Cornelis Speelman, Sang Penakluk Separuh Nusantara [Cerita Jakarta Lama - 03]

Kuatbaca

2 months ago

VOC sebagai perusahaan paling kaya di muka bumi tidak akan terwujud, jika Cornelis Speelman tidak membukakan jalan dengan cara menaklukkan separuh Nusantara. Taktik dalam ekspansionesme ala Speelman bukanlah implementasi strategi militer, melainkan taktik dagang dan jalur-jalur pembacaan sosial kerajaan Nusantara. Penaklukan dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan pemberontakan lokal. Meski demikian, ia dikenang sebagai pemimpin culas dalam catatan sejarah VOC.


 

Gubernur Jendral Cornelis Janszoon Speelman meninggal dunia dan digantikan oleh Johannes Camphuys di tahun 1684. Dengan begitu, terbongkarlah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Speelman. Ia memerintah tanpa menghiraukan nasehat Dewan Hindia dan banyak melakukan pembayaran dengan uang VOC, yang pada dasarnya tidak pernah ada untuk pekerjaannya pun. Speelman juga terbukti banyak melakukan penggelapan uang, dan ia juga pernah terlibat dalam perdagangan gelap ketika masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel (1665). Selain itu, selama masa kekuasaan Speelman, jumlah penjualan tekstil menurun sampai 90% dan monopoli candu berjalan tidak efektif.

 

Keculasan yang dilakukan Speelman berhasil diungkap oleh Isaac de Saint Martin. Ia adalah seorang perwira perang yang turut memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur dan Jawa Barat, dan konon memang merupakan musuh bagi karir kotor Speelman. Maka, di tahun 1685, semua peninggalan Speelman disita oleh negara. Dan, Gubernur Jenderal Camphuys juga menyingkirkan orang-orang dekat Speelman.

 

Semasa hidupnya di Batavia, Speelman bersama-sama dengan Arung Palakka dan Kapiten Jonker merupakan tokoh kunci bagi kemajuan VOC di Nusantara. Di antara reputasi mereka adalah mengalahkan perlawanan rakyat Minangkabau pasca Perjanjian Painan, menggulingkan kekuasaan Sultan Hasanuddin di Makassar, menumpas perlawanan Trunojoyo terhadap Mataram dan mengalahkan perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Oleh karena itu pula, Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker seolah-olah hanya menjadi boneka, sebab ketiganya menguasai pasukan dalam jumlah besar dan menjadi penunjang utama hegemoni VOC di Nusantara.

 

Setelah ketiadaan Speelman, Kapiten Jonker yang punya pengaruh kuat di Batavia disingkirkan, termasuk pasukannya yang militan. Kapiten Jonker, yang waktu itu sudah berusia 50 tahun, tewas di kediamannya di daerah Pejongkeran, Marunda. Ia terbukti berkomplot dengan Cornelis J. Speelman yang mengakibatkan kerugian besar bagi keuangan VOC. Ia adalah anak emas Gubernur Jenderal Speelman. Dan, berkat jasanya yang besar pada Kompeni, Kapiten Jonker telah menerima rantai kalung emas seharga 300 ringgit sebagai medali. Selama di Batavia, ia juga diangkat sebagai kepala orang-orang Ambon di Batavia semenjak tanggal 1 Januari 1665. Namun, akhir dari nasib Jonker tidak sebaik Arung Palakka.

 

Puncak karir Speelman didapat seiring dengan kematian Gubernur Jendral Maetsuycker pada 4 Januari 1678, yakni ketika pengaturan urusan Belanda beralih pada Rijklof van Goens, seorang pemimpin yang lebih berjiwa perang. Pada masa ini Speelman dipanggil untuk kembali ke Batavia dan menjadi anggota paling berpengaruh dalam Dewan Hindia. Karir Speelman menanjak dari seorang pemegang buku dagang, ke kapal, dan sebagai gubernur. Selanjutnya, ia menjadi laksamana di laut dan pemimpin ekspedisi. Menurut Wolter Robert van Hoevell, dia adalah salah satu pejabat (administratif) paling berpengetahuan yang pernah menjabat di Timur.

 

Cornelis Janszoon Speelman lahir pada 3 Maret 1628 sebagai putra seorang pedagang Rotterdam dan merupakan keturunan dari keluarga Speelman. Pada usia 16 tahun ia meninggalkan kapal Hillegersberg sebagai asisten dalam dinas VOC ke Jawa. Ia tiba di Batavia pada Mei 1645.

 

Tiga tahun sejak dari kedatangannya di Batavia, Speelman pun mulai duduk menjadi seorang pemegang buku. Lalu, pada 1649, ia menjadi seorang sub-pedagang (onderkoopman). Dan, di tahun 1651, ia diangkat menjadi sekretaris Dewan Hindia, dimana pada tahun yang sama ia juga melakukan perjalanan dengan utusan bernama Joan Cunaeus ke Persia dan menulis sebuah catatan perjalanan tentang hal itu.

 

Di tanah Persia ia mengunjungi reruntuhan Darius di Persepolis dan menyaksikan resepsi meriah yang diadakan oleh Syah Abbas II. Sebelum mengakhiri perjalanannya, ia dipromosikan menjadi pedagang (koopman) di tahun 1652. Dan, sekembalinya di Batavia, Speelman bekerja di kantor akuntan jenderal, yang sudah dipegangnya sejak lama dan akhirnya berhasil pada tahun 1657.

 

Speelman menikah pada tahun 1653. Ia menikah dengan Petronella Maria Wonderaer yang berusia lima belas tahun, putri seorang jenderal penerima/pelabuh (havenmeester) bernama Sebald Wonderaer. Di tahun 1659 ia pun menjadi "kapten perusahaan recehan" di Batavia. Dan, pada tahun 1661 ia menjadi alderman (anggota dewan) Batavia.

 

Pada 12 Juni 1663, Cornelis Speelman diangkat oleh Joan Maetsuycker sebagai gubernur dan direktur Coromandel. Namun, pada bulan September 1665, ia diskors oleh Heren XVII atas tuduhan melakukan perdagangan secara partikelir. Dia juga telah membeli berlian untuk istrinya yang dijual kembali karena istrinya tidak menyukainya. Terlepas dari protes kerasnya, pengadilan di Batavia menjatuhkan hukuman skorsing lima belas bulan dan denda 3.000 gulden yang diputuskan oleh pengadilan di Batavia.

 

Di akhir tahun 1677, Speelman dipanggil kembali ke Batavia, dan pada tanggal 18 Januari 1678 ia diangkat sebagai anggota dewan pertama dan direktur jenderal Hindia. Juga, masih di tahun 1678, ia diangkat menjadi presiden dewan penasehat di Batavia. Pengangkatannya sebagai gubernur jenderal menyusul pada 29 Oktober 1680; dalam posisi itu ia menggantikan Rijcklof van Goens pada 25 November 1681.

 

Sebelum menjadi gubernur jenderal, kiprah Speelman dalam menundukkan Jawa didapat dengan cara mengunci penguasa Mataram untuk bergantung pada kekuatan VOC. Kebehasilan Trunojoyo menjebol Kraton Mataram menjadi bukti bahwa keperkasaan Mataram hanyalah mitos belaka. Dan, bersama Jonker, Speelman berhasil menyudahi petualangan Trunojoyo.

 

Ia juga berhasil mengukuhkan kuasa VOC di wilayah Sumatera Barat yang disokong oleh Aceh, serta menaklukan Kesultanan Gowa di Makassar.

 

Sedangkan di masa pemerintahan Speelman sebagai gubernur jenderal, Sultan Ternate (Maluku Utara) ditaklukkan, dan sultan menyerahkan tanah-tanah milik kerajaannya kepada VOC dalam kepemilikannya. Lalu di tahun 1680 Kesultanan Banten yang menyatakan perang terhadap VOC, di tahun 1683 menyerah. Akibatnya, Inggris menghilang dari Banten pada 1684 dan pindah ke Bengkulu, yang jauh lebih tidak menguntungkan bagi mereka.

 

Namun demikian, dalam kurun waktu tahun 1683 sampai 1710, VOC mengalami masalah keuangan yang sangat berat di wilayah Asia. Di antara 23 kantornya, hanya tiga (Jepang, Surat dan Persia) yang mampu memberikan keuntungan; sembilan menunjukkan kerugian setiap tahun termasuk Ambon, Banda, Ternate, Makassar, Banten, Cirebon dan wilayah pesisir utara Jawa.



VOC banyak mengeluarkan biaya-biaya yang sangat tinggi akibat munculnya berbagai pemberontakan. Di samping itu, masalah keuangan VOC juga disebabkan oleh pengeluaran pribadi yang tidak efisien, kebejatan moral serta korupsi yang merajalela. Selain itu VOC juga menuntut semakin banyak kepada rakyat Jawa, sehingga menyulut pemberontakan yang terus berlanjut, dan oleh karena itu pengeluaran VOC terus-terusan membengkak. Ternyata pintu kemakmuran yang terbuka tetap lebih dulu dinikmati oleh tikus-tikus kastil.

 

Cornelis Speelman meninggal di kastil Batavia. Pemakaman berlangsung dengan sangat megah dan tidak ada biaya yang dikeluarkan. Dia disemayamkan di Kruiskerk, di mana 229 tembakan meriam disemburkan sebagai penghormatan. Di tangan Speelman, separuh dari Nusantara dapat ditaklukan, sehingga membuka jalan bagi VOC menjadi perusahaan terkaya di muka bumi. (*)