Profil Mahsa Amini, Wanita yang Tewas di Tangan Polisi hingga Memicu Protes Massal di Iran

Oleh Kuatbaca - 24 September 2022 00:44

TEHERAN – Kematian seorang wanita bernama Mahsa Amini yang tewas akibat dianiaya Polisi Moral Iran, belakangan telah memicu aksi protes besar-besaran di kota Kurdi dan menyebar ke 50 kota di Iran termasuk di ibu kota Teheran.


Wanita berumur 22 tahun dari keturunan Kurdistan itu awalnya didiagnosa meninggal dunia akibat gagal jantung, namun setelah ditindaklanjuti lebih lanjut ditemukan fakta bahwa Mahsa Amini tewas akibat dianiaya Polisi Moral Iran.


Hal inilah yang kemudian memicu para aktivis HAM dan perempuan menggelar aksi demo massal.


Mahsa Amini, yang juga dikenal dengan nama Jina, adalah seorang wanita yang berasal dari kota barat Saqqez di provinsi Kurdistan Iran.


Mahsa Amini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Namun kakaknya yang bernama Armin Amini, meninggal dunia sebelum menginjak usia remaja.


Mengutip dari Vogue, kronologi bermula ketika Mahsa Amini dan saudara laki-lakinya, Kiaresh Amini mengunjungi Teheran pada Selasa (13/9/2022) untuk menemui keluarga.


Namun polisi moral menangkap Mahesa lantaran dituduh mengenakan jilbab yang tidak sesuai aturan.


Ibu Mahsa Amini mengungkap bahwa putrinya saat itu sudah mengenakan jubah panjang yang longgar seperti yang dipersyaratkan dalam hukum Iran.


Tak lama dari itu, Mahsa Amini kemudian digiring oleh aparat ke pusat penahanan untuk menjalani arahan dengan menggunakan mobil van berwarna hijau dan putih yang menjadi ciri khas mobil patroli bimbingan.


Mahsa Amini dijanjikan pulang selama beberapa hari kedepan setelah mengikuti arahan dari otoritas terkait.


Sayangnya Mahsa tidak dapat keluar dengan selamat dari pusat penahanan itu, ia justru dilarikan ke rumah sakit usai dinyatakan mengalami gejala stroke dan epilepsi ketika sedang berada dalam tahanan polisi moral.


Setelah dirawat intensif selama tiga hari, nyawa Mahsa tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (16/9/2022).


"Setelah 48 jam dirawat pada hari Jumat, pasien mengalami serangan jantung lagi, karena kematian otak. Meskipun upaya tim medis, mereka gagal untuk menghidupkannya kembali dan pasien meninggal," jelas posting Instagram diunggah rumah sakit Kasra, tempat Mahsa dirawat.


Jenazah Mahsa kemudian dibawa ke kampung halamannya di Kota Haqqez dengan menggunakan pesawat kargo.


Pemakaman digelar pada Sabtu (17/9/2022), tak hanya dihadiri kerabat terdekat namun ribuan demonstran dari berbagai daerah juga turut menyambangi pemakaman untuk memberikan dukungan kepada keluarga Mahsa.


Meski Polisi moral Iran telah memberikan konfirmasi terkait kematian Mahsa, namun saksi mata sekaligus adik korban yakni Kiaresh mengklaim bahwa kematian Mahsa bukan karena gagal jatung dan stroke melainkan karena dipukuli saat dibawa ke pusat penahanan, ini dibuktikan dengan adanya bengkak dan memar yang menyelimuti tubuh Mahsa.


Mendukung pernyataan Kiaresh, sepuluh dokter yang menganalisis foto-foto Mahza dari rumah sakit Kasra mengatakan bahwa kematian tersebut disebabkan karena adanya tanda-tanda pukulan pada kepala.


Mereka menegaskan, stroke tidak mungkin menyebabkan pendarahan maupun perubahan pada warna kulit.


Kematian Mahsa Amini yang penuh misteri kemudian memicu meletusnya aksi demo masal di luar konsulat Iran seperti di Istanbul, Teheran dan sekitarnya. Ribuan wanita bahkan nekat turun ke jalan untuk memprotes kematian Mahsa Amini.


Di tempat lain para wanita terlihat membakar jilbab mereka sambil berteriak “Perempuan, hidup, kebebasan” dan “Kematian”.


Mereka menyayangkan sikap polisi moral yang seharusnya bertugas melindungi para perempuan di Iran , tetapi justru mengintimidasi mereka. Penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan bahkan turut menyampaikan rasa keprihatinannya terkait berita kematian Amini.




Sumber: https://www.tribunnews.com/internasional/2022/09/23/profil-mahsa-amini-wanita-yang-tewas-di-tangan-polisi-hingga-memicu-protes-massal-di-iran?page=all


Tag :

Iranmahsa amini