk di Batavia karena merasa dikhianati, dihina, dan kecewa terhadap perlakuan orang-orang Belanda. Ia dituduh hendak membunuh semua orang Belanda di Batavia, sebab mereka beragama Kristen. Sedangkan Kapiten Jonker adalah orang Islam sedari lahirnya dulu di Pulau Manipa, Ambon.

 

Sebelumnya, Kapiten Jonker dan pasukannya memang juga terbilang sering mengamuk di Batavia. Dan, dikarenakan demikian seringnya ia mengamuk, ketika melihat pasukan Belanda muncul di kediamannya Jonker mengira pasukan itu datang sebagaimana biasanya, yakni untuk menenangkan orang-orang Ambon yang menjadi anak buahnya.

 

Ia tidak menyadari bahwa daerah Penjongkeran telah dikepung oleh pasukan-pasukan Belanda, termasuk juga kesatuan yang mendarat dari laut. Jonker bahkan sempat bersendau gurau dengan pasukan Belanda yang datang itu sebelum tiba-tiba ia ditembak. Kepala Kapiten Jonker lalu dipamerkan di pinggir jalan di daerah Kota (Nieupoort).




Setelah Kapiten Jonker tewas, 130 orang Ambon yang menjadi pasukannya dibantai dan mayatnya dicincang. Mereka yang melarikan diri juga terus dikejar oleh pasukan Belanda untuk dimusnahkan, sebab ada hadiah besar dari pemerintah Belanda bagi siapa saja yang dapat membunuh bekas pengikut Kapiten Jonker. Oleh Belanda, semua keluarga terdekat dan anak-anak dari Kapiten Jonker (kecuali anaknya yang terkecil) kemudian dibuang ke Ceylon dan Afrika, termasuk pula juru tulis dan pembantunya. Selanjutnya tanah, rumah, berikut semua harta bendanya, disita dan dibagikan kepada pasukan Belanda yang berjasa membunuhnya. (*)

Jurnalis : Bayu Widiyatmoko

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Bagus Maulana

Layout Infografis : Zakki Fauzi